Belajar Diam di Tengah Banyak Pengetahuan (Catatan untuk Sesama Fasilitator)



Tulisan ini tidak hendak keluar dari lingkar kita. Ia tidak mencari panggung, tidak pula berminat menunjuk siapa yang salah. Ia hanya ingin mengajak kita—para fasilitator dan pendamping—untuk berhenti sejenak. Diam. Lalu menengok ke dalam, dengan kejujuran yang sering kita minta dari orang lain, tetapi jarang kita berikan pada diri sendiri.

 

Kita memasuki dunia pendampingan dengan niat yang, setidaknya di awal, terdengar mulia. Kita ingin berguna. Kita ingin terlibat. Kita ingin perubahan. Kita ingin merasa hidup. Kita belajar teori, menghafal istilah, membaca modul, mengikuti pelatihan. Namun di tengah ritme program, target, dan laporan, satu pertanyaan mendasar sering luput kita ulangi: untuk apa sebenarnya kita menjadi fasilitator?

 

Apakah kita hendak bertumbuh menjadi manusia seutuhnya—yang sanggup mendengar, merendahkan diri, dan belajar dari kehidupan orang lain? Ataukah sekadar ingin menyingkirkan satu stempel yang terlalu lama menempel di kepala: pengangguran, tidak terpakai, tidak dibutuhkan?

 

Pertanyaan ini tidak nyaman. Tetapi justru di sanalah kejujuran diuji.

 

Jika jawabannya yang kedua, mungkin lebih baik berhenti sekarang. Bukan karena itu dosa, melainkan karena melanjutkannya hanya akan melukai lebih dalam. Melukai masyarakat yang kita datangi dengan niat setengah-setengah. Melukai proses yang seharusnya jujur. Dan pada akhirnya, melukai diri kita sendiri.

 

Pendampingan bukan ruang pelarian identitas. Ia bukan tempat menambal rasa gagal dengan peran sosial yang terdengar mulia. Ia adalah kerja batin yang panjang, yang menuntut kehadiran utuh. Ketika niat tidak lurus, ilmu mudah berubah menjadi tameng, dan masyarakat pelan-pelan hanya menjadi latar pembenaran.

 

Kita datang ke lapangan membawa banyak pengetahuan: konsep, indikator, tenggat waktu, dan pengalaman proyek sebelumnya. Semua itu penting. Namun ketika niat belum selesai kita bereskan, pengetahuan kehilangan arah. Kita bicara agar terlihat layak. Kita menjelaskan agar terasa berguna. Kita memimpin agar tidak kembali merasa kosong.

 

Pelan-pelan, kita lebih sibuk membuktikan diri daripada membersamai proses. Lebih ingin terlihat berperan daripada sungguh hadir. Kita mendengar, tetapi sambil menghitung giliran bicara. Kita bertanya, tetapi sudah menyiapkan kesimpulan.

 

Masyarakat pun tanpa sadar kita dorong menjadi panggung pembenaran. Mereka kita posisikan sebagai penerima, bukan sebagai pemilik proses. Kita menyebutnya partisipasi, padahal sering kali ia hanya persetujuan yang sopan kepada orang yang dianggap lebih tahu.

 

Di ruang evaluasi, kita merasa aman dengan laporan yang rapi dan capaian yang terukur. Namun jarang bertanya dengan jujur: apakah kehadiran kita benar-benar membuat masyarakat lebih percaya pada dirinya sendiri? Ataukah hanya membuat kita semakin percaya pada peran kita?

 

Ini bukan soal kurangnya kapasitas. Justru sebaliknya—terlalu banyak pengetahuan yang kita bawa tanpa cukup keberanian untuk diam. Ilmu kita berdiri terlalu depan. Ego kita berjalan bersamanya, rapi, dan jarang disadari.

 

Padahal inti dari fasilitasi bukanlah menjadi sumber jawaban, melainkan penjaga proses. Bukan orang yang paling fasih berbicara, tetapi yang paling setia mendengar. Bukan yang paling cepat menyimpulkan, tetapi yang paling sabar menunggu makna tumbuh dari dalam.

 

Menjadi fasilitator berarti bersedia belajar diam. Mengosongkan diri sebelum hadir. Menunda penilaian. Mengakui bahwa masyarakat memahami hidup mereka jauh lebih dalam daripada yang bisa kita ringkas dalam modul, matriks, atau kerangka logis apa pun.

 

Jika suatu hari kita merasa lelah, jenuh, atau sinis di lapangan, mungkin itu bukan karena masyarakat terlalu lambat. Bisa jadi karena niat kita belum selesai kita luruskan. Kita terlalu lama menggantungkan makna hidup pada peran, dan lupa pulang sebagai manusia.

 

Refleksi ini bukan ajakan untuk meninggalkan profesi, juga bukan untuk menafikan kebutuhan hidup. Ia hanya ingin mengingatkan: fasilitasi bukan jalan pintas untuk merasa berguna. Ia adalah jalan panjang untuk belajar rendah.

 

Sebab fasilitator yang matang bukan yang sibuk memastikan dirinya diperlukan, melainkan yang siap tidak lagi dibutuhkan.

 

Dan mungkin, perubahan paling jujur justru dimulai ketika kita—para pendamping—berani mengaku: yang sedang kita dampingi bukan hanya masyarakat, tetapi juga niat kita sendiri.

 

---

Post a Comment

أحدث أقدم