Bus ekonomi ini bukan sekadar alat angkut. Ia adalah saksi
perjalanan hidup masyarakat Lampung Barat. Setiap pagi, tepat pukul 06.00 WIB,
dari Kota Liwa yang masih diselimuti udara dingin pegunungan, bus ini berangkat
menuju Bandar Lampung, membawa harapan, urusan, dan rindu para penumpangnya.
Menjelang siang, sekitar pukul 13.00 WIB, ia tiba di
Terminal Rajabasa. Lelah perjalanan seakan terbayar—ada yang turun untuk
bekerja, ada yang menyelesaikan urusan keluarga, ada pula yang sekadar singgah.
Pukul 14.00 WIB, tanpa banyak jeda, bus kembali mengarah ke Liwa, seolah tak
ingin terlalu lama meninggalkan kampung halaman.
Dan bila tak ada aral melintang, sekitar pukul 21.00 WIB,
lampu-lampu kota Liwa kembali menyambutnya. Rutinitas ini terus berulang, hari
demi hari, kecuali setiap hari Selasa—hari di mana bus ini turut beristirahat,
memberi jeda pada mesin dan manusia.
Tarifnya sederhana, sebagaimana niatnya melayani: Rp50.000
sekali jalan, Rp100.000 pulang-pergi. Tak ada hitung-hitungan jarak yang
menyulitkan. Bahkan untuk perjalanan pendek, sekitar 40 kilometer, cukup
Rp15.000. Murah, tapi penuh arti bagi mereka yang menggantungkan perjalanan
hidup pada bus ini.
Bus ini juga mengangkut paket—titipan orang tua untuk
anaknya, kiriman kecil yang menyambung silaturahmi. Dan yang terpenting, bus
ini relatif aman. Penumpang dipilih dengan kehati-hatian, membuat perjalanan
terasa lebih tenang, jauh dari rasa waswas.
Bagi para pejalan dengan ransel di punggung, bus ini bukan
hanya pilihan hemat. Ia adalah kawan perjalanan: jujur, setia, dan apa
adanya—mengantar siapa saja yang percaya, dari kota ke kampung, dari rindu
menuju pulang.
(RM)
Post a Comment