Saya Tidak Pandai Bicara, Maka Saya Menulis

 



 

Ada kalanya saya ingin bicara, tapi kata-kata enggan keluar. Lidah gemetar, pikiran melompat-lompat, dan perasaan terkadang lebih cepat dari logika. Saat itulah saya menoleh ke tulisan. Di atas kertas atau layar, saya menemukan keberanian yang jarang hadir saat berbicara langsung.

 

Menulis bagi saya bukan sekadar menata kata. Ia menjadi cara saya bertahan, cara saya mendengar diri sendiri, dan cara saya menyampaikan apa yang sulit diucapkan. Tulisan memberi saya waktu untuk ragu, untuk menghapus, untuk mengulang—sesuatu yang jarang saya miliki ketika harus bicara di hadapan banyak orang.

 

Saya tidak pernah merasa diri ini pandai menulis.

Kalimat-kalimat saya sering tertatih, ide datang lebih cepat daripada kemampuan tangan merangkainya. Saya sadar, kemampuan menulis saya belumlah baik. Bahasa lisan pun tidak lebih bisa saya andalkan. Lidah saya kerap kalah cepat dari pikiran; apa yang ingin disampaikan sering gugup di mulut, lalu jatuh sebelum sempat menjadi makna.

 

Hobi menulis saya bermula dari hal yang sangat sederhana. Saya menyukai mata pelajaran Bahasa Indonesia, terutama bagian mengarang. Di bangku SD dan SMP, menulis terasa seperti permainan: bebas, tidak menakutkan, dan tidak membuat dahi berkerut. Guru menyuruh menulis, saya menulis. Belum ada ambisi apa-apa, yang penting halaman penuh.

 

Memasuki usia STM, menulis naik kelas—dari tugas sekolah menjadi urusan perasaan dan kehidupan sehari-hari. Saya mulai menulis diary, tempat menitipkan kegelisahan yang bahkan saya sendiri sering tidak mengerti. Dari diary itu, tulisan berkembang menjadi surat-surat: kepada Bapak di kampung tentang kiriman uang yang telah habis, kepada kakak di Palembang sekadar memberi kabar, dan kepada perempuan yang saya sukai. Bukan karena saya pandai merayu, justru karena saya tidak pandai bicara langsung. Lewat tulisan, saya lebih berani. Jika ditolak, setidaknya saya tidak harus menatap wajahnya saat itu juga.

 

Saya tidak belajar menulis dari ruang yang sunyi dan steril.

Saya belajar dari tapak-tapak yang lebih dulu melangkah, dari suara-suara yang pernah gemetar namun memilih jujur. Dari almarhum Ahmad Yulden Erwin, aktivis dan sastrawan, saya belajar bahwa tulisan harus bernyawa. Dari Oyos Saroso, wartawan dan sastrawan, saya memahami bahwa ketekunan adalah doa yang diulang tanpa suara. Dari Hermansyah Batin Batin Mangku, wartawan senior, saya belajar setia pada proses. Dari Gino Vaneli, aktivis ’98, saya mengenal keberanian untuk bersuara. Dari M. Arief Pranoto, jenderal purnawirawan polisi, saya diajari disiplin berpikir. Dari Adian Saputra, penulis; Juwendra Ardiansyah, wartawan; dan Isbedi Setiawan, sastrawan, saya belajar bahwa kesederhanaan yang dirawat dengan sabar mampu menjadi daya tahan yang panjang. Dan dari Zulkarnain Zubairi, wartawan dan sastrawan, saya menyadari bahwa menulis, pada akhirnya, adalah soal keberpihakan.

 

Saya juga menyadari keterbatasan lain: stamina membaca saya lemah. Justru karena itulah menulis memaksa saya untuk membaca lebih sabar—membaca ulang, membaca pelan, membaca dengan kepala dingin. Menulis, tanpa saya sadari, memperpanjang napas membaca saya sendiri.

 

Di sisi lain, menulis menjadi ajang mengasah mata batin. Semakin batin ini terlatih menangkap isyarat, membaca keadaan, dan mendengar yang tidak terucap, semakin mudah pula tulisan menemukan jalannya. Ketika batin tajam, kata-kata mengalir lebih jujur dan mudah dipahami—tidak sekadar enak dibaca, tetapi sampai ke rasa.

 

Ada hal-hal kecil yang membuat menulis terasa menyenangkan. Tulisan saya pernah dimuat di SKH Lampung Post. Bukan semata karena honornya—meski itu membahagiakan—melainkan karena kegelisahan yang saya tulis menemukan pembacanya. Ada pula momen yang lebih sunyi ketika tulisan saya dimuat oleh CSIS dalam buku Membangun Indonesia dari Daerah. Saat itu saya tidak merasa menjadi penulis besar; justru saya merasa kecil, dan dari rasa kecil itulah tumbuh keyakinan bahwa pengalaman dari pinggir pun layak dicatat.

 

Yang paling sering mendorong saya untuk terus menulis justru hal-hal sederhana: tulisan dibaca, dikomentari, bahkan diperdebatkan oleh orang-orang yang saya kenal. Di situ saya tahu, tulisan telah berpindah tangan dan hidup di kepala orang lain.

 

Pernah pula ada masa tanpa kontrak kerja, tanpa kepastian jadwal, dan pemasukan terasa jauh. Di masa itu, menulis hadir paling setia. Ia menenangkan, memberi jeda, dan menjaga kewarasan. Saya bersyukur masih punya sesuatu yang bisa saya lakukan tanpa menunggu izin siapa pun. Tulisan mungkin tidak langsung membayar tagihan, tetapi ia menjaga hati agar tetap utuh.

 

Kini saya paham, kemampuan menulis tidak turun sebagai anugerah. Ia tumbuh dari kebiasaan—dari keberanian menulis meski belum rapi, dari kesediaan mengulang meski sering keliru. Karena itu, dalam setiap program yang saya dampingi, saya berusaha menulis dan mendorong orang lain untuk menulis pula. Sebab pengalaman yang tidak ditulis mudah lenyap, dan gagasan yang tidak dicatat mudah dicuri waktu.

 

Saya hanya pejalan kecil di antara jejak-jejak itu.

Saya menulis bukan karena sudah mampu.

Saya menulis karena tidak ingin berhenti belajar.

 

Post a Comment

أحدث أقدم