Berani Bicara, Takut Kehilangan Periuk

 



Dalam hidupku yang sudah menginjak setengah abad ini, beberapa kali saya menjumpai orang yang kalau sedang berbicara kelihatannya sangat heroik. Pemberani, tegas, dan seolah-olah kalau dirinya berada di pihak yang benar, semua yang salah akan dilawannya. Teori dan petuah keluar begitu deras dari mulutnya.


Namun, ada satu pemandangan yang menarik.


Ketika orang seperti itu bertemu pimpinan, keberaniannya kadang mendadak berubah bentuk.


Yang tadi terdengar seperti singa, tiba-tiba menjadi sangat hati-hati. Pendapat yang baru saja disampaikan dengan penuh keyakinan, setelah bertemu pimpinan bisa berubah. Bahkan tidak jarang, pendapatnya sendiri yang kemudian disalahkan tanpa menjelaskan apa yang sebenarnya membuat pendiriannya berubah.


Saya kemudian berpikir, apakah yang sedang dipertahankan itu kebenaran atau kenyamanan?


Tentu saja, menghormati pimpinan adalah hal yang wajar. Berbeda pendapat dengan pimpinan juga bukan berarti harus melawan. Kita semua bekerja dalam sebuah struktur yang memiliki aturan dan kewenangan.


Tetapi menghormati pimpinan tidak harus berarti kehilangan pendirian.


Kalau memang ada data atau penjelasan baru yang membuat pendapat kita berubah, katakan saja. Kalau ternyata kita keliru, akui saja. Tidak ada yang salah dengan mengakui kesalahan.


Yang menjadi masalah adalah ketika pendirian berubah bukan karena argumentasi, data, atau klarifikasi, melainkan karena siapa yang sedang diajak bicara.


Di situlah saya melihat fenomena yang cukup sering terjadi dalam kehidupan kerja.


Banyak orang merasa dirinya pemberani ketika berbicara. Tetapi ketika persoalannya sudah menyentuh jabatan, kenyamanan, penghasilan, atau periuk nasi, keberanian itu tiba-tiba menjadi sangat mahal harganya.


Faktanya, manusia memang punya kebutuhan. Kita semua punya keluarga, punya tanggung jawab, dan tentu ingin kehidupan berjalan baik.


Tetapi jangan sampai karena takut kehilangan periuk, kita justru kehilangan prinsip.


Sebab periuk bukan milik pimpinan.


Pimpinan bisa menjadi salah satu jalan datangnya rezeki, tetapi bukan pemilik rezeki.


Allah berfirman dalam QS. Hud ayat 6 bahwa tidak ada suatu makhluk pun di bumi melainkan Allah yang menjamin rezekinya.


Keyakinan itu bukan berarti kita boleh malas atau tidak bekerja. Kita tetap wajib berusaha, bekerja dengan baik, menjaga amanah, dan mengikuti aturan.


Tetapi pada saat yang sama, kita juga perlu memahami bahwa rezeki tidak semata-mata ditentukan oleh manusia.


Ada pula hadis yang mengingatkan bahwa seseorang tidak akan meninggal sampai sempurna rezekinya. Karena itu, kita diperintahkan untuk bertakwa dan mencari rezeki dengan cara yang baik.


Bagi saya, ini bukan soal menjadi orang yang suka melawan pimpinan.


Bukan pula soal merasa paling benar.


Ini soal bagaimana menjaga keseimbangan antara loyalitas dan prinsip, antara menghormati pimpinan dan menjaga kebenaran.


Sebab loyalitas tanpa prinsip bisa berubah menjadi ABS. Sebaliknya, prinsip tanpa etika juga bisa berubah menjadi kesombongan.


Yang diperlukan sebenarnya sederhana: berani menyampaikan pendapat dengan baik, siap menerima koreksi, dan tidak mudah mengubah pendirian hanya karena berhadapan dengan orang yang memiliki kewenangan.


Karena keberanian yang sesungguhnya bukan ketika kita berani berbicara saat keadaan aman.


Keberanian justru terlihat ketika kita tetap bisa menjaga sikap saat ada sesuatu yang dipertaruhkan.


Termasuk ketika yang dipertaruhkan adalah periuk nasi.

Pada akhirnya saya belajar satu hal dari perjalanan hidup yang sudah setengah abad ini.

Jangan terlalu cepat menilai seseorang pemberani hanya karena dia pandai berbicara.

Lihat bagaimana dia bersikap ketika kepentingannya berhadapan dengan prinsip yang diyakininya.

Sebab bisa jadi, yang terlihat seperti keberanian itu sebenarnya hanya keberanian selama tidak ada risiko.

Berani bicara memang mudah. Yang sulit adalah tetap punya prinsip ketika periuk ikut berbicara.

 

Post a Comment

Previous Post Next Post