Suatu hari saya berkunjung ke sebuah
lembaga yang terlihat begitu sibuk. Telepon berdering tanpa henti. Rapat datang
silih berganti. Agenda penuh. Laporan menumpuk. Semua orang tampak bekerja
keras. Namun semakin lama berada di sana, semakin terasa ada sesuatu yang
hilang. Mereka bekerja dalam ruangan yang sama, tetapi tidak dalam hati yang
sama. Percakapan seperlunya. Senyum sekadarnya. Setiap orang sibuk dengan
urusannya sendiri. Individualisme tumbuh pelan-pelan, lalu dianggap sebagai hal
yang biasa.
Belakangan saya memahami
penyebabnya. Selama bertahun-tahun lembaga itu hampir tidak pernah membangun
kebersamaan. Tidak ada waktu untuk sekadar duduk makan bersama. Tidak ada ruang
refleksi. Tidak ada permainan yang mencairkan sekat. Tidak ada gathering yang
membuat orang kembali mengenal rekannya sebagai manusia, bukan sekadar jabatan.
Semua dianggap tidak penting. Sang pemimpin meyakini bahwa team building
hanya membuang waktu dan menghabiskan anggaran. Yang penting pekerjaan selesai.
Yang penting target tercapai.
Target memang tercapai.
Laporan memang selesai.
Tetapi satu demi satu hati mulai
menjauh.
Orang-orang hadir setiap pagi.
Namun tidak lagi hadir dalam
perjuangan yang sama.
Ironisnya, lembaga seperti inilah
yang kemudian berbicara tentang pemberdayaan masyarakat. Mereka mengajak
masyarakat bergotong royong, membangun kepercayaan, dan menguatkan kebersamaan.
Padahal di dalam rumahnya sendiri, kebersamaan perlahan kehilangan tempat.
Bukankah sulit mengajak orang lain menyalakan pelita jika ruang kita sendiri
masih gelap?
Pohon tidak tumbuh karena daunnya,
tetapi karena akarnya. Begitu pula pemberdayaan. Kita sering sibuk menyiram
daun. Program diperbaiki, strategi diperbarui, target ditinggikan, laporan
disempurnakan. Namun akar yang menghidupi semuanya justru dibiarkan mengering.
Akar itu bernama hati.
Karena itu, membangun kebersamaan
bukanlah selingan di antara pekerjaan. Itulah pekerjaan yang sering terlupakan.
Duduk makan bersama, menyeruput kopi, bermain bersama, atau berkumpul untuk
berefleksi bukan sekadar mengisi waktu. Di sanalah hati saling mengenal,
prasangka mulai luruh, dan kepercayaan tumbuh. Tim yang kuat tidak dibentuk
oleh banyaknya rapat, tetapi oleh banyaknya ruang untuk saling memahami.
Yang lebih mengkhawatirkan bukanlah
tim yang sering berbeda pendapat, melainkan tim yang kehilangan keberanian
untuk berkata jujur. Semua melihat ada perilaku yang tidak lagi sejalan dengan
budaya organisasi, tetapi semua memilih diam. Kritik dianggap ancaman. Masukan
dianggap serangan. Padahal tim yang sehat bukanlah tim yang bebas dari kritik,
melainkan tim yang berani saling menjaga. Berani berkata, "Sahabat,
langkahmu mulai bergeser." Dan sama beraninya menjawab, "Terima
kasih. Saya akan memperbaikinya."
Budaya organisasi tidak dibangun
oleh slogan yang terpajang di dinding. Budaya dibangun oleh keberanian
menyampaikan kebenaran dengan kasih, kejujuran mengakui kekurangan, dan
kerendahan hati untuk berubah. Sebab ego adalah lawan paling sunyi dalam setiap
organisasi. Ia tidak berteriak. Tetapi perlahan merobohkan kebersamaan dari
dalam.
Pemberdayaan selalu memiliki
urutannya sendiri.
Bukan otot.
Bukan otak.
Tetapi hati.
Hati melahirkan pikiran.
Pikiran menggerakkan tangan.
Tangan menghadirkan perubahan.
Membalik urutan itu hanya akan
melahirkan kesibukan.
Bukan pemberdayaan.
Mungkin itulah sebabnya ada tim
kecil yang mampu mengubah wajah sebuah desa, sementara organisasi besar hanya
menghasilkan tumpukan laporan. Yang membedakan bukan anggarannya. Bukan pula
ilmunya. Yang membedakan adalah kualitas hati. Sebab masyarakat tidak sedang
mencari orang yang paling pintar. Mereka mencari orang-orang yang paling tulus,
yang berani mengoreksi dirinya sebelum mengoreksi orang lain, dan lebih sibuk
membangun hati daripada membangun citra.
Maka sebelum bertanya mengapa
masyarakat belum berdaya, mungkin ada satu pertanyaan yang lebih layak kita
ajukan kepada diri sendiri.
Apakah
kita sedang membangun tim, atau sekadar mengumpulkan orang?
Sebab hanya ketika hati bertumbuh,
kepercayaan akan berakar. Ketika kepercayaan berakar, keberanian untuk saling
mengingatkan akan tumbuh. Dan ketika keberanian itu hidup, pemberdayaan tidak
lagi menjadi proyek yang selesai oleh anggaran, melainkan jejak yang tinggal
dalam kehidupan manusia.
Post a Comment