Kita Semua Bisa Berbahasa Indonesia, Benarkah?

 


Bahasa Indonesia barangkali menjadi satu-satunya mata pelajaran yang paling jarang membuat orang tua gelisah. Nilai Matematika turun, anak segera dicarikan les. Nilai Fisika tertinggal, buku latihan pun bertambah. Tetapi ketika nilai Bahasa Indonesia biasa saja, banyak yang hanya tersenyum. Toh setiap hari dipakai. Toh kita lahir di Indonesia. Bahkan ada yang beranggapan, tanpa dipelajari pun setiap orang pasti bisa berbahasa Indonesia. Benarkah sesederhana itu?

 

Barangkali sejak lama kita telah keliru membedakan antara berbicara dan berbahasa. Berbicara hanyalah kemampuan mengeluarkan kata, sedangkan berbahasa adalah kemampuan menyampaikan makna. Kita mungkin fasih mengucapkan kalimat, tetapi belum tentu mampu membuat orang lain memahami maksud kita. Kita mungkin lancar berbicara, tetapi belum tentu dapat menghadirkan kepercayaan melalui kata-kata. Padahal, pelajaran Bahasa Indonesia tidak sekadar mengajarkan cara menyusun kalimat. Di dalamnya ada tata bahasa, morfologi, sintaksis, diksi, ragam bahasa, hingga kesopanan berbahasa. Semuanya bukan sekadar materi ujian, melainkan bekal agar pikiran tersampaikan dengan utuh dan manusia tetap saling menghormati.

 

Suatu sore di sebuah warung, dua orang hampir baku hantam hanya karena satu kalimat. Yang satu bermaksud bercanda, yang lain merasa dihina. Suara meninggi, kursi bergeser, tangan mulai mengepal. Orang-orang berdatangan melerai. Setelah keduanya diberi kesempatan menjelaskan, suasana perlahan mencair. Tidak ada niat merendahkan. Tidak ada kebencian yang disimpan. Yang terjadi hanyalah sebuah kalimat yang dipahami secara berbeda. Pertengkaran itu nyaris pecah bukan karena mereka saling membenci, melainkan karena bahasa gagal menjembatani maksud di antara keduanya. Bukankah peristiwa seperti itu sering kita jumpai? Tidak sedikit perselisihan lahir bukan karena perbedaan pendapat, melainkan karena perbedaan pemahaman. Tidak sedikit pula seseorang dianggap tidak jujur, padahal yang lemah bukan integritasnya, melainkan kemampuannya menjelaskan. Yang ingin mengingatkan terdengar menghina. Yang ingin bercanda berubah menjadi menyakitkan. Yang ingin meluruskan dianggap menyerang. Yang ingin berkata benar justru kehilangan kepercayaan. Bukan karena isi pikirannya salah, tetapi karena bahasanya gagal mengantarkan maksud.

 

Sejarah bangsa ini memperlihatkan kenyataan yang sama. Gagasan yang besar tidak akan banyak berarti apabila tidak mampu disampaikan dengan baik. Kita mengenang Ir. Sukarno bukan hanya karena keluasan pandangan dan keberaniannya memimpin bangsa, tetapi juga karena kepiawaiannya merangkai kata yang mampu membangkitkan semangat jutaan rakyat. Pada masa kini, banyak orang juga mengenal Anies Baswedan sebagai sosok yang mampu menyampaikan pikiran secara runtut, tenang, dan mudah dipahami. Orang mungkin berbeda dalam menilai pemikiran maupun kebijakan para pemimpin, tetapi ada satu pelajaran yang dapat dipetik: pengetahuan yang luas akan lebih bermakna ketika ditopang oleh kemampuan berbahasa yang baik. Sebab ilmu yang tidak dapat dijelaskan akan sulit dipahami, sedangkan gagasan yang disampaikan dengan bahasa yang jernih lebih mudah diterima, diperdebatkan secara sehat, bahkan menggerakkan banyak orang.

 

Hari ini satu kalimat dapat berkeliling dunia hanya dalam hitungan detik. Satu unggahan mampu mengundang ribuan tafsir. Satu komentar dapat merusak hubungan yang dibangun bertahun-tahun. Anehnya, justru pada zaman seperti ini pelajaran Bahasa Indonesia sering dianggap tidak sepenting pelajaran lain. Padahal yang paling sering kita gunakan dalam kehidupan justru bahasa. Kita belajar Matematika agar tidak salah menghitung. Kita belajar Fisika agar tidak keliru memahami hukum alam. Lalu mengapa kita merasa tidak perlu belajar bahasa, padahal dengannya kita menjaga nama baik, membangun kepercayaan, mendidik anak, menghormati orang tua, menyelesaikan persoalan, bahkan merawat persaudaraan?

 

Barangkali karena kita terlalu akrab dengan bahasa, kita lupa menghargainya. Kita mengira semua orang yang menggunakan Bahasa Indonesia pasti saling memahami. Padahal memahami bahasa tidak sama dengan memahami maksud. Menguasai kosakata tidak selalu berarti mampu memilih diksi yang tepat. Pandai berbicara pun belum tentu pandai menjaga hati. Itulah sebabnya pelajaran Bahasa Indonesia sesungguhnya sedang membentuk sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar kemampuan menyusun kalimat. Ia sedang melatih cara berpikir, cara mendengar, cara menghargai, dan cara menyampaikan kebenaran tanpa kehilangan kesantunan. Ilmu melahirkan gagasan, tetapi bahasalah yang memberi gagasan itu kehidupan. Sebab sering kali, bukan gagasannya yang gagal mengubah keadaan, melainkan cara kita menyampaikannya.

 

Sebab pada akhirnya, peradaban tidak hanya dibangun oleh orang-orang yang pandai berhitung. Peradaban juga dibangun oleh mereka yang mampu menjaga martabat melalui bahasa. Maka, sebelum kita merasa sudah mahir hanya karena setiap hari menggunakannya, ada satu pertanyaan yang layak kita ajukan kepada diri sendiri.

 

Kita semua bisa berbahasa. Benarkah?

 

Post a Comment

أحدث أقدم