Saya
percaya, mayoritas orang Indonesia adalah orang-orang pintar, pekerja keras,
kreatif, dan punya daya juang tinggi. Sejarah meninggalkan jejak yang sulit
dibantah. Berbagai peninggalan megalitik menunjukkan bahwa manusia Nusantara
sejak dahulu mampu membaca alam, mengorganisasi tenaga, membangun, dan
menciptakan peradaban. Gunung Padang, misalnya, masih terus diteliti dan
diperdebatkan. Ada pula teori yang mengaitkannya dengan peradaban purba dan
Atlantis. Soal itu, biarlah ilmu pengetahuan yang mengujinya. Kita tidak perlu
membesar-besarkan klaim. Jejak yang
nyata saja sudah cukup untuk menunjukkan bahwa Nusantara tidak pernah
kekurangan manusia hebat.
Lalu
mengapa bangsa yang punya sejarah panjang itu hari ini masih banyak menghadapi
rakyat yang tidak berdaya? Saya kira bukan karena rakyat kita bodoh atau malas.
Masalahnya mungkin lebih dalam: kita
telah terlalu lama membangun kebiasaan bergantung. Ketika ada persoalan,
yang dicari bukan lagi bagaimana menyelesaikannya, tetapi siapa yang akan
membantu. Ketika ada kesulitan, pertanyaan pertama bukan “apa yang bisa kita
lakukan?”, melainkan “bantuan apa yang bisa kita dapatkan?”
Lama-lama, bantuan yang semula dimaksudkan untuk meringankan beban justru bisa
berubah menjadi kebiasaan. Dan kebiasaan yang dibiarkan terlalu lama dapat
berubah menjadi mentalitas.
Yang
lebih mengkhawatirkan, ketergantungan kadang justru terlihat seperti
keberhasilan. Banyak kegiatan, banyak bantuan, banyak pelatihan, banyak
program, lalu kita merasa pemberdayaan sudah berjalan. Padahal ukuran
pemberdayaan bukan berapa banyak yang dibagikan, berapa banyak orang yang
dikumpulkan, atau berapa banyak kegiatan yang dilaksanakan. Ukuran pemberdayaan adalah apa yang mampu
dilakukan masyarakat setelah semua bantuan dan kegiatan itu berhenti.
Jika tanpa bantuan masyarakat kembali tidak tahu harus berbuat apa, mungkin
yang tumbuh bukan keberdayaan, melainkan ketergantungan yang lebih rapi.
Kita
juga harus berani mengakui bahwa rakyat yang mandiri memang lebih sulit
diarahkan daripada rakyat yang selalu menunggu. Orang yang punya kemampuan
memilih tidak mudah ditentukan pilihannya. Orang yang punya penghasilan sendiri
tidak mudah dipengaruhi dengan pemberian. Orang yang punya pengetahuan tidak
mudah diyakinkan dengan slogan. Dan masyarakat yang mampu berdiri sendiri akan
lebih berani mengatakan benar ketika benar dan salah ketika salah. Karena itu, pemberdayaan yang sesungguhnya
selalu punya konsekuensi: rakyat menjadi semakin sulit dikendalikan.
Tetapi justru itulah demokrasi yang sehat.
Maka
jangan sampai kita keliru memahami pemberdayaan. Memberi ikan memang bisa
menyelesaikan lapar hari ini. Memberi kail mungkin menyelesaikan persoalan yang
lebih panjang. Tetapi yang lebih penting adalah mengajarkan bagaimana mencari
ikan, memilih tempatnya, merawat alatnya, mengelola hasilnya, dan menentukan
sendiri kapan harus pergi melaut. Kalau setiap kali kailnya rusak kita kembali
memberi kail baru, lalu kita bangga karena sudah banyak membantu, kita perlu
bertanya: sebenarnya kita sedang
memberdayakan atau sedang memperpanjang ketergantungan?
Bangsa
ini tidak kekurangan orang pintar. Yang kita perlukan adalah keberanian untuk
memperlakukan rakyat sebagai manusia yang mampu. Jangan selalu melihat
masyarakat sebagai penerima manfaat. Jangan selalu menjadikan mereka sasaran
program. Lihat mereka sebagai pemilik
masa depan.
Sebab
bantuan terbaik bukan bantuan yang membuat orang terus menunggu.
Bantuan terbaik adalah yang suatu hari membuat orang
tidak perlu lagi menunggu.
Dan
mungkin inilah ukuran paling sederhana dari sebuah pemberdayaan:
ketika kita pergi, mereka tetap bisa berjalan.
إرسال تعليق