Jujur Itu Tidak Cukup Berkata Benar


 

Ada orang yang merasa dirinya sudah paling jujur hanya karena mulutnya tidak pandai berbohong. Apa yang dilihat, itulah yang diucapkan. Apa yang didengar, itulah yang disampaikan. Seolah-olah kejujuran selesai di ujung lidah. Padahal, lidah hanyalah pintu. Rumah kejujuran berdiri jauh lebih dalam daripada sekadar kata "ya" atau "tidak".


Saya semakin percaya bahwa kejujuran bukan hanya soal keberanian mengungkap fakta, melainkan juga keberanian mempertahankan fakta itu ketika keadaan berubah. Sebab berkata benar satu kali mungkin membutuhkan keberanian. Tetapi tetap benar berkali-kali membutuhkan stamina. Tidak semua orang sanggup membayar harga itu.


Kejujuran ternyata mempunyai otot yang harus dilatih. Ia memerlukan pengendalian diri agar tidak tergoda oleh jabatan, pujian, uang, atau rasa takut. Ia membutuhkan keikhlasan agar tidak berubah arah ketika kepentingan datang menawarkan kenyamanan. Sebab banyak orang mampu jujur ketika belum diuji, tetapi berubah fasih mencari pembenaran ketika kepentingannya mulai terusik.


Itulah sebabnya, konsistensi adalah napas dari kejujuran. Tanpa konsistensi, kejujuran hanya menjadi pertunjukan sesaat. Hari ini berkata benar, besok membenarkan yang salah. Hari ini menolak, besok menerima alasan yang dulu ia kutuk. Bukan karena faktanya berubah, melainkan karena posisi duduknya bergeser.


Jika jujur hanya dimaknai sebagai menjawab "ya" atau "tidak", maka hampir semua orang bisa mengaku jujur. Bahkan orang yang sedang menyembunyikan sesuatu pun dapat memilih satu kata yang terdengar benar. Namun kejujuran yang sesungguhnya tidak berhenti pada jawaban. Ia menghadirkan penjelasan yang utuh, bukti yang dapat dipertanggungjawabkan, dan sikap yang tetap sama ketika tidak ada yang melihat.


Sebab sejarah tidak dibangun oleh orang yang sesekali berkata benar. Sejarah dibangun oleh mereka yang memilih tetap jujur ketika kejujuran membuat langkahnya lebih berat daripada kebohongan.


Mungkin itulah mengapa kejujuran semakin langka. Bukan karena manusia tidak tahu mana yang benar, melainkan karena hanya sedikit yang sanggup memikul beban untuk tetap benar.


Karena berkata jujur adalah keberanian. Tetapi hidup dalam kejujuran adalah keteguhan. Dan keteguhan, tidak pernah lahir dari lidah, melainkan dari hati yang berhasil mengalahkan dirinya sendiri.

 

Post a Comment

أحدث أقدم