Ketika Bapak saya masih hidup, beliau kerap bercerita tentang Sekolah Rakyat, sekolah yang pernah membesarkannya sekaligus menempa cara berpikirnya. Ia adalah lulusan Sekolah Rakyat. Saat masih aktif mengajar, murid-murid mengenalnya sebagai guru yang kuat di hitungan, rapi berbahasa Indonesia, dan terasa hidup ketika menyampaikan pelajaran sejarah. Maklum, di pekon dulu satu kelas ditangani satu guru; semua mata pelajaran diampu sendiri, tanpa banyak alat bantu selain kesungguhan. Ia bercerita bukan dengan nada nostalgia, melainkan seperti seseorang yang sedang mengingat sesuatu yang dulu dianggap biasa, tetapi kini terasa langka: cara mendidik manusia.
Sekolah itu singkat. Hanya tiga tahun.
Bangunannya sederhana.
Fasilitasnya jauh dari kata lengkap.
Namun dari ruang belajar yang sempit
itu, kata Bapak saya, lahir orang-orang yang pikirannya tertata. Mereka tidak
hanya bisa menghitung, tetapi tahu apa yang pantas dihitung. Mereka belajar
ilmu bumi bukan untuk menaklukkan alam, melainkan untuk mengenali tempat
berpijak. Sejarah dunia mereka baca bukan untuk hafalan, tetapi agar tidak
mudah silau dan tidak gampang tunduk.
Mereka tidak banyak ijazah, tetapi sulit
diperdaya.
Hari ini, cerita itu terdengar hampir
seperti dongeng. Sebab di saat sekolah semakin panjang, gedung semakin megah,
dan kurikulum semakin canggih, kita justru menemukan kenyataan yang menyentak:
anak SMP yang belum mampu membaca dengan lancar. Huruf masih ditebak. Kalimat
belum menjadi makna. Mereka hadir di kelas, tetapi tertinggal jauh dari proses
belajar yang seharusnya.
Ini bukan sekadar soal kemampuan
membaca.
Ini soal pendampingan yang hilang.
Pendidikan kita terlalu sibuk mengurus
sistem, tetapi lupa menemani manusia di dalamnya. Anak didorong naik kelas,
tetapi tidak didampingi untuk benar-benar paham. Target tercapai, laporan
selesai, program berjalan—sementara di balik itu, nalar dan tanggung jawab
tidak pernah benar-benar dibentuk.
Di sinilah Sekolah Rakyat dulu bekerja
dengan caranya sendiri. Bukan lewat fasilitas, tetapi lewat kedekatan dan
keteladanan. Guru tidak hanya mengajar, tetapi mendampingi. Kesalahan tidak
langsung dihukum, tetapi disadarkan. Anak tidak dikejar angka, tetapi dilatih
menanggung akibat dari pilihannya.
Pendampingan ala Sekolah Rakyat tidak
berhenti pada budi pekerti. Ia melangkah lebih jauh: menanamkan tanggung jawab.
Tanggung jawab pada diri sendiri—agar jujur pada kemampuan dan keterbatasan.
Tanggung jawab pada keluarga—agar hidupnya tidak menjadi beban, apalagi aib.
Dan tanggung jawab pada masyarakat di sekitarnya—agar kehadirannya membawa
manfaat, bukan kerusakan.
Dari sini pula anak-anak belajar satu
hal yang kerap dilupakan hari ini: bangga memiliki harta itu wajar, tetapi
lebih mulia bila mampu menjunjung aturan dan norma. Kekayaan bukan aib, tetapi
cara mendapatkannya menentukan martabat. Keberhasilan bukan dosa, selama tidak
dibangun di atas pelanggaran dan pengingkaran.
Sebab dalam pendampingan ala Sekolah
Rakyat, haram tidak hanya dipahami sebagai soal apa yang masuk ke mulut, tetapi
juga apa yang tumbuh di pikiran dan menjelma dalam tindakan. Cara berpikir yang
membenarkan jalan pintas adalah haram. Cara bertindak yang mengorbankan orang
lain demi keuntungan pribadi adalah haram. Dan kebiasaan mengakali aturan
sambil merasa pintar adalah haram yang paling berbahaya.
Ketika nilai-nilai ini tidak lagi
didampingi sejak awal, jangan heran bila kelak kita menjumpai orang-orang
terdidik yang lihai berhitung keuntungan pribadi, tetapi gagap menanggung
akibat sosialnya. Fasih bicara pembangunan, tetapi abai pada kerusakan yang
ditinggalkan.
Sekolah Rakyat tidak perlu dihidupkan
kembali sebagai gedung.
Tidak pula sebagai nama program.
Yang mendesak untuk dihidupkan kembali
adalah model pendampingannya: pendidikan yang sabar menemani, berani
memperlambat, dan setia membentuk tanggung jawab sebelum mengejar hasil.
Sebab sebelum rakyat benar-benar
tersingkir dari negerinya sendiri, barangkali yang paling genting untuk
diperbaiki bukan kebijakannya, bukan undang-undangnya, melainkan cara kita
mendampingi manusia sejak bangku paling awal.
Dan di situlah, Sekolah Rakyat
sesungguhnya belum pernah selesai.
إرسال تعليق