Di dunia pendampingan, ada pekerjaan yang tampaknya
sederhana tetapi sering menguras tenaga, pikiran, bahkan kesabaran. Namanya:
mendorong orang agar melakukan sesuatu yang sesungguhnya untuk kepentingan
mereka sendiri. Di atas kertas, tugas fasilitator terlihat ringan. Program
sudah ada, petunjuk teknis tersedia, target ditetapkan, dan anggaran disiapkan.
Tinggal menjalankan. Namun para fasilitator yang pernah turun ke lapangan memahami
bahwa jarak antara kalimat "tinggal
menjalankan" dan kenyataan sering kali sangat jauh. Karena itulah
muncul berbagai istilah khas di kalangan pendamping, salah satunya mendorong jarum karatan.
Jarum yang berkarat sebenarnya masih bisa bergerak, tetapi
membutuhkan tenaga lebih besar untuk menggesernya. Sedikit bergerak lalu macet,
didorong lagi lalu berhenti kembali. Gambaran ini sering mengingatkan pada
sebagian kelompok dampingan. Pertemuan sudah dijadwalkan tetapi yang hadir
separuh, kesepakatan sudah dibuat tetapi yang menjalankan hanya beberapa orang,
dokumen sudah disusun tetapi berbulan-bulan tidak ditindaklanjuti. Fasilitator
akhirnya datang lagi, mengingatkan lagi, menjelaskan lagi, dan membujuk lagi.
Dari sinilah lahir istilah kedua yang tidak kalah menarik, yaitu mendorong mobil yang sedang terparkir dengan
rem tangan masih terpasang.
Mobilnya ada, rodanya lengkap, pengemudinya juga ada. Namun
rem tangannya belum dilepas. Seberapa kuat orang mendorong, hasilnya tidak akan
sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan. Dalam banyak program pemberdayaan,
rem tangan itu bisa berupa kebiasaan lama, rasa tidak percaya diri, konflik
internal, ego sektoral, atau budaya menunggu bantuan. Ada yang ingin maju
tetapi takut berubah, ada yang bersemangat saat rapat namun menghilang ketika
pekerjaan dimulai. Akibatnya, fasilitator sering tampak seperti tukang dorong
profesional yang membuat program bergerak bukan karena sistemnya berjalan,
melainkan karena ada seseorang yang terus-menerus mendorong dari belakang.
Padahal hakikat pemberdayaan bukan menciptakan
ketergantungan baru. Tujuan akhirnya justru melahirkan masyarakat yang mampu
bergerak atas kesadaran dan kekuatannya sendiri. Karena itu, sebelum sebuah
program masuk ke suatu wilayah, yang perlu dilakukan bukan hanya menyusun
jadwal kegiatan, melainkan juga memetakan potensi daerah secara jujur dan
mendalam. Setiap daerah memiliki karakter, budaya, sumber daya manusia,
kepemimpinan lokal, dan tingkat kesiapan yang berbeda. Tidak semua tanah bisa
ditanami dengan cara yang sama. Ada tanah yang cukup disentuh cangkul sekali
sudah subur, ada pula yang harus dibersihkan dari semak, batu, dan akar
terlebih dahulu.
Pemetaan potensi daerah menjadi penting agar program tidak
berjalan dengan asumsi yang keliru. Daerah perlu mengetahui desa mana yang siap
menjadi percontohan, kelompok mana yang memiliki semangat tinggi, siapa tokoh
lokal yang mampu menggerakkan masyarakat, dan potensi apa yang dapat menjadi
pintu masuk perubahan. Dengan cara ini, energi fasilitator tidak habis untuk
mendorong jarum karatan atau mobil ber-rem tangan, melainkan digunakan untuk
mempercepat gerakan yang memang sudah memiliki daya dorong dari dalam.
Lebih dari itu, pemetaan yang baik juga dapat menghilangkan
kesan negatif terhadap daerah. Sebab siapa pun yang diberi amanah mengelola
program, pada akhirnya akan membawa nama daerahnya. Ketika program berhasil,
yang dipuji adalah daerahnya. Ketika program tersendat, yang dinilai juga
daerahnya. Karena itulah pemerintah daerah, pengelola program, tokoh
masyarakat, dan fasilitator sesungguhnya sedang memikul tanggung jawab yang
sama: menjaga agar nama baik daerah ikut bergerak maju bersama program yang
dijalankan.
Pada akhirnya, keberhasilan pendampingan bukanlah ketika
fasilitator menjadi orang yang paling sibuk atau paling sering berbicara.
Keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika masyarakat mampu bergerak tanpa
harus terus didorong. Sebab jarum yang telah dibersihkan dari karat akan
bergerak dengan sendirinya, dan mobil yang rem tangannya sudah dilepas hanya
memerlukan sedikit dorongan untuk melaju jauh menuju tujuan. Itulah saat di
mana fasilitator dapat tersenyum, karena tugasnya bukan lagi mendorong,
melainkan menyaksikan perubahan berjalan dengan kekuatannya sendiri.
Post a Comment