Balada Fasilitator 8: Mendorong Jarum Karatan dan Mobil Ber-Rem Tangan

 


Di dunia pendampingan, ada pekerjaan yang tampaknya sederhana tetapi sering menguras tenaga, pikiran, bahkan kesabaran. Namanya: mendorong orang agar melakukan sesuatu yang sesungguhnya untuk kepentingan mereka sendiri. Di atas kertas, tugas fasilitator terlihat ringan. Program sudah ada, petunjuk teknis tersedia, target ditetapkan, dan anggaran disiapkan. Tinggal menjalankan. Namun para fasilitator yang pernah turun ke lapangan memahami bahwa jarak antara kalimat "tinggal menjalankan" dan kenyataan sering kali sangat jauh. Karena itulah muncul berbagai istilah khas di kalangan pendamping, salah satunya  mendorong jarum karatan.

 

Jarum yang berkarat sebenarnya masih bisa bergerak, tetapi membutuhkan tenaga lebih besar untuk menggesernya. Sedikit bergerak lalu macet, didorong lagi lalu berhenti kembali. Gambaran ini sering mengingatkan pada sebagian kelompok dampingan. Pertemuan sudah dijadwalkan tetapi yang hadir separuh, kesepakatan sudah dibuat tetapi yang menjalankan hanya beberapa orang, dokumen sudah disusun tetapi berbulan-bulan tidak ditindaklanjuti. Fasilitator akhirnya datang lagi, mengingatkan lagi, menjelaskan lagi, dan membujuk lagi. Dari sinilah lahir istilah kedua yang tidak kalah menarik, yaitu mendorong mobil yang sedang terparkir dengan rem tangan masih terpasang.

 

Mobilnya ada, rodanya lengkap, pengemudinya juga ada. Namun rem tangannya belum dilepas. Seberapa kuat orang mendorong, hasilnya tidak akan sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan. Dalam banyak program pemberdayaan, rem tangan itu bisa berupa kebiasaan lama, rasa tidak percaya diri, konflik internal, ego sektoral, atau budaya menunggu bantuan. Ada yang ingin maju tetapi takut berubah, ada yang bersemangat saat rapat namun menghilang ketika pekerjaan dimulai. Akibatnya, fasilitator sering tampak seperti tukang dorong profesional yang membuat program bergerak bukan karena sistemnya berjalan, melainkan karena ada seseorang yang terus-menerus mendorong dari belakang.

 

Padahal hakikat pemberdayaan bukan menciptakan ketergantungan baru. Tujuan akhirnya justru melahirkan masyarakat yang mampu bergerak atas kesadaran dan kekuatannya sendiri. Karena itu, sebelum sebuah program masuk ke suatu wilayah, yang perlu dilakukan bukan hanya menyusun jadwal kegiatan, melainkan juga memetakan potensi daerah secara jujur dan mendalam. Setiap daerah memiliki karakter, budaya, sumber daya manusia, kepemimpinan lokal, dan tingkat kesiapan yang berbeda. Tidak semua tanah bisa ditanami dengan cara yang sama. Ada tanah yang cukup disentuh cangkul sekali sudah subur, ada pula yang harus dibersihkan dari semak, batu, dan akar terlebih dahulu.

 

Pemetaan potensi daerah menjadi penting agar program tidak berjalan dengan asumsi yang keliru. Daerah perlu mengetahui desa mana yang siap menjadi percontohan, kelompok mana yang memiliki semangat tinggi, siapa tokoh lokal yang mampu menggerakkan masyarakat, dan potensi apa yang dapat menjadi pintu masuk perubahan. Dengan cara ini, energi fasilitator tidak habis untuk mendorong jarum karatan atau mobil ber-rem tangan, melainkan digunakan untuk mempercepat gerakan yang memang sudah memiliki daya dorong dari dalam.

 

Lebih dari itu, pemetaan yang baik juga dapat menghilangkan kesan negatif terhadap daerah. Sebab siapa pun yang diberi amanah mengelola program, pada akhirnya akan membawa nama daerahnya. Ketika program berhasil, yang dipuji adalah daerahnya. Ketika program tersendat, yang dinilai juga daerahnya. Karena itulah pemerintah daerah, pengelola program, tokoh masyarakat, dan fasilitator sesungguhnya sedang memikul tanggung jawab yang sama: menjaga agar nama baik daerah ikut bergerak maju bersama program yang dijalankan.

 

Pada akhirnya, keberhasilan pendampingan bukanlah ketika fasilitator menjadi orang yang paling sibuk atau paling sering berbicara. Keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika masyarakat mampu bergerak tanpa harus terus didorong. Sebab jarum yang telah dibersihkan dari karat akan bergerak dengan sendirinya, dan mobil yang rem tangannya sudah dilepas hanya memerlukan sedikit dorongan untuk melaju jauh menuju tujuan. Itulah saat di mana fasilitator dapat tersenyum, karena tugasnya bukan lagi mendorong, melainkan menyaksikan perubahan berjalan dengan kekuatannya sendiri.

Post a Comment

Previous Post Next Post