Ahli Segala Hal

 



 

Di negeri percakapan yang tak pernah sepi,

aku sering bertemu seorang ahli.

Aneh memang,

ia ahli sebelum belajar,

bijak sebelum berpikir,

dan paling mengerti sebelum mendengar.

 

Setiap persoalan mampir ke mejanya,

langsung selesai, setidaknya di mulutnya.

Tentang ekonomi, ia punya rumus.

Tentang pendidikan, ia punya teori.

Tentang hukum, ia punya tafsir.

Tentang masa depan, ia punya ramalan.

Tentang hidup orang lain,

ia bahkan punya keputusan.

 

Ia berjalan membawa koper besar

berisi pendapat-pendapat.

Sayangnya, koper itu hampir kosong

dari tanggung jawab.

 

Kalau ada diskusi,

dialah yang paling depan.

Kalau ada pujian,

dialah yang paling dekat.

Tapi kalau ada risiko,

entah mengapa langkahnya menjadi sangat demokratis,

mundur bersama-sama.

 

Ia gemar mengajari orang berenang

dari atas jembatan.

Memberi petunjuk arah

tanpa pernah berjalan di jalan itu.

Membagi resep keberanian

dengan tangan yang tetap rapi di saku.

 

Kadang aku berpikir,

barangkali yang paling aman di negeri ini

bukanlah brankas atau lemari besi,

melainkan posisi di belakang layar.

Di sana seseorang bisa tampak seperti pejuang,

tanpa harus terkena debu perjuangan.

 

Ketika keadaan tenang,

ia berbicara seperti singa.

Ketika keadaan rumit,

ia menjelma menjadi pengamat.

Saat keadaan membaik,

ia hadir untuk menerima tepuk tangan.

Saat keadaan memburuk,

ia hadir untuk mencari siapa yang bisa disalahkan.

 

Ajaibnya lagi,

ia selalu punya kalimat penyelamat.

"Sudah saya bilang dari awal."

Kalimat yang paling sering lahir

setelah semuanya selesai.

 

Padahal dunia tidak terlalu membutuhkan

orang yang pandai menjelaskan hujan

setelah banjir datang.

Dunia lebih membutuhkan mereka

yang bersedia basah bersama-sama.

 

Maka aku belajar satu hal sederhana,

jangan terlalu silau pada orang

yang selalu tampak paling tahu.

Sebab pengetahuan yang sesungguhnya

biasanya tumbuh bersama kerendahan hati.

 

Dan keberanian yang sesungguhnya

jarang berteriak di depan mikrofon.

Ia bekerja diam-diam,

pasang badan ketika diperlukan,

lalu pulang tanpa meminta disebut.

 

Sementara sebagian yang lain

tetap sibuk memelihara citra sebagai pahlawan.

Pahlawan yang gagah di atas kata-kata,

perkasa di atas pendapat,

dan luar biasa di atas kertas.

 

Hanya saja, setiap zaman akhirnya mengajarkan,

tidak semua yang paling keras bersuara adalah yang paling berani.

Karena kadang-kadang,

yang paling sering mengaku memegang kemudi,

justru orang pertama yang mencari pelampung

saat perahu mulai kemasukan air.

Post a Comment

Previous Post Next Post