Tulisan ini lahir dari
pertemuan-pertemuan kecil di rumah warga, dari obrolan yang tak selalu selesai,
dan dari kegagalan yang lebih sering saya simpan sebagai bahan istighfar,
hingga perlahan saya belajar—sering kali dengan cara yang menyakitkan—bahwa pendamping
tidak pernah diuji oleh keluasan ilmunya, melainkan oleh kemampuannya
menundukkan ego, sebab di hadapan kehidupan orang lain yang paling sering
menggugurkan amal bukan ketidaktahuan, melainkan merasa paling benar, paling
tahu, dan paling berhak menentukan arah.
Pendamping sering datang dengan niat
baik. Ia membawa pelatihan, data, konsep, dan bahasa yang terasa lebih rapi
dari keseharian masyarakat yang ia temui. Namun di lapangan, niat baik saja
tidak pernah cukup. Masyarakat bukan kertas kosong yang menunggu diisi,
melainkan ruang hidup yang telah lama berdenyut oleh pengalaman, luka, kearifan
lokal, dan ingatan kolektif. Di hadapan realitas semacam itu, pendamping bukan
diuji oleh seberapa keras ia bekerja, melainkan oleh seberapa dalam ia mampu menjaga
adab.
Paulo Freire sejak lama mengingatkan
bahwa relasi antara “yang tahu” dan “yang dianggap tidak tahu” adalah relasi
yang rawan melahirkan penindasan baru. Pendampingan yang memanusiakan hanya
mungkin terjadi bila dibangun di atas dialog, bukan instruksi. Pengalaman
mendampingi dan mengorganisir masyarakat membuat saya paham betapa mudahnya
pendamping tergelincir menjadi guru dadakan: berbicara panjang, menjelaskan
segalanya, lalu pulang dengan perasaan telah bekerja, sementara masyarakat hanya
menjadi pendengar pasif.
Dari situ saya belajar satu sikap dasar:
pintar jangan sampai menggurui. Kepintaran adalah bekal, tetapi menggurui
adalah godaan. Banyak jarak sosial tercipta bukan karena masyarakat menolak
ilmu, melainkan karena pendamping gagal merendahkan diri di hadapan kearifan
lokal. Bahasa teknis yang mendominasi, kesimpulan yang terlalu cepat, hingga
sikap enggan mengikuti adat setempat perlahan membangun tembok yang tak
terlihat.
James Scott mengingatkan bahwa kegagalan
pembangunan sering lahir dari keyakinan berlebihan pada skema teknokratis yang
mengabaikan kompleksitas kehidupan lokal. Dalam praktik pendampingan,
mengabaikan kearifan lokal bukan sekadar kesalahan teknis, tetapi kekeliruan
etis. Pendamping yang datang membawa perubahan tanpa lebih dulu belajar cara
duduk, cara menyapa, cara menghormati ruang-ruang sakral masyarakat, sejatinya
sedang memulai perubahan dari arah yang keliru.
Saya belajar bahwa ilmu tidak cukup
disampaikan, tetapi harus dijalani. Pendamping perlu ikut hidup dalam ritme
masyarakat: menyesuaikan waktu kerja dengan musim, menghormati hari-hari adat,
menjaga tutur kata sesuai kebiasaan setempat. Bukan untuk berpura-pura menjadi
orang lokal, melainkan sebagai bentuk penghormatan. Sebab perubahan yang lahir
dari rasa dihormati selalu lebih kuat daripada perubahan yang dipaksakan oleh
kepintaran.
Namun pendampingan juga menuntut
ketajaman. Persoalannya, ketajaman yang tidak dijaga empati mudah melukai.
Kritik yang disampaikan tanpa kepekaan sering kali berubah menjadi kekerasan
simbolik. Pierre Bourdieu menyebutnya sebagai dominasi yang bekerja melalui
bahasa dan penilaian—halus, nyaris tak terasa, tetapi menyisakan luka. Saya
menyaksikan sendiri bagaimana kata-kata yang “benar” bisa meruntuhkan martabat,
menutup percakapan, dan mematikan kepercayaan.
Masyarakat bukan objek koreksi,
melainkan subjek yang memiliki harga diri dan sejarah. Ketajaman yang beradab
adalah ketajaman yang tahu waktu dan cara. Tidak semua kebenaran harus
diucapkan langsung, tidak semua kritik harus keluar dari mulut pendamping. Ada
kebenaran yang lebih efektif bila disampaikan melalui teladan, ada yang harus
melalui tokoh adat, dan ada pula yang perlu menunggu kesiapan bersama.
Di sisi lain, dunia pendampingan juga
kerap dikejar kecepatan. Target, indikator, dan tenggat waktu menggoda
pendamping untuk berlari lebih cepat dari masyarakat yang didampingi. Robert
Chambers mengingatkan bahwa pembangunan partisipatif justru menuntut pendamping
untuk melambat, mendengar, dan membalik cara pandang. Sebab masyarakat memiliki
ritmenya sendiri, ritme yang tidak selalu sejalan dengan kalender proyek.
Cepat, jika tidak hati-hati, berubah
menjadi mendahului. Program berjalan, laporan selesai, tetapi rasa memiliki
tidak pernah tumbuh. Pendamping mungkin sampai di tujuan, tetapi sendirian.
Padahal perubahan sosial bukan lomba lari, melainkan perjalanan panjang yang
hanya bermakna bila dilalui bersama. Mendahului masyarakat sama artinya dengan
mencabut proses dari akarnya.
Pada titik tertentu, mendampingi dan
mengorganisir masyarakat berhenti menjadi soal metode, lalu berubah menjadi
soal niat. Di sanalah iman diuji paling sunyi. Sebab tidak ada yang lebih mudah
daripada merasa paling benar, dan tidak ada yang lebih licin daripada
kesombongan yang menyamar sebagai kepedulian. Ilmu, jika tak dijaga adabnya,
menjelma beban. Ketajaman, bila tak disertai kasih, berubah menjadi luka.
Kecepatan, bila tak ditundukkan oleh hikmah, hanya akan melahirkan jarak.
Tuhan tidak pernah tergesa. Ia bekerja
melalui waktu, melalui kesabaran, melalui proses yang sering kali tidak sejalan
dengan ambisi manusia. Maka mendampingi masyarakat, bagi saya, adalah latihan
merendahkan hati: belajar hidup bersama, menjalani kearifan yang mereka pegang,
dan berjalan pelan, sedikit di belakang, agar tidak mencuri peran yang
seharusnya dijalani oleh mereka sendiri.
Sebab dalam keyakinan yang paling dalam,
tugas manusia bukan mengubah manusia lain, melainkan menjaga adab saat saling
berhadapan. Selebihnya adalah wilayah Tuhan—tempat perubahan tumbuh bukan
karena kepintaran kita, tetapi karena kerendahan hati yang terus dilatih dalam
perjalanan bersama.
Post a Comment