Anak Muntah, Mikrofon yang Disalahkan

 



Menjadi anak sekolah hari ini tidak cukup hanya rajin belajar. Harus kuat perut juga. Sebab ketika makanan program negara membuat anak sakit, yang kemudian ramai bukan hanya soal makanannya. Ada yang sibuk menjelaskan, ada yang sibuk membela, ada pula yang sibuk mencari siapa yang membuat suasana menjadi ramai. Guru bertanya, orang tua bertanya, wartawan bertanya. Lalu entah bagaimana, pertanyaan itu sendiri yang dianggap masalah. Anak muntah, tetapi mikrofon yang dicurigai.


Mungkin besok, kalau ada anak demam setelah makan, yang diperiksa bukan dapurnya, melainkan akun media sosial ibunya. Kalau guru melapor, ditanya mengapa harus ramai. Kalau orang tua mengadu, dikhawatirkan sedang mempolitisasi. Padahal anak yang muntah tidak sempat belajar politik. Ia hanya tahu perutnya sakit. Orang tuanya juga tidak sedang menyusun manifesto. Mereka hanya sedang mencari obat. Di sinilah kita kadang lucu sebagai orang dewasa. Ketika program berhasil, keberhasilan disebut milik negara. Ketika bermasalah, kesalahannya tiba-tiba mencari alamat sendiri. Namanya pun sudah tersedia: oknum. Dapur salah? Oknum. Prosedur dilanggar? Oknum. Makanan terlambat? Oknum. Anak sakit? Jangan-jangan salah perut. Dan kalau masih ada yang bertanya, tinggal cari satu kata terakhir: “Rame.”


Tapi ada satu hal lain yang juga menarik. Dulu, ketika belum berada di dalam lingkaran program, ada orang-orang yang suaranya lantang sekali. Rajin mengkritik, rajin mengingatkan, rajin menunjuk bahwa ada yang tidak beres. Sekarang sebagian dari mereka justru lebih banyak diam. Tentu kita tidak boleh buru-buru menuduh. Namun di tengah percakapan publik muncul dugaan bahwa sebagian pihak yang dahulu gemar bersuara kini memiliki kepentingan langsung dengan dapur-dapur MBG, bahkan disebut-sebut ikut menanamkan modal besar dalam program tersebut. Kalau dugaan itu benar, kita boleh memahami mengapa suara yang dahulu nyaring tiba-tiba menjadi lebih pelan. Barangkali bukan karena masalahnya sudah selesai. Barangkali mikrofon mereka sekarang sudah tersambung ke dapur. Ini ironi yang patut direnungkan, bukan vonis kepada siapa pun. Sebab suara memang bisa berubah ketika posisi berubah. Kemarin kita berada di luar pagar, mudah sekali berteriak tentang pagar yang miring. Hari ini kita mungkin sudah punya kepentingan di dalam halaman. Pagar yang miring pun mendadak terlihat seperti bagian dari desain.


Karena itu, jangan hanya curiga kepada mereka yang bersuara. Jangan pula otomatis percaya kepada mereka yang diam. Kepentingan, seperti angin, sering tidak kelihatan, tetapi kadang kita bisa merasakan arahnya. Kritik tidak selalu datang untuk menjatuhkan. Orang tua yang marah bukan berarti membenci program. Guru yang bersuara bukan berarti ingin program gagal. Wartawan yang memberitakan bukan berarti sedang mencari musuh. Mereka mungkin hanya mengatakan sesuatu yang sangat sederhana: “Tolong, jangan sampai anak kami menjadi biaya dari sebuah ambisi yang terlalu cepat.”


Program besar memang membutuhkan keberanian. Tetapi program yang menyangkut makanan anak membutuhkan sesuatu yang lebih sederhana: kehati-hatian. Tidak ada salahnya memperlambat langkah kalau itu membuat anak lebih aman. Yang dikejar bukan sekadar jumlah porsi. Yang kita beri makan adalah manusia. Maka kalau suatu hari ada anak sakit setelah makan, jangan buru-buru bertanya siapa yang meramaikan. Datanglah ke dapur. Lihat makanannya. Periksa prosesnya. Dengarkan orang tuanya. Dengarkan gurunya. Dan kalau memang ada yang salah, katakan saja: “Ya, ini salah kami. Mari kita perbaiki.”


Kalimat itu mungkin pendek. Tidak heroik. Tidak cocok untuk panggung besar. Tetapi justru karena itulah ia terdengar seperti tanggung jawab. Negara tidak akan menjadi kecil hanya karena mengakui kesalahan. Yang membuat negara tampak kecil adalah ketika anak sudah sakit, tetapi yang paling dikhawatirkan justru jangan sampai ada orang yang mengatakan bahwa negara sedang salah.


Sebab akhirnya persoalannya bukan siapa yang paling ramai dan siapa yang paling diam. Persoalannya jauh lebih sederhana: anak-anak itu sakit atau tidak? Makanannya aman atau tidak? Dan siapa yang bersedia bertanggung jawab?


Yang membuat gaduh bukan orang yang bertanya. Yang membuat gaduh adalah ketika pertanyaan sederhana tentang perut anak dijawab dengan terlalu banyak alasan.


 

Post a Comment

أحدث أقدم