Ada
orang yang bangga dengan gelarnya. Ada yang percaya diri karena luas
pengetahuannya. Ada pula yang merasa kecerdasannya diukur dari kepiawaiannya
berbicara. Semua itu memang dapat menjadi kelebihan. Namun, jangan terburu-buru
menganggapnya sebagai sumber wibawa.
Sebab
hidup sering menunjukkan kenyataan yang berbeda.
Tidak
sedikit orang yang hanya tamat SD, SMP, atau SMA, tetapi ketika mereka
berbicara, orang lain memilih mendengar. Bukan karena takut, melainkan karena
hormat. Mereka tidak pandai merangkai istilah-istilah ilmiah, tetapi pandai
menjaga lisan. Mereka mungkin tidak menguasai banyak teori, tetapi mampu
menguasai dirinya sendiri. Kehadirannya menenangkan, nasihatnya meneduhkan, dan
sikapnya lebih fasih daripada ribuan kata.
Ternyata,
wibawa tidak lahir dari tingginya gelar, melainkan dari tingginya kesadaran.
Kesadaran
itu muncul ketika seseorang mulai mengenal dirinya, memahami kekuatan sekaligus
kelemahannya, membaca lingkungan dengan jernih, lalu menjadikan kejujuran,
keadilan, kasih sayang, dan tanggung jawab sebagai nilai hidup. Inilah
kecerdasan yang tidak selalu tercetak di ijazah, tetapi terbaca jelas dalam
akhlak.
Sayangnya,
tidak semua orang sabar menjalani proses itu.
Sebagian
lebih memilih jalan pintas agar terlihat cerdas. Mereka memotong pembicaraan
agar tampak paling tahu. Mereka meremehkan pendapat orang lain agar terlihat
paling benar. Mereka mengoreksi untuk mempermalukan, menyalahkan untuk
meninggikan diri, bahkan menjadikan kekurangan orang lain sebagai panggung bagi
egonya.
Mereka
mengira itulah kecerdasan.
Padahal,
bagi orang-orang yang telah tercerahkan, pemandangan seperti itu justru
memperlihatkan bahwa ego sedang menyamar menjadi ilmu. Semakin seseorang
membutuhkan orang lain untuk direndahkan agar dirinya tampak tinggi, semakin
jelas bahwa ia belum benar-benar berdamai dengan dirinya sendiri.
Matahari
tidak pernah memadamkan bintang agar dirinya terlihat bercahaya. Laut tidak
mengejek sungai agar tampak lebih luas. Pohon yang sarat buah justru semakin
merunduk. Alam seolah sedang mengajarkan bahwa yang benar-benar besar tidak pernah
sibuk mengecilkan yang lain.
Orang
yang tercerahkan memahami bahwa kecerdasan bukan tentang memenangkan
perdebatan, melainkan memenangkan diri sendiri. Ia tidak haus pengakuan, tidak
gelisah ketika tidak dipuji, dan tidak sibuk mencari tepuk tangan. Semakin luas
ilmunya, semakin lembut tutur katanya. Semakin dalam pemahamannya, semakin
rendah hatinya.
Para
ulama mewariskan sebuah ungkapan yang terus hidup hingga kini, "Man
'arafa nafsahu faqad 'arafa rabbahu"—siapa yang mengenal
dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.
Ungkapan
itu bukan sekadar kalimat indah. Ia adalah peta perjalanan manusia. Ketika
seseorang mengenal dirinya, ia menyadari betapa banyak yang belum ia ketahui.
Kesadaran itulah yang melahirkan kerendahan hati. Dari kerendahan hati lahir
kebijaksanaan. Dari kebijaksanaan tumbuh wibawa.
Karena
itu, orang yang benar-benar berwibawa tidak sibuk membuktikan dirinya paling
pintar. Ia lebih sibuk memperbaiki dirinya daripada mencari kesalahan orang
lain. Ia memahami bahwa ilmu adalah cahaya, sedangkan ego adalah asap. Ketika
asap memenuhi ruangan, cahaya sebesar apa pun akan tampak redup.
Pada
akhirnya, gelar hanyalah identitas. Pengetahuan hanyalah bekal. Kepiawaian
berbicara hanyalah alat. Semuanya akan kehilangan makna apabila tidak
melahirkan kebijaksanaan.
Ilmu membuat seseorang mengetahui banyak hal. Tetapi
mengenal diri membuatnya tahu di mana ia harus berhenti merasa paling tahu.
Sebab kebodohan yang paling berbahaya bukanlah tidak berilmu, melainkan merasa
sudah tidak perlu lagi belajar. Dari sanalah kesombongan tumbuh, dan pada saat
yang sama, wibawa perlahan runtuh.
إرسال تعليق