Sejarah selalu mengajarkan satu hal sederhana: perubahan yang bertahan lahir dari akar yang tertanam dalam kolektif. Dari serikat buruh di pabrik tua, gerakan tani di sawah kering, hingga komunitas adat yang menenun sungai dan hutan menjadi nadi kehidupan—semua lahir bukan karena bantuan sesaat, tetapi karena manusia duduk bersama, berbicara, menunggu, dan bergerak sebagai satu tubuh. Paulo Freire menegaskan, pendidikan sejati adalah pembebasan; pengorganisasian masyarakat adalah pendidikan yang hidup di realitas, bukan sekadar teori di papan tulis.
Hari ini, pemerintah menaburkan niat baik melalui berbagai program pemberdayaan. P3MD di desa, KDKMP di kelurahan, semuanya seperti benih yang ditabur di tanah. Disiram harapan, dipelihara melalui pelatihan, dan diawasi melalui laporan. Kelompok dibentuk, foto tersenyum diunggah, semua tampak bergerak. Namun apakah tanahnya cukup subur untuk menumbuhkan akar yang kuat?
Sering kali proyek cepat terlihat sibuk, tetapi akarnya belum menembus tanah. Benih jatuh di tanah keras, perhatian berhenti pada dokumen, dan semua tampak hidup, tapi rapuh. Seperti benih yang ditanam tanpa tanah subur, gerakan instan yang megah belum tentu berbuah tahan lama.
Bayangkan dua kebun: yang pertama dipupuk dengan pestisida dan pupuk instan. Daunnya hijau, batang lurus, buah cepat matang. Sekilas tampak sempurna. Tapi akarnya dangkal, tanah lelah, mikroba mati. Angin sedikit kencang, hujan sedikit deras, semuanya mudah runtuh. Yang kedua dipupuk dengan pupuk organik, diberi kompos, disiram dengan sabar. Daunnya mungkin tidak mengkilap, pertumbuhannya lambat, buah matang tidak serentak. Tapi akarnya menembus tanah, tanah hidup kembali, serangga dan mikroba bersinergi, dan tumbuhan itu tetap berdiri setiap musim. Buahnya manis, sehat, dan tahan lama.
Begitulah perbedaan proyek cepat tanpa pengorganisasian dan program yang menempatkan pengorganisasian sebagai cara. Proyek instan cepat terlihat, tetapi rapuh. Program yang membangun pengorganisasian lambat, sabar, tetapi menumbuhkan akar, kesadaran, dan jaringan kolektif yang kuat. Robert Putnam mengingatkan, jaringan, kepercayaan, dan norma kolektif adalah sungai yang memberi kehidupan bagi masyarakat. Tanpa itu, capaian hanyalah daun hijau yang mudah gugur.
Pendamping memainkan peran vital. Tapi jangan samakan semuanya. Pendamping proyek hadir untuk memastikan target tercapai, laporan lengkap, angka terpenuhi. Pendamping pemberdayaan masyarakat hadir sebagai tukang taman: menyiangi ego, menanam benih, mengairi kepercayaan, mengelola konflik, dan menguatkan warga agar bergerak sendiri. Tanpa pendamping yang memahami pengorganisasian, proyek berisiko melahirkan individu terampil yang berdiri sendiri, kader rapuh saat anggaran habis, kegiatan berhenti saat laporan terkirim.
Pengorganisasian juga menegaskan satu hal yang proyek instan takut: konflik. Tarik-menarik kepentingan, perbedaan suara, ketidaksepahaman, bukan gangguan, melainkan energi yang bisa diubah menjadi pembelajaran sosial. Konflik yang dikelola dengan baik menumbuhkan akar lebih dalam, membangun rasa memiliki, dan membentuk kesadaran kolektif.
Pertanyaannya tetap: mungkinkah memberdayakan masyarakat tanpa pengorganisasian? Mungkin, jika yang dicari hanyalah proyek cepat, laporan rapi, angka gemilang. Mustahil, jika yang diharapkan adalah masyarakat berdaya, berjalan sendiri, hidup melalui jaringan kolektif, dan belajar dari proses, bukan sekadar hasil.
Pengorganisasian, program, dan pendamping bukan sekadar istilah administratif. Mereka adalah proses hidup: sungai yang mengalir, pohon yang berakar, malam yang menenangkan. Yang tumbuh dari proses ini bukan hanya capaian, tetapi kesadaran; bukan sekadar output, tetapi daya bertahan yang berkelanjutan.
Sejarah, alam, dan teori sosial berbisik: yang lahir dari akar kolektif, dari pengorganisasian sabar, dan pendampingan tepat—itulah yang mampu bertahan lama. Yang cepat, instan, dan hanya mengejar laporan, hanya daun hijau yang mudah gugur.
Dan bumi mengingatkan kita: yang dirawat dengan sabar, diberi nutrisi organik, tumbuh bersama lingkungannya, itulah yang memberi kehidupan bagi banyak generasi, bukan sekadar panen sekali dan layu sesudahnya. Wallahu a’lam.
Post a Comment