Air Mata yang Terlambat

 


Saya pernah berdiri di sudut sebuah resepsi pernikahan. Di pelaminan, kedua mempelai tak berhenti tersenyum. Ratusan tamu datang silih berganti, bersalaman, berfoto, menikmati hidangan, lalu pulang membawa kesan bahwa pesta itu berlangsung begitu sempurna. Tetapi mata saya justru tertuju kepada orang-orang yang tak pernah masuk ke dalam bingkai foto. Panitia perlengkapan berlari memastikan kursi cukup, listrik menyala, pengeras suara berfungsi. Panitia konsumsi menghitung piring, mengisi ulang hidangan, memastikan tak ada tamu yang kecewa. Mereka berkeringat agar semua orang tetap tersenyum.


Di tengah kesibukan itu, azan Zuhur berkumandang. Suaranya ada, tetapi nyaris tenggelam oleh musik, suara pembawa acara, dan hiruk-pikuk pesta. Sebagian mungkin sempat menunaikan salat, tetapi sebagian lainnya berkata dalam hati, "Nanti setelah acara selesai." Ada pula yang menahan langkah karena khawatir riasan wajah rusak sebelum seluruh rangkaian acara berakhir. Waktu terus berjalan. Tamu terus berdatangan. Senyum terus dibagikan. Tanpa terasa, Zuhur pun berlalu. Saat itulah saya bertanya kepada diri sendiri, mengapa kita begitu takut mengecewakan tamu, tetapi kadang begitu mudah menunda panggilan Tuhan?


Bukankah ini potret kehidupan kita? Kita rela begadang demi pekerjaan, berlari demi jabatan, bahkan mempertaruhkan kesehatan demi memenuhi harapan manusia. Ketika atasan memanggil, kita segera datang. Ketika pelanggan menghubungi, kita cepat menjawab. Ketika tamu meminta sesuatu, kita berusaha memenuhi sebaik mungkin. Namun ketika Allah memanggil lima kali sehari, sering kali jawaban kita hanya satu, "Sebentar lagi." Padahal, dalam hidup, tidak ada kata yang lebih sering berubah menjadi penyesalan selain kata sebentar.


Muhasabah bukanlah tentang menyalahkan mereka yang sibuk bekerja atau melayani sebuah acara. Islam justru mengajarkan agar setiap amanah ditunaikan dengan sebaik-baiknya. Namun ada satu amanah yang tidak boleh kalah oleh amanah lainnya, yaitu memenuhi panggilan Rabb yang memberi kita kehidupan. Sebab keberhasilan sebuah acara hanya akan dikenang beberapa hari, tetapi satu sujud yang dijaga tepat pada waktunya bisa menjadi bekal ketika seluruh pesta dunia telah usai.


Ironisnya, kita hidup pada zaman ketika penampilan lebih sering diprioritaskan daripada hati. Kita cemas jika pakaian kusut, riasan luntur, atau dekorasi tidak sempurna. Namun kita jarang cemas ketika hati mulai keras, doa terasa hambar, dan waktu salat bergeser hanya karena urusan dunia. Kita pandai menjaga citra di hadapan manusia, tetapi sering lupa menjaga hubungan dengan Allah. Barangkali inilah kemiskinan yang paling tidak disadari: hati terlihat penuh, padahal sedang kosong.


Tulisan ini bukan untuk menunjuk siapa yang salah, karena boleh jadi sayalah orang yang paling sering menunda. Ini hanyalah sebuah cermin. Sebab cermin tidak pernah menghakimi. Ia hanya menunjukkan apa adanya. Dan sering kali yang paling sulit kita tatap bukan wajah sendiri, melainkan kenyataan bahwa kita semakin sibuk mengurus kehidupan, tetapi semakin jarang mempersiapkan kematian.


Suatu hari nanti, pesta paling ramai yang akan kita hadiri adalah ketika orang-orang mengantar jenazah kita menuju liang lahat. Saat itu tak ada lagi dekorasi, tak ada musik, tak ada hidangan, tak ada tepuk tangan. Yang ikut bersama kita hanyalah amal yang pernah kita kerjakan. Maka jangan sampai kita begitu sibuk membuat manusia tersenyum, sementara Allah berkali-kali memanggil, tetapi kita terus berkata, "Tunggu sebentar."


Karena bisa jadi, air mata yang paling mahal bukanlah air mata ketika kehilangan orang yang kita cintai. Melainkan air mata yang menetes saat kita sadar, selama ini kita lebih rajin memenuhi undangan manusia daripada memenuhi undangan Tuhan. Dan alangkah menyedihkannya jika kesadaran itu baru datang ketika waktu untuk bersujud... telah habis.

 

Post a Comment

Previous Post Next Post