Aku pernah tidak diinginkan
siapa-siapa, lalu menjadi seseorang yang dicari banyak orang,
pernah berjalan tanpa salam, lalu datang dan orang-orang berdiri memberi
hormat,
pernah mendengar namaku disebut di tengah perjamuan dan melihat kepala-kepala
menoleh,
tetapi aku juga pernah berdiri di tengah keramaian, lalu merasa tak seorang pun
benar-benar ada.
Aku pernah mengira kehormatan adalah
tempat untuk pulang,
sampai waktu mengajarkanku bahwa tepuk tangan punya umur yang pendek,
orang-orang datang ketika cahaya sedang menyala, lalu perlahan menjauh ketika
redup,
dan akhirnya aku mengerti: yang paling sunyi bukanlah ketika tak ada manusia,
tetapi ketika hati bergantung pada mereka.
Maka aku mulai lelah menjadi “waras”
menurut ukuran dunia,
lelah mengejar nama, pujian, dan pengakuan yang selalu meminta lebih,
lelah menjadi seseorang hanya agar keberadaanku terasa berarti,
hingga aku ingin berjalan sedikit lebih jauh dari kegaduhan itu.
Dalam kehampaan, aku duduk bersama
kesunyian,
tak ada pujian, tak ada tepuk tangan, tak ada yang perlu kujelaskan,
air mataku menetes tanpa suara,
dan anehnya, aku mulai menikmati rasanya.
Aku menikmati sunyi yang tidak
menuntut apa-apa,
menikmati air mata yang tak perlu kusembunyikan,
menikmati menjadi kecil di hadapan dunia,
agar aku kembali tahu betapa kecilnya aku di hadapan Tuhan.
Kini aku tidak lagi menghitung siapa
yang menghargai,
aku mulai menghitung dosa yang pernah kusembunyikan,
kata-kata yang melukai, hati yang pernah kukorbankan,
dan kebaikan yang ternyata masih ingin dipuji manusia.
Mungkin inilah “gila” yang sedang
kucari,
bukan kehilangan akal, melainkan melepaskan kegilaan dunia,
sebab mungkin setelah pernah dicari dan pernah ditinggalkan,
yang benar-benar ingin kutemukan bukan lagi manusia melainkan jalan pulang.
إرسال تعليق