Saya belajar satu hal yang tidak pernah tertulis di modul
mana pun: semakin lama saya menjadi fasilitator, semakin sering saya merasa
bodoh. Bukan karena saya tidak belajar, melainkan karena saya mulai benar-benar
belajar. Di titik itulah, kesadaran tumbuh—bahwa apa yang saya ketahui ternyata
jauh lebih kecil dibandingkan apa yang belum saya pahami.
Pengalaman lapangan—duduk bersama warga, mendengar cerita
yang berulang, menyaksikan rencana yang tidak selalu berjalan—tidak otomatis
melahirkan kebijaksanaan. Al-Qur’an mengingatkan bahwa manusia dilahirkan dalam
keadaan tidak mengetahui apa-apa, lalu diberi pendengaran, penglihatan, dan
hati agar belajar (QS. An-Nahl: 78). Ayat ini terasa sangat personal bagi saya.
Ia membongkar ilusi paling awal dalam diri seorang fasilitator: perasaan sudah
tahu.
Pengalaman baru bernilai ketika saya mau mengolahnya menjadi
pengetahuan. Namun di sini saya justru diuji. Pengetahuan sering memberi rasa
percaya diri yang berlebihan. Saya pernah berada di fase merasa paham konteks,
merasa mengerti kebutuhan, merasa mampu menjelaskan semuanya. Sampai saya
tersandung pada satu pengingat sederhana namun menundukkan: di atas setiap orang
yang berpengetahuan, selalu ada yang lebih mengetahui (QS. Yusuf: 76). Sejak
itu saya mulai menerima bahwa rasa bodoh bukan kemunduran, melainkan tanda
bahwa pandangan saya sedang diperluas.
Di sinilah makna belajar sampai merasa bodoh mulai saya pahami lebih dalam. Merasa bodoh
bukan berarti tidak tahu apa-apa. Merasa bodoh adalah kesadaran bahwa
pengetahuan saya selalu sementara, pemahaman saya selalu bisa keliru, dan
kesimpulan saya selalu perlu diuji ulang. Rasa bodoh adalah mekanisme batin
yang menjaga saya agar tidak membekukan ilmu menjadi kesombongan.
Pemahaman yang jujur seharusnya membentuk kebijakan sikap.
Bukan kebijakan tertulis, melainkan keputusan batin dalam keseharian
memfasilitasi: kapan saya perlu bicara, kapan mesti diam; kapan memimpin, kapan
menyingkir ke belakang. Rasulullah mengajarkan bahwa siapa yang beriman kepada
Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau memilih diam (HR. Bukhari dan
Muslim). Kalimat ini menjadi pengingat bahwa diam pun bisa menjadi tindakan
yang paling bertanggung jawab.
Namun belajar tidak berhenti di sikap. Ia harus turun
menjadi aksi. Di titik ini saya sering gelisah, karena aksi tidak selalu rapi
dan tidak selalu terlihat berhasil. Saya teringat doa Nabi yang sangat jujur:
memohon perlindungan kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat (HR. Muslim).
Doa ini menampar saya perlahan—bahwa ilmu, pengalaman, dan pemahaman hanya
bermakna jika sungguh-sungguh mengubah cara saya bertindak dan cara saya hadir.
Sebagai fasilitator, rasa bodoh justru menjadi benteng
terkuat agar saya tidak menggurui. Ketika saya merasa bodoh, saya lebih banyak
mendengar. Ketika saya merasa bodoh, saya tidak tergesa memberi jawaban. Ketika
saya merasa bodoh, saya sadar bahwa kearifan sering kali tumbuh dari pengalaman
hidup masyarakat, bukan dari kepala saya sendiri.
Akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan yang sederhana
namun berat: belajar sampai merasa bodoh adalah proses intelektual sekaligus
spiritual. Ia menjaga ilmu tetap hidup, pemahaman tetap lentur, dan hati tetap
rendah. Ia menempatkan saya sebagai murid—di hadapan manusia dan di hadapan
Tuhan Yang Maha Mengetahui.
Karena sejak saya berhenti merasa bodoh, sejak itu pula saya
sadar: saya sedang berhenti belajar.
Maka saya memilih untuk terus belajar sampai merasa bodoh.
Agar saya tidak tergoda menggurui. Agar saya tetap rendah di hadapan sesama.
Dan agar sepanjang perjalanan ini, saya tidak lupa bahwa tugas utama seorang
fasilitator bukanlah merasa paling tahu, melainkan terus bersedia belajar.
إرسال تعليق