Beberapa waktu lalu, dalam sebuah
obrolan di grup WhatsApp, beberapa kawan membahas ambruknya trotoar di salah
satu sudut Kota Bandar Lampung. Menariknya, obrolan sederhana itu kemudian
menjadi semacam ruang kuliah kecil. Ada yang bicara dari sisi teknik, ada yang
melihat dari sisi sosial, ada yang menghubungkannya dengan tata ruang dan
kebiasaan kita memperlakukan fasilitas publik. Pendapat mengalir deras. Dari
sana saya justru menangkap satu hal: bangsa
ini tidak kekurangan orang pintar.
Sampai kemudian muncul celetukan: “Gimana mau maju, buat trotoar saja tidak
mampu?”
Saya menjawab sederhana: “Kalau maksudnya hanya membuat trotoar, anak
bangsa pasti mampu. Pesawat saja bisa.”
Kalimat itu sebenarnya sederhana,
tetapi kalau direnungkan agak lama, ada pertanyaan yang menggelitik: bagaimana mungkin bangsa yang mampu membuat
pesawat, tetapi untuk membuat trotoar yang kokoh dan tahan lama saja
seolah-olah begitu sulit?
Pesawat tentu bukan benda sederhana.
Ia membutuhkan ilmu pengetahuan, teknologi, ketelitian, standar keselamatan,
disiplin dan kerja sama banyak orang. Untuk membuatnya, dibutuhkan kemampuan
yang tidak sedikit.
Sementara trotoar?
Ia tidak terbang ke langit. Tidak
membawa penumpang melintasi lautan. Tidak membutuhkan teknologi secanggih pesawat.
Ia hanya berdiri di tanah, menunggu kaki manusia melewatinya setiap hari.
Lalu
mengapa yang sederhana kadang justru terlihat lebih sulit daripada yang rumit?
Di sinilah saya kira persoalannya
bukan semata-mata soal mampu atau tidak
mampu. Bisa jadi kita memang mampu. Bahkan sangat mampu. Tetapi antara
kemampuan dengan hasil akhir ada banyak hal yang ikut menentukan. Ada
perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, tanggung jawab, dan tentu saja
integritas.
Sebab antara yang tersurat dengan yang tersirat, kadang memang tidak selalu
sama. Yang terlihat oleh mata hanyalah trotoar yang selesai dibangun. Tetapi
yang tidak terlihat adalah bagaimana proses di belakangnya berlangsung.
Kita sering keliru membedakan antara
tidak bisa dan tidak mau. Tidak semua orang mau jujur,
tetapi bukan berarti semua orang mau berbohong. Tidak semua orang mau korupsi,
tetapi juga tidak semua orang mampu bertahan untuk tidak korupsi ketika
berhadapan dengan godaan, kepentingan, atau kesempatan.
Di situlah kualitas sebuah bangsa
sebenarnya diuji.
Bukan hanya pada saat kita mampu
membuat sesuatu yang luar biasa, tetapi juga pada saat kita diminta mengerjakan
sesuatu yang sederhana dengan benar.
Saya pun teringat komentar seorang
kawan bahwa mayoritas orang Indonesia sebenarnya pintar, pekerja keras, dan
berwawasan maju. Jejak peradaban masa lalu menunjukkan kemampuan nenek moyang
kita membangun dan menciptakan sesuatu yang luar biasa. Kita juga tidak
kekurangan manusia yang mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
Artinya, kalau hari ini ada
pekerjaan sederhana yang hasilnya mudah bermasalah, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa kita tidak mampu.
Mungkin
kemampuan kita bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah bagaimana kemampuan
itu digunakan.
Pesawat bisa kita buat. Teknologi
bisa kita kuasai. Bangunan besar bisa kita dirikan. Berbagai pencapaian anak
bangsa juga tidak sedikit.
Tetapi jangan sampai kita terjebak
pada kebanggaan bahwa kita mampu
membuat sesuatu yang hebat, sementara untuk menjaga sesuatu yang
sederhana agar tetap baik kita justru gagal.
Sebab kemajuan bukan hanya soal
kemampuan membuat pesawat.
Kemajuan
juga soal kemampuan membuat trotoar—lalu memastikan ia tetap kokoh ketika
diinjak kaki rakyat yang setiap hari menggunakannya.
Dan di situlah letak ironi kita.
Kita bisa membicarakan teknologi
tinggi, tetapi kadang masih berdebat tentang trotoar. Kita bisa bangga dengan
kemampuan anak bangsa menciptakan sesuatu yang rumit, tetapi pekerjaan
sederhana pun masih bisa menyisakan tanda tanya.
Maka persoalannya mungkin bukan
lagi:
“Apakah
kita mampu?”
Jawabannya jelas: mampu.
Pertanyaan yang lebih penting
adalah:
“Apakah
kita mau mengerjakannya dengan benar?”
Sebab bangsa yang pintar belum tentu
menjadi bangsa yang maju.
Bangsa
yang maju adalah bangsa yang mampu menjadikan kepintarannya sebagai tanggung
jawab.
Dan mungkin, dari sebuah trotoar
yang ambruk tersebut, kita sedang diingatkan bahwa ukuran kemajuan sebuah bangsa bukan
hanya terletak pada seberapa tinggi ia mampu menerbangkan pesawat, tetapi juga
pada seberapa baik ia mampu menjaga jalan kaki rakyatnya tetap aman.
إرسال تعليق