Ketika Pagar Memakan Tanaman, Siapa Lagi yang Dipercaya?

 


Kepercayaan publik ibarat kaca bening. Bertahun-tahun dipoles agar berkilau, tetapi cukup sekali dijatuhkan oleh tangan orang dalam, ia pecah berkeping-keping. Yang memprihatinkan, pecahan itu bukan melukai orang yang menjatuhkannya, melainkan melukai seluruh lembaga yang menaunginya.


Sebuah lembaga negara tidak pernah dinilai dari visi yang dibingkai rapi di ruang rapat. Ia dinilai dari perilaku orang-orang yang mengenakan identitasnya. Seragam, lencana, logo, dan slogan hanyalah kemasan. Isinya adalah integritas. Ketika isi mulai busuk, semahal apa pun kemasannya, baunya tetap akan tercium.


Tidak sedikit lembaga yang hari ini sibuk membangun citra, tetapi lupa membangun karakter. Mereka mengecat tembok, tetapi membiarkan pondasinya retak. Mereka berlomba membuat aplikasi, digitalisasi, zona integritas, dan berbagai slogan pelayanan. Namun ketika satu demi satu oknum tersandung persoalan hukum atau etik, publik kembali bertanya, jangan-jangan yang berubah hanya cara membungkusnya, bukan cara bekerjanya.


Setiap kali muncul kasus yang melibatkan pejabat publik atau aparat penegak hukum dan menjadi perhatian masyarakat, yang sebenarnya ikut diadili bukan hanya orangnya. Nama lembaganya ikut duduk di kursi pesakitan opini publik. Sekalipun proses hukum harus dihormati dan asas praduga tak bersalah tetap dijunjung tinggi, kepercayaan masyarakat telanjur terkikis. Sebab rakyat menilai bukan hanya putusan pengadilan, tetapi juga kualitas teladan.


Yang lebih ironis, kadang kebusukan itu justru bocor dari keran paling kecil. Seorang pegawai level bawah, tanpa merasa sedang membuka aib, bercerita bahwa meskipun lelang sudah berbasis elektronik, tetap saja ada oknum yang bisa mengatur siapa yang akan menang karena semuanya sudah "terkondisi". Entah benar atau sekadar persepsi, kalimat sederhana seperti itu jauh lebih merusak daripada seribu kritik di media sosial. Sebab masyarakat selalu percaya bahwa dapur paling tahu aroma masakannya sendiri.


Begitulah awal runtuhnya sebuah institusi. Bukan ketika demonstrasi memenuhi jalan. Bukan ketika media menurunkan berita. Tetapi ketika orang-orang di dalamnya mulai kehilangan rasa malu terhadap penyimpangan. Saat pelanggaran berubah menjadi kebiasaan, kebiasaan berubah menjadi budaya, dan budaya akhirnya dianggap sebagai prosedur.


Lalu para pemimpin berdiri di podium, berbicara tentang integritas, akuntabilitas, transparansi, dan pelayanan prima. Kata-katanya terdengar indah, tetapi contoh hidupnya terdengar lebih nyaring. Sebab bawahan belajar bukan dari pidato, melainkan dari apa yang setiap hari mereka lihat. Perintah yang tidak dicontohkan hanyalah gema yang memantul di dinding ruang rapat, lalu menghilang tanpa bekas.


Pemimpin adalah cermin. Jika cerminnya retak, jangan salahkan wajah yang tampak berantakan. Jika pemimpinnya permisif, jangan berharap bawahannya berani berkata tidak kepada penyimpangan. Sebaliknya, satu pemimpin yang tegas dan bersih sering kali lebih ampuh daripada seratus surat edaran tentang integritas.


Kepercayaan publik tidak pernah dibangun oleh baliho, iklan layanan masyarakat, atau unggahan media sosial. Ia lahir dari keputusan-keputusan kecil yang jujur, dari keberanian menghukum kawan sendiri ketika bersalah, dan dari keteladanan yang tidak berubah meski lampu kamera telah padam.


Sebab rakyat bukan sedang mencari lembaga yang tanpa cela. Rakyat hanya ingin yakin bahwa ketika ada yang busuk, pemimpinnya tidak ikut menutup hidung.


Ingatlah, sebuah kapal tidak tenggelam karena air di sekelilingnya. Kapal tenggelam karena air dibiarkan masuk ke dalamnya. Begitu pula lembaga negara. Ia tidak akan hancur karena kritik dari luar, tetapi karena pembiaran terhadap kebusukan dari dalam.


Dan sejarah selalu mencatat satu hal yang sama: sebuah institusi tidak mati ketika kehilangan anggaran, tidak pula ketika kehilangan gedung. Ia benar-benar mati pada hari rakyat berhenti mempercayainya. Saat itu terjadi, jabatan masih ada, kantor masih berdiri, upacara masih berlangsung, tetapi sesungguhnya yang tersisa hanyalah bangunan tanpa kehormatan.

 

Post a Comment

أحدث أقدم