Ada
pemimpin yang tampak hebat bukan karena timnya kuat, melainkan karena semua hal
harus melewati dirinya. Keputusan kecil harus menunggu arahan. Masalah
sederhana harus menunggu persetujuan. Gagasan baru harus terlebih dahulu
mendapat restu. Orang-orang di sekelilingnya dibuat sibuk bekerja, tetapi tidak
sungguh-sungguh diberi ruang untuk tumbuh. Suatu hari, pemimpin seperti ini
tentu akan pergi. Bisa karena masa jabatan berakhir, dipindahkan, pensiun, atau
sekadar karena kursi yang selama ini diduduki akhirnya menjadi milik orang
lain. Lalu pertanyaannya sederhana, tetapi mungkin tidak semua siap menjawab: setelah kita pergi, apakah mereka tetap bisa
berjalan?
Sebab,
pemimpin yang merasa semua harus bergantung kepadanya sering menganggap dirinya
sangat dibutuhkan. Telepon tidak pernah berhenti, pesan masuk setiap saat,
persoalan datang silih berganti. Lalu semua itu dianggap sebagai bukti betapa
penting dirinya. Padahal, jangan-jangan itu justru tanda bahwa selama memimpin,
ia gagal membangun kapasitas orang-orang di sekitarnya. Pemberdayaan bukan
membuat orang terus membutuhkan kita. Pemberdayaan justru membuat orang suatu
hari mampu berjalan tanpa harus selalu menunggu kita.
Di
situlah kepemimpinan sering diuji. Ketika ada anggota tim yang cerdas, muncul
gagasan yang lebih baik, atau ada orang lain yang mulai menunjukkan kemampuan
luar biasa, sebagian pemimpin diam-diam merasa tidak nyaman. Bukan karena orang
itu salah, tetapi karena ia mulai terlihat terlalu terang. Akhirnya, lahirlah
kepemimpinan yang aneh: bawahan diminta kreatif, tetapi jangan terlalu kreatif;
diminta berinisiatif, tetapi jangan melangkahi; diminta berkembang, tetapi
jangan sampai melampaui. Orang lain boleh hebat, asal jangan lebih hebat dari
pemimpinnya.
Padahal,
cahaya orang lain tidak pernah mengurangi cahaya kita. Justru pemimpin yang
benar-benar percaya diri tidak akan sibuk memadamkan lampu di sekitarnya hanya
agar dirinya terlihat paling terang. Pemimpin yang memberdayakan melihat
anggota tim dan masyarakat bukan sebagai alat untuk mengejar target, apalagi
sekadar pelengkap keberhasilan pribadi. Mereka adalah subjek yang memiliki
pikiran, pengalaman, kemampuan, dan potensi untuk diberi ruang. Ketika satu
orang tumbuh, itu bukan ancaman. Ketika banyak orang menjadi hebat, itu bukan
kekalahan pemimpin. Itulah kekuatan bersama.
Karena
itu, ukuran kepemimpinan seharusnya perlahan bergeser. Bukan lagi sekadar power
over, tentang siapa yang paling berkuasa, siapa yang paling menentukan, dan
siapa yang harus selalu didengar. Tetapi power with, tentang bagaimana
kemampuan dibangun, kepercayaan dibagi, dan kekuatan dikerjakan bersama-sama.
Memimpin bukan tentang membuat semua orang bergantung. Kalau semua harus
menunggu kita, mungkin kita bukan sedang membangun sistem, melainkan sedang
memelihara ketergantungan.
Jabatan
memang bisa membuat seseorang berkuasa. Tetapi jabatan tidak otomatis membuat
seseorang mampu melahirkan orang-orang yang kuat. Untuk itu dibutuhkan
keberanian yang lebih besar: keberanian memberi kepercayaan, berbagi panggung,
menerima gagasan yang bukan berasal dari diri sendiri, bahkan menyaksikan orang
lain tumbuh lebih hebat tanpa merasa harga diri sedang terancam.
Sebab
pada akhirnya, kursi akan ditinggalkan. Nama di pintu akan diganti. Foto-foto
seremonial mungkin akan berdebu. Orang baru akan datang dengan cara dan gaya
yang berbeda. Yang tersisa hanyalah pertanyaan itu: suatu hari kita pergi, apakah mereka tetap bisa berjalan?
Kalau
jawabannya iya, mungkin selama ini kita benar-benar memimpin. Kalau jawabannya
tidak, barangkali kita perlu jujur: jangan-jangan yang kita bangun bukan
kekuatan bersama, melainkan ketergantungan pada diri sendiri.
Dan
seorang pemimpin, sesungguhnya, tidak diukur dari betapa banyak orang yang
selalu membutuhkan dirinya. Ia justru
dikenang dari betapa banyak orang yang mampu berdiri, berpikir, dan berjalan
setelah ia pergi.
Post a Comment