Suatu Hari, Sampah yang Kita Buang Akan Kembali Menyapa



Bagi sebagian orang, sampah selalu identik dengan masalah. Bau, kotor, mengganggu pemandangan, menyumbat saluran air, lalu dianggap selesai setelah diangkut pergi. Kita sering merasa lega ketika sampah sudah tidak lagi berada di depan rumah. Padahal, sampah itu tidak benar-benar hilang. Ia hanya berpindah tempat.

 

Dan suatu hari, sampah yang kita buang itu bisa kembali menyapa.

 

Ia menyapa dalam bentuk saluran yang tersumbat dan banjir yang datang tanpa permisi. Ia menyapa melalui bau dari tempat pembuangan yang semakin penuh. Ia menyapa lewat lingkungan yang tidak lagi nyaman. Bahkan, ia bisa menyapa dalam bentuk persoalan sosial ketika tidak ada lagi yang mau menerima sampah yang setiap hari terus kita hasilkan.

 

Di Lampung, persoalan ini tidak lagi cukup dipandang sebelah mata. Bandar Lampung, Metro, Pringsewu, dan Bandar Jaya di Lampung Tengah menghadapi persoalan sampah yang semakin serius. Sampah terus bertambah setiap hari, sementara kemampuan mengurangi dan mengelolanya belum tumbuh secepat kebiasaan kita menghasilkan sampah.

 

Kita memang sering menunjuk pemerintah ketika sampah menumpuk. Truk pengangkut terlambat, pemerintah yang dicari. Tempat pembuangan penuh, pemerintah yang disalahkan. Lingkungan kotor, pemerintah kembali diminta bertanggung jawab. Pemerintah tentu memiliki kewajiban besar dan tidak boleh lepas tangan. Tetapi ada satu pertanyaan sederhana yang kadang luput kita tanyakan: sampah itu sebenarnya berasal dari mana?

 

Sampah tidak lahir dari kantor pemerintah.

 

Ia lahir dari rumah kita. Dari dapur kita. Dari warung, pasar, kantor, sekolah, tempat wisata, dan dari kebiasaan kecil yang kita lakukan setiap hari. Kita membeli, menggunakan, lalu membuang. Setelah itu, kita berharap ada orang lain yang datang menyelesaikan persoalan yang kita tinggalkan.

 

Karena itu, pemerintah harus hadir bukan hanya sebagai pengangkut sampah, tetapi sebagai pembangun sistem dan penggerak perubahan perilaku.

 

Salah satu bentuk kehadiran yang nyata adalah menyediakan sarana pemilahan sampah sejak dari sumbernya. Bayangkan apabila di depan rumah warga tersedia tempat sampah yang jelas sesuai jenisnya: tempat sampah sisa makanan atau organik, tempat sampah daur ulang, tempat sampah B3, dan satu wadah untuk sampah lain-lain atau residu.

 

Dengan begitu, pemerintah tidak hanya meminta masyarakat memilah sampah, tetapi juga menyediakan infrastruktur yang membuat masyarakat mampu dan mudah untuk memilah.

 

Sebab agak tidak adil jika masyarakat terus diminta disiplin memilah, sementara semua jenis sampah akhirnya dikumpulkan dalam satu wadah. Kita meminta warga membedakan sampah, tetapi sistem pengangkutannya mencampurkan kembali semuanya. Kalau begitu, pesan yang diterima masyarakat sederhana: buat apa memilah kalau akhirnya dicampur lagi?

 

Perubahan perilaku membutuhkan contoh dan sistem yang konsisten.

 

Pemerintah perlu membangun sistem dari rumah, lingkungan, hingga tempat pengolahan. Tempat sampah terpilah di depan rumah harus diikuti dengan pengangkutan yang juga terpilah, pengolahan yang sesuai, serta tujuan akhir yang jelas. Dengan demikian, pemilahan bukan sekadar slogan kampanye, melainkan menjadi bagian dari rutinitas kehidupan masyarakat.

 

Di sisi lain, masyarakat juga harus diberdayakan. Warga perlu banyak diberi edukasi tentang manfaat mengelola sampah. Jangan hanya diberi tahu bahwa sampah itu berbahaya, tetapi juga tunjukkan bahwa sampah yang dikelola dapat memberikan manfaat ekonomi dan sosial.

 

Bank Sampah dapat menjadi salah satu ujung tombaknya. Warga perlu diperkenalkan bahwa sampah yang memiliki nilai dapat dikumpulkan dan dikonversikan menjadi tabungan uang, tabungan emas, tabungan sembako, pembayaran rekening listrik, pembayaran rekening air, dan berbagai bentuk manfaat lainnya sesuai sistem yang dikembangkan.

 

Dengan cara seperti ini, masyarakat tidak sekadar mendengar bahwa sampah memiliki nilai, tetapi benar-benar merasakan manfaatnya.

 

Mungkin nilainya tidak selalu besar. Tetapi perubahan besar memang sering dimulai dari sesuatu yang kecil. Dari satu botol plastik. Dari satu kilogram kardus. Dari sampah dapur yang dipisahkan. Dari kebiasaan seorang ibu memilah sampah di rumah. Dari seorang anak yang belajar bahwa membuang sampah bukan sekadar memasukkannya ke tempat sampah, tetapi menempatkannya sesuai jenis.

 

Di situlah pemberdayaan menjadi penting.

 

Masyarakat jangan terus ditempatkan hanya sebagai objek program, penerima sosialisasi, atau penonton ketika pemerintah bekerja. Masyarakat harus menjadi pelaku utama. Pemerintah menyiapkan sistem dan fasilitas, masyarakat menjalankan kebiasaan baik, Bank Sampah mengelola nilai ekonominya, dan dunia usaha serta komunitas dapat menjadi bagian dari ekosistemnya.

 

Mandiri sampah bukan berarti masyarakat dibiarkan sendirian. Mandiri sampah berarti masyarakat memiliki pengetahuan, sarana, kelembagaan, dan kesempatan untuk mengelola sampahnya sendiri.

 

Pemerintah tetap harus hadir. Bukan hanya ketika sampah sudah menggunung, tetapi sejak sampah itu masih berada di tangan kita.

Jangan sampai kita baru bergerak ketika tempat pembuangan sudah penuh. Jangan menunggu banjir datang untuk menyadari bahwa sampah menyumbat saluran. Jangan menunggu lingkungan menjadi kumuh untuk kemudian bertanya siapa yang harus bertanggung jawab.

 

Sampah lahir setiap hari. Maka kesadarannya juga harus dibangun setiap hari.

 

Sudah saatnya masyarakat tidak hanya menjadi penghasil sampah dan pemerintah tidak hanya menjadi pengangkut sampah. Keduanya harus menjadi bagian dari solusi.

Sebab persoalan sampah pada akhirnya bukan hanya tentang tempat membuang.

Ia tentang bagaimana kita memperlakukan apa yang kita hasilkan.

 

Maka sebelum kita kembali bertanya, “Kapan sampah ini diangkut?”, mungkin ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri:

“Sudahkah saya memilah sampah dari rumah?”

Dan kepada pemerintah kita patut berharap:

“Sudahkah sistem yang kita bangun membuat warga mudah untuk berbuat benar?”

Karena perubahan tidak cukup hanya meminta masyarakat sadar. Pemerintah harus membuat kesadaran itu mungkin dilakukan, mudah dilakukan, dan terus dilakukan.

Sebab sampah yang kita buang memang bisa saja pergi dari pandangan.

Tetapi jangan terlalu cepat merasa persoalan telah selesai.

 

Suatu hari, sampah yang kita buang akan kembali menyapa. Dan ketika hari itu datang, jangan sampai kita baru sadar bahwa sejak awal, ia hanya menunggu kita untuk lebih peduli.

 

Post a Comment

Previous Post Next Post