Siang
tadi, seusai Focus Group Discussion, saya menemani beberapa kawan yang sedang
makan siang bersama sejumlah staf dari salah satu pemerintah kabupaten. Awalnya
obrolan kami ringan. Sekadar melepas penat setelah diskusi yang cukup serius.
Di
tengah percakapan, saya melempar candaan.
"Saya
waktu itu agak sok saat audiensi dengan bupatimu," kata saya sambil tertawa. "Beliau pasang mode wajah
serius. Pertanyaannya satu per satu seperti detektif yang sedang mengorek
pengakuan."
Mereka
saling berpandangan, lalu salah seorang menjawab cepat, "Wah Pak... bukan cuma Bapak. Sama kami malah lebih sering
begitu."
Meja
makan pun dipenuhi tawa. Namun saya menangkap sesuatu yang lebih berbobot
daripada lauk di atas meja. Ternyata, di balik candaan itu tersimpan potret
tentang cara memimpin yang mungkin banyak dijumpai, tetapi jarang dibahas.
Saya
lalu berpikir, jangan-jangan ada satu tipe kepemimpinan yang belum sempat
ditulis dalam buku-buku teori. Kita mengenal kepemimpinan otokratis,
demokratis, paternalistik, transformasional, transaksional, hingga servant
leadership. Tetapi saya belum pernah menemukan teori tentang pemimpin yang paling bersemangat menekan orang
justru pada saat-saat yang paling tidak tepat.
Ia
muncul ketika pegawai baru menyalakan komputer, lalu menagih pekerjaan yang
bahkan belum sempat dimulai.
Ia
datang tepat ketika orang hendak beristirahat, lalu memperdebatkan titik, koma,
atau pilihan kata seolah nasib organisasi ditentukan oleh satu tanda baca.
Ia
memanggil ketika jam kerja hampir selesai, membuka pekerjaan baru yang
seharusnya bisa menunggu esok pagi.
Bahkan
ketika malam mulai memberi hak kepada keluarga, telepon dan pesan masih
berdatangan, seolah waktu bawahan adalah perpanjangan dari jam dinas.
Entah
mengapa, sebagian orang mengira kepemimpinan menjadi hebat ketika orang lain
selalu berada dalam posisi siaga. Seakan-akan semakin banyak orang yang tegang,
semakin besar pula wibawa seorang pemimpin.
Padahal
suasana yang selalu mencekam bukanlah pupuk bagi lahirnya gagasan. Ia lebih
sering menjadi racun yang mematikan keberanian berpikir. Orang akhirnya bekerja
bukan untuk menghasilkan yang terbaik, tetapi sekadar menghindari kesalahan.
Mereka memilih diam daripada mengusulkan sesuatu yang mungkin dipersoalkan.
Lama-kelamaan
kantor berubah menjadi ruang yang kehilangan energi. Senyum menjadi mahal,
diskusi menjadi kaku, kreativitas memilih bersembunyi. Setiap kali pemimpin
datang, udara terasa lebih berat. Bukan karena rasa hormat, melainkan karena
kecemasan.
Di
situlah saya belajar bahwa pemimpin yang dihormati berbeda dengan pemimpin yang
ditakuti.
Yang
pertama melahirkan loyalitas.
Yang
kedua hanya melahirkan kepatuhan sementara.
Yang
pertama membuat orang berkembang.
Yang
kedua membuat orang pandai menyembunyikan kesalahan.
Pemimpin
sejati tidak menghabiskan energinya untuk membuat bawahan selalu waspada. Ia
justru menghabiskan waktunya untuk memberdayakan, membimbing, memperbaiki
sistem, dan menumbuhkan kepercayaan diri orang-orang yang dipimpinnya. Ia ingin
anak buahnya menjadi lebih mampu, bukan semakin bergantung pada rasa takut.
Sebab
kewibawaan tidak lahir dari wajah yang selalu tegang. Ia lahir dari
keteladanan, keadilan, dan kemampuan membuat orang lain bertumbuh.
Akhirnya,
ukuran kepemimpinan bukanlah seberapa hening ruangan ketika pemimpin masuk.
Ukuran yang sesungguhnya adalah apa yang dibicarakan ketika ia keluar.
Jika kehadirannya membuat orang segan, ia sedang
memimpin. Tetapi jika kepergiannya justru membuat semua orang lega, mungkin
yang selama ini ia bangun bukan kepemimpinan, melainkan ketakutan yang
kebetulan memiliki jabatan.
إرسال تعليق