Budaya Tidak Pernah Kehilangan Penonton

 


Ada pemandangan yang membuat saya beberapa kali berhenti melangkah di tengah ramainya sebuah resepsi pernikahan. Bukan karena beharak yang megah, bukan pula karena butetah yang sarat makna, dan bukan pula semata-mata karena hidangan khas Lampung yang menggugah selera. Yang menyita perhatian adalah kerumunan orang di depan pedandanan adat Sai Batin. Mereka bergantian berfoto, tersenyum, menunggu giliran dengan sabar, seolah sedang menemukan sesuatu yang selama ini mereka rindukan.


Pemandangan saya  saksikan pada Resepsi Pernikahan Rafif Subana Abdun Bilqolbi, S.Akt. dan Resti Ryhanisa, S.I.Kom., Minggu, 5 Juli 2026, di Gedung Mahligai Agung Convention Hall UBL, Bandar Lampung. Di tengah gemerlap dekorasi dan lalu lalang tamu, justru sudut yang menghadirkan budaya itulah yang paling ramai. Tidak ada aba-aba. Tidak ada yang mengarahkan. Semua datang karena ingin mengabadikan momen bersama sesuatu yang lebih tua daripada pesta itu sendiri: warisan budaya Lampung.




Di hadapan mereka berdiri sebuah pedandanan yang anggun. Warna merah yang berani berpadu dengan emas yang megah, dihiasi sulaman tapis yang memenuhi hampir setiap bagiannya. Di atas singgasana, payung-payung kebesaran adat menaungi ruang yang disiapkan bagi kedua mempelai. Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya pelaminan. Namun bagi masyarakat Lampung, ia adalah ruang tempat adat menitipkan pesan kepada setiap generasi.


Pedandanan bukan sekadar kain yang di rangkai. Ia adalah singgasana amanah. Di sanalah dua insan dipersatukan bukan hanya oleh cinta, tetapi juga oleh tanggung jawab. Di dalam pedandanan biasanya duduk di atasnya dua insan yang sedang  menerima kehormatan sekaligus memikul kewajiban menjaga keluarga, menghormati orang tua, memuliakan pasangan, dan meneruskan nilai-nilai yang diwariskan para leluhur.


Payung-payung adat yang menaunginya seakan mengingatkan bahwa semakin tinggi kehormatan seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya melindungi.


Bagi masyarakat Sai Batin yang tumbuh di pekon, pemandangan seperti ini mungkin sudah biasa. Namun bagi masyarakat perkotaan, terlebih tamu dari luar Lampung, pedandanan menjadi magnet yang sulit diabaikan. Saya teringat seorang kerabat dari Palembang yang hadir bersama istri dan putrinya yang telah kuliah. Sang istri berkali-kali mengajak keluarganya berfoto di depan pedandanan. Berkali-kali pula ia berpindah mencari sudut terbaik, meski di belakangnya antrean terus bertambah. Dari wajah mereka terlihat jelas, yang diburu bukan sekadar gambar untuk media sosial. Mereka sedang membawa pulang pengalaman bertemu dengan sebuah identitas.


Di depan pedandanan berdiri photobooth berlatar adat Sai Batin dengan siger berlekuk tujuh menghiasi bagian atasnya. Antrean di tempat itu nyaris tidak pernah putus. Ironisnya, banyak photobooth modern sering kali hanya menjadi pelengkap acara, tetapi ketika yang ditampilkan adalah simbol budaya sendiri, orang rela berdiri lama menunggu giliran. Bahkan tanpa disadari, antrean menuju pelaminan menjadi lebih tertib karena sebagian tamu menikmati ruang budaya tersebut.


Kejutan lain datang dari cara tuan rumah menghadirkan budaya. Mereka tidak berhenti pada dekorasi. Mereka menghadirkan Muli Lampung Barat, Jihan, dan Mekhanai Lampung Barat, Fernando, yang membaur bersama panitia penyambut tamu. Dengan busana adat Lampung, keduanya menyambut setiap tamu dengan senyum dan sapaan hangat. Mereka bukan sekadar penghias acara, melainkan wajah budaya yang hidup. Banyak tamu berhenti sejenak untuk berbincang, kemudian mengabadikan momen bersama mereka sebelum menuju pelaminan.



Di sisi lain berdiri patung peraga Sekura Kecah yang tak kalah ramai dikerumuni pengunjung. Anak-anak mendekat penuh rasa ingin tahu. Orang dewasa pun ikut mengangkat telepon genggam mereka. Kamera bekerja tanpa henti. Lagi-lagi budaya menjadi pusat perhatian, tanpa perlu pengeras suara, tanpa promosi berlebihan.



Semakin lama saya memperhatikan suasana itu, semakin terasa bahwa masyarakat sebenarnya tidak pernah menjauh dari budaya. Yang menjauh justru sering kali cara kita memperlakukan budaya. Kita terlalu sering menyimpannya di balik acara seremonial, memanggilnya hanya ketika ada festival, lalu melupakannya ketika kehidupan kembali berjalan seperti biasa. Kita sibuk mengatakan generasi muda tidak peduli, padahal mungkin kita sendiri yang terlalu pelit memberi mereka ruang untuk bertemu dengan budayanya.


Resepsi Rafif dan Resti memberi pelajaran yang sederhana, tetapi sangat berharga. Ketika pedandanan, siger, tapis, Sekura, Muli, dan Mekhanai dihadirkan dengan tulus, masyarakat datang sendiri. Mereka tidak merasa sedang mengikuti pelajaran kebudayaan. Mereka hanya menikmati keindahannya. Tanpa sadar, mereka sedang belajar mencintai identitasnya sendiri.


Mungkin inilah bentuk pemberdayaan budaya yang sesungguhnya. Bukan sekadar seminar yang dipenuhi teori, bukan pula pidato panjang tentang pentingnya melestarikan warisan leluhur. Budaya cukup diberi tempat yang layak. Dihadirkan dengan hormat. Dibiarkan menyapa masyarakat. Selebihnya, masyarakat akan menemukan jalannya sendiri untuk mencintainya.


Sering kali kita cemas budaya akan kalah oleh zaman. Kita takut tradisi tenggelam oleh modernitas. Padahal yang saya lihat hari itu justru sebaliknya. Di tengah telepon genggam yang sibuk merekam, di tengah media sosial yang haus akan gambar, yang paling banyak diburu justru simbol-simbol budaya. Teknologi ternyata tidak selalu menjadi lawan tradisi. Ia bisa menjadi jembatan yang memperkenalkan budaya kepada lebih banyak orang, selama yang kita tampilkan bukan sekadar dekorasi, melainkan makna.


Resepsi itu akhirnya mengajarkan satu hal yang sulit dibantah.

Budaya tidak pernah kehilangan penonton.

Yang sering hilang hanyalah keberanian kita untuk menampilkannya dengan bangga.

Sebab budaya tidak meminta panggung yang mewah. Ia hanya membutuhkan ruang untuk hadir. Ketika ruang itu diberikan dengan hati, orang akan datang, mengantre, tersenyum, mengabadikannya, lalu pulang membawa kebanggaan.

Dan mungkin, itulah kemenangan paling sunyi dari sebuah pesta pernikahan. Di saat musik akan berhenti, bunga akan layu, dan dekorasi akan dibongkar, budaya justru pulang bersama para tamu—tersimpan dalam foto, dalam ingatan, dan semoga, dalam hati.

 

Post a Comment

Previous Post Next Post