Kemaren
saya dihubungi lewat WA dan ditelepon seorang staf sebuah dinas. Nama dan
dinasnya tak perlu saya sebut. Bukan karena ada rahasia negara, tetapi karena
saya percaya satu percakapan WA ini tidak cukup untuk mewakili sebuah
institusi. Beliau meminta saya menunjukkan sertifikat fasilitator untuk
keperluan pemberkasan sebuah kegiatan. Saya jawab apa adanya, “Maaf,
sertifikatnya harus saya cari dulu. Sejak menjadi asesor, sertifikat
fasilitator itu sudah jarang saya lampirkan.
“Cari
dulu maksudnya bagaimana, Pak? Baru mau UKOM apa gimana?” begitu kira-kira
responsnya. Bahkan saya diberi penegasan, kalau sertifikat itu bisa ditunjukkan
dan masih berlaku, saya langsung approved.
Kalau tidak, akan dicari pengganti. Saya tersenyum dalam hati. Ternyata dalam dunia tertentu, manusia bisa berstatus “belum ada” hanya
karena sertifikatnya belum terlihat. Padahal saya tidak sedang
mengatakan tidak punya. Saya hanya mengatakan sedang mencari. Rupanya dua
kalimat itu bisa memiliki nasib administratif yang sangat berbeda.
Tak
berselang lama teleponpun masuk. Pertanyaannya masih sama: “Ada atau tidak?”
Saya pun menjelaskan bahwa proses menjadi asesor fasilitator tentu melewati
tahapan. Ada tahapan, ada persyaratan, ada proses sertifikasi. Rasanya agak
aneh kalau seseorang tiba-tiba memiliki sertifikat asesor fasilitator tanpa
pernah melalui proses yang menjadi dasar kompetensinya. Saya lalu mengatakan,
kurang lebih, “Saya tidak akan memengaruhi keputusan. Kalau mau mencari
pengganti, silakan. Saya hanya sharing supaya kita sama-sama memahami
prosesnya.” Setelah itu telepon saya tutup. Sebab ada saatnya menjelaskan
menjadi tidak perlu kalau keputusan sudah dibuat sebelum penjelasan selesai.
Lalu
hari ini saya membaca pesan di grup dari rekan sejawat yang kemarin menelepon
saya: “Bapak ibu apakah ada
yang mau ikut pelatihan dan uji kompetensi fasilitator Diklat? Biaya perkiraan
Rp1,5 juta sampai Rp2 jutaan.” Saya baca. Diam. Baca lagi. Kemudian
tersenyum. Apakah ada hubungannya dengan percakapan
kemaren? Saya tidak tahu. Dan saya tidak ingin menebak-nebak.
Bisa jadi memang kebetulan. Bisa jadi kebutuhan kegiatan. Bisa jadi memang
sedang ada kesempatan bagi siapa saja yang ingin menambah kompetensi. Bukankah
hidup memang sering menghadirkan kebetulan pada waktu yang sangat tepat?
Yang
membuat saya merenung bukan pesan kegiatannya. Berkegiatan tentu baik.
Sertifikasi juga baik. Yang menarik adalah bagaimana kita kadang begitu cepat
mengukur seseorang dari kelengkapan mapnya. Seolah-olah pengalaman
bertahun-tahun baru sah setelah ada lembar sertifikat di meja. Kita hidup di zaman ketika fotokopi sertifikat bisa lebih cepat mendapat
perhatian daripada cerita panjang tentang pengalaman. Tidak
salah. Hanya perlu hati-hati agar administrasi tidak diam-diam berubah menjadi
hakim tunggal atas kompetensi seseorang.
Saya
jadi membayangkan, kalau logika seperti ini terus berkembang, suatu hari
mungkin seorang yang sudah puluhan kali mengajar harus kembali membuktikan
bahwa ia tahu cara mengajar. Orang yang sudah lama memfasilitasi masyarakat
diminta membuktikan bahwa ia pernah menjadi fasilitator. Orang yang sudah
bekerja bertahun-tahun mungkin harus menunjukkan sertifikat bahwa ia memang
pernah bekerja. Untung pengalaman belum bisa
dicetak di atas kertas. Kalau bisa, mungkin nanti kita juga diminta
melegalisirnya.
Saya
bukan anti-sertifikat. Justru sertifikasi penting untuk menjaga standar dan
profesionalitas. Tetapi sertifikat seharusnya menjadi bukti kompetensi, bukan pengganti kompetensi. Ia membantu
menjelaskan siapa kita, bukan menentukan seluruh nilai diri kita. Karena kalau
suatu hari semua dokumen lengkap, semua stempel tersedia, semua tanda tangan
ada, tetapi ketika pekerjaan dimulai orangnya kebingungan, maka kita perlu
bertanya dengan jujur: sebenarnya yang sedang kita
verifikasi itu kemampuan manusia, atau sekadar kelengkapan map?
Saya
memilih mengambil sisi positifnya saja. Mungkin ini memang cara zaman
mengingatkan kita untuk kembali membuka arsip lama. Mungkin juga menjadi
pengingat bahwa dokumen harus dirawat, disimpan dan diperbarui. Tidak ada yang
salah. Tetapi ada satu hal yang jangan sampai ikut hilang di antara tumpukan
administrasi: akal sehat.
Sebab
pada akhirnya, sertifikat tidak pernah mengajar, tidak pernah memfasilitasi,
tidak pernah berdiskusi dan tidak pernah turun ke lapangan. Yang melakukan semua itu tetap manusianya. Jadi jangan sampai suatu hari
kita terlalu sibuk mencari sertifikat, sampai lupa mencari orang yang
benar-benar mampu bekerja. Sebab kalau sertifikatnya lengkap tetapi
kompetensinya kosong, map memang terlihat sempurna, hanya saja isinya tidak
ikut bekerja.
إرسال تعليق