Netralitas sering terdengar seperti doa yang diucapkan pendamping sebelum turun ke lapangan. Kata yang rapi, tenang, dan terasa suci. Tetapi di lapangan, netralitas sering berubah menjadi selimut paling nyaman untuk menutupi ketimpangan. Dari pengalaman mengorganisir masyarakat saat menjalankan Pendidikan Basis Anti Korupsi di KoAK Lampung, terlibat dalam Kawokh Bungkok, hingga PNPM, saya pelan-pelan paham: ketika pendamping memilih netral, sering kali yang ia lindungi bukan masyarakat, melainkan dirinya sendiri.
Pendampingan tidak pernah benar-benar netral. Ia selalu
berada di tengah tarik-menarik kuasa. Ada yang terbiasa memerintah, ada yang
terlalu lama diperintah. Dalam ruang seperti itu, berdiri di tengah bukanlah
keadilan. Ia hanya membuat yang kuat tetap nyaman, sementara yang lemah diminta
bersabar lebih lama.
Saya belajar bahwa kejujuran dalam pendampingan bukan
perkara administrasi, tetapi keberanian batin. Kejujuran untuk menyebut
ketidakadilan apa adanya, meski suara bergetar dan langkah terasa sendirian.
Dalam proses mengorganisir masyarakat KoAK Lampung, saya mengalami sendiri
bagaimana kejujuran menghadirkan risiko: tekanan, stigma, bahkan ancaman. Di
situ saya sadar, pendamping yang tidak berani berpikir merdeka akan mudah
tergelincir menjadi pengelola ketenangan palsu.
Pendamping yang berpihak tidak selalu disukai. Ia kerap
disebut pengganggu, dianggap terlalu keras, bahkan dicurigai punya agenda.
Tetapi pendamping yang memilih berpihak kepada yang kuat dengan dalih
netralitas sejatinya sedang menukar nurani dengan rasa aman. Ia tidak sedang
memberdayakan, ia sedang merapikan ketimpangan agar terlihat wajar.
Konflik di lapangan tidak pernah lahir dari kehendak gaduh.
Ia muncul karena suara yang terlalu lama ditahan akhirnya mencari jalan keluar.
Saya pernah berada di ruang musyawarah PNPM ketika masyarakat menolak diam.
Seorang camat berdiri berseberangan dengan kepentingan warga, dan situasi
memanas. Di momen seperti itu, pendamping tidak bisa pura-pura menjadi catatan
kaki. Demokrasi tidak hidup dari ketertiban, tetapi dari keberanian mendengar
suara yang selama ini diabaikan.
Ada satu sikap yang paling sering melukai proses
pendampingan: menganggap masyarakat bodoh. Anggapan ini jarang diucapkan,
tetapi terasa dalam cara bicara dan sikap tubuh. Padahal, jika masyarakat
benar-benar bodoh, mereka tak akan mampu bertahan sejauh ini. Mereka bertahan
karena cerdas membaca keadaan, lihai mengelola konflik, dan kuat menanggung
beban hidup. Diam mereka sering kali bukan karena tidak tahu, melainkan karena
tahu terlalu banyak tentang risiko.
Demokrasi dalam pendampingan bukan soal rapat yang rapi atau
berita acara yang lengkap. Ia hidup ketika suara warga benar-benar menentukan
arah. Tetapi sering kali, prosedur dijadikan pagar untuk membatasi makna.
Pendamping lalu berdiri di balik pagar itu, merasa aman, merasa profesional,
sambil perlahan menjauh dari keadilan yang seharusnya diperjuangkan.
Program seharusnya membantu manusia, bukan sebaliknya. Namun
di lapangan, manusia kerap dipaksa menyesuaikan diri dengan program. Konflik
dianggap gangguan, perbedaan pendapat diperlakukan sebagai ancaman. Program
selesai, laporan tersusun, tetapi luka sosial dibiarkan menganga. Di titik ini,
pendampingan berubah menjadi kerja sunyi yang kehilangan hati.
Saya percaya, pendamping tidak pernah berhak mengklaim
keberhasilan. Keberhasilan bukan milik yang datang membawa konsep, melainkan
milik mereka yang bertahan, melawan, dan merawat kehidupan sehari-hari. Jika
masyarakat masih bergantung pada pendamping, berarti proses belum selesai.
Pendamping yang baik justru harus siap dilupakan.
Pada akhirnya, pendampingan yang jujur memang tidak pernah
nyaman. Ia menguras emosi, memancing konflik, dan sering kali memaksa
pendamping berhadapan dengan dirinya sendiri. Tetapi dari ketidaknyamanan
itulah keadilan menemukan jalannya.
Netralitas mungkin membuat pendamping terlihat matang dan
profesional. Tetapi bagi masyarakat yang hidup dalam ketimpangan, netralitas
adalah kemewahan yang terlalu mahal. Pendampingan sejati tidak melahirkan
tokoh, tidak membutuhkan tepuk tangan. Ia hanya ingin satu hal: masyarakat yang
berani berdiri atas nama dirinya sendiri. Dan ketika itu terjadi, pendamping
tahu saatnya menepi, diam-diam, tanpa perlu disebut.
Post a Comment