Ketika Luka Bercerita



Pendampingan selalu dimulai dari perjumpaan. Dua manusia duduk berhadapan, dengan jarak pengalaman hidup yang sering kali tidak seimbang. Yang satu datang membawa kerentanan, yang lain membawa niat untuk menolong. Dalam ruang yang rapuh inilah pendampingan menemukan maknanya—sekaligus risikonya. Setiap perjumpaan yang melibatkan ketimpangan selalu menyimpan potensi luka, meski dibungkus oleh kata-kata kepedulian.


Pendampingan sosial kerap dipahami sebagai kerja kebaikan. Ia hadir dalam program, modul, dan laporan keberhasilan. Bahasa yang digunakan terdengar mulia: pemberdayaan, partisipasi, dampak. Namun di balik kerapian istilah, ada pertanyaan yang jarang diajukan: siapa yang sesungguhnya memegang kuasa dalam relasi ini? Tanpa kesadaran etis, niat baik mudah berubah menjadi praktik pengaturan hidup orang lain.


Yang paling tabu adalah ketika kepedulian berubah menjadi kendali. Mereka yang didampingi—warga miskin, penyintas kekerasan, difabel, atau kelompok tersisih—perlahan diposisikan sebagai objek. Mereka hadir sebagai data, sebagai kasus, sebagai penerima manfaat. Suara mereka didengar sejauh masih sesuai dengan kerangka program. Selebihnya, sunyi.


Dalam situasi seperti itu, pendampingan kehilangan wataknya yang membebaskan. Ia menjadi disiplin sosial yang halus. Keputusan diambil dari ruang rapat, bukan dari ruang hidup. Bahasa “demi kebaikan” menutupi kenyataan bahwa yang disebut baik sering kali ditentukan oleh mereka yang tidak menanggung akibatnya. Pendamping hadir membawa solusi, tetapi jarang memberi ruang bagi orang lain untuk menentukan arah hidupnya sendiri.


Pendampingan sosial juga bermasalah ketika moralitas dipaksakan. Orang miskin diminta lebih bersyukur, penyintas diharapkan segera kuat, kelompok rentan diarahkan agar lebih tertib dan produktif. Ketidakadilan struktural disederhanakan menjadi soal sikap. Dalam logika ini, kegagalan individu lebih mudah disalahkan daripada sistem yang sejak awal menyingkirkan.


Ada pula tabu yang jarang disadari: ketergantungan yang diciptakan. Pendamping hadir terlalu lama, mengambil alih keputusan, menjadi penentu arah. Dampingan tak pernah sungguh dilepas untuk berjalan sendiri. Padahal, pendampingan yang etis justru bergerak menuju pengurangan peran pendamping itu sendiri. Ia tahu kapan harus hadir, dan kapan harus menyingkir.


Yang tak kalah penting adalah keberanian untuk bercermin. Pendamping membawa sejarah, kepentingan, dan biasnya sendiri. Tanpa refleksi, pendampingan mudah berubah menjadi panggung bagi ego yang menyamar sebagai pengabdian. Keberpihakan pada yang rentan menuntut kesediaan untuk mengkritik bukan hanya struktur di luar diri, tetapi juga kenyamanan yang kita nikmati.


Ada luka yang seharusnya tidak dipamerkan, melainkan dijaga dengan hormat. Namun dalam pendampingan sosial, kisah getir kerap diminta kembali—diceritakan ulang untuk laporan, forum, atau unggahan yang cepat berlalu. Wajah-wajah lelah dipotret, pengalaman pahit dipadatkan menjadi kalimat singkat yang menyentuh. Tidak selalu ada niat buruk, hanya keinginan untuk menunjukkan bahwa kepedulian sedang bekerja. Tetapi di sanalah pendampingan kehilangan kesunyiannya. Penderitaan tak lagi diberi waktu untuk sembuh, melainkan diminta terus hadir agar program tetap bernapas.


Pada akhirnya, pendampingan sosial bukan soal seberapa banyak yang bisa ditampilkan, melainkan seberapa sungguh martabat manusia dijaga. Bukan tentang membuat pendamping merasa berguna, melainkan membuka ruang agar mereka yang didampingi semakin berdaulat atas hidupnya sendiri. Mungkin di situlah etika pendampingan menemukan bentuknya yang paling jujur: tahu kapan harus mendengar, dan tahu kapan harus berhenti bercerita.



Post a Comment

Previous Post Next Post