Pemimpin itu sendirian—dan siapa pun
yang mengira memimpin adalah soal ramai dukungan, sebaiknya berhenti sejenak
dan jujur pada dirinya sendiri. Kepemimpinan bukan panggung untuk disukai,
melainkan ruang sempit tempat seseorang dipaksa memilih dan bersedia dibenci.
Di situlah kekuasaan kehilangan glamornya dan berubah menjadi beban yang tidak
bisa dibagi.
Kesendirian ini bukan karena pemimpin
kekurangan orang di sekelilingnya, melainkan karena tanggung jawab tidak pernah
demokratis. Banyak suara boleh berbicara, tetapi hanya satu keputusan yang
berjalan. Dan sejak keputusan itu diambil, pemimpin melangkah
sendirian—menanggung risiko, memikul akibat, dan bersiap rugi demi arah yang ia
yakini benar.
Kesendirian pemimpin bukanlah mitos. Ia
adalah konsekuensi. Ada keputusan yang tidak bisa dirapatkan terlalu lama. Ada
waktu ketika menunda justru lebih berbahaya daripada salah. Pada titik-titik
seperti itulah, pemimpin berdiri sendiri, tanpa jaminan akan dipahami, apalagi
disetujui.
Di ruang sunyi itulah Griya Suwung
menemukan maknanya. Rumah kosong bukan tanda ketiadaan, melainkan ruang
kejujuran. Tempat seorang pemimpin menanggalkan atribut, gelar, dan sorotan,
lalu berhadapan langsung dengan nuraninya sendiri. Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada pembenaran. Yang tersisa hanyalah pertanyaan yang menentukan: apakah
langkah ini benar, dan siapa yang akan menanggung akibatnya.
Sering kali kita mengira kepemimpinan
adalah soal hadir di tengah keramaian. Padahal, keramaian justru sering menipu.
Dalam sorak, seseorang bisa lupa batas. Dalam dukungan, seseorang bisa
kehilangan arah. Sebaliknya, dalam kesunyian, pemimpin dipaksa jujur. Tidak ada
tempat bersembunyi dari ragu, dari takut salah, dari tanggung jawab yang tidak
bisa dipindahkan.
Kesendirian itu semakin nyata ketika
kita menyadari satu kenyataan mendasar: pemimpin tidak pernah memilih siapa
yang akan ia pimpin. Begitu amanah diterima, yang hadir adalah realitas, bukan
preferensi. Ia harus memimpin semua—yang sepakat maupun yang menolak, yang
mendukung maupun yang mencurigai. Ia tidak bisa memilih hanya orang-orang yang
sejalan dengan pikirannya.
Sebaliknya, orang yang dipimpin justru
memiliki kemewahan untuk memilih pemimpinnya. Mereka menilai, menentukan, lalu
memberikan mandat. Namun setelah mandat itu jatuh, beban berpindah sepenuhnya.
Pemimpin tidak bisa memilih ulang masyarakat yang diwarisinya. Ia bekerja
dengan kondisi apa adanya, bukan sebagaimana yang ia inginkan.
Yang dipimpin bebas berharap dan
mengkritik. Pemimpin terikat oleh tanggung jawab. Yang dipimpin bisa berubah
sikap. Pemimpin harus tetap berdiri, bahkan ketika kepercayaan mulai goyah. Di
sinilah kesendirian itu tidak lagi simbolik, melainkan nyata dan berat.
Dari kesadaran inilah pemimpin belajar
bahwa memimpin berarti siap rugi. Rugi waktu, rugi kenyamanan, bahkan rugi nama
baik. Kepemimpinan bukan jalan untuk mengamankan diri, melainkan kesiapan untuk
kehilangan. Mereka yang berharap selalu untung dalam kekuasaan sejatinya belum
siap memikul amanah.
Pemimpin juga harus siap pasang badan.
Berdiri paling depan ketika badai datang. Menjadi alamat kemarahan ketika
kebijakan dipersoalkan. Meski keputusan lahir dari proses panjang dan kolektif,
wajah pertama yang disalahkan tetaplah pemimpin. Dan pada titik ini, tidak ada
ruang untuk bersembunyi. Kesendirian menjadi harga yang harus dibayar.
Namun kepemimpinan tidak berhenti pada
kesiapan menanggung rugi. Ia juga menuntut kelapangan hati untuk berbagi
kenikmatan. Keberhasilan tidak boleh menumpuk di atas. Hasil kerja harus
mengalir ke bawah. Pemimpin yang matang tahu bahwa legitimasi tidak lahir dari
fasilitas, melainkan dari rasa keadilan yang benar-benar dirasakan oleh mereka
yang dipimpin.
Ia boleh menikmati hasil, tetapi tidak
rakus. Ia boleh dihormati, tetapi tidak menagih hormat. Ia sadar bahwa
keberhasilan adalah kerja bersama, sementara kegagalan adalah tanggung jawabnya
sendiri. Di sinilah kepemimpinan diuji—bukan di panggung, melainkan dalam
pengelolaan diri.
Griya Suwung kembali menjadi ruang
belajar. Di rumah kosong itu, pemimpin menahan diri dari pembelaan berlebihan.
Menahan ego untuk selalu benar. Menahan hasrat untuk selalu disukai. Kesunyian
mengajarkannya bahwa kuasa hanyalah titipan, dan setiap titipan akan dimintai
pertanggungjawaban.
Ketika semua peran selesai dimainkan,
pemimpin akhirnya kembali ke ruang yang paling jujur. Tidak ada jabatan. Tidak
ada pendukung. Tidak ada alasan. Yang tersisa hanyalah kesadaran: apakah selama
memimpin, ia masih menjaga amanah, atau justru diam-diam menikmati kuasa.
Di titik inilah kepemimpinan menemukan
hakikatnya. Bukan tentang seberapa besar pengaruh, melainkan seberapa kuat
menanggung sepi. Bukan tentang berapa banyak yang tunduk, melainkan seberapa
teguh memikul tanggung jawab ketika tidak ada yang bertepuk tangan.
Pemimpin itu sendirian, sebab amanah tak
pernah ramai—dan hanya yang sanggup menanggung sepi layak memikul kuasa.
Post a Comment