Dalam negara demokrasi, kritik adalah sesuatu yang
lumrah. Ia bukan ancaman bagi negara, melainkan salah satu cara masyarakat
mengingatkan kekuasaan agar tidak kehilangan arah. Demokrasi tidak dibangun
oleh tepuk tangan semata, tetapi juga oleh keberanian menyampaikan hal-hal yang
tidak menyenangkan untuk didengar.
Namun belakangan ini, yang sering terjadi justru
sebaliknya.
Ketika seseorang mengkritik pemerintah, perhatian publik
sering kali tidak tertuju pada isi kritiknya, melainkan pada cara kritik itu
disampaikan. Nada bicara dianggap terlalu keras, pilihan kata dinilai tidak
sopan, sementara substansi yang disampaikan justru tenggelam di tengah
perdebatan tentang etika.
Padahal jika sebuah rumah bocor, yang lebih penting
adalah memperbaiki atapnya, bukan memperdebatkan cara orang melaporkan
kebocoran tersebut.
Fenomena itu kembali terlihat ketika Tio, mantan Ketua
BEM UGM, menyampaikan kritik yang kemudian ramai diperbincangkan. Alih-alih
membahas pokok persoalan yang ia sampaikan, sebagian besar perdebatan justru
berkisar pada kesopanan dan etika penyampaiannya. Orang lebih sibuk menilai
cara berbicara daripada mencoba memahami apa yang sebenarnya sedang dikritik.
Tentu etika penting. Namun etika tidak boleh dijadikan
alasan untuk menghindari pembahasan substansi. Sebab kritik yang santun pun
tetap akan dianggap mengganggu apabila menyentuh persoalan yang memang tidak ingin
dibicarakan.
Akibatnya, masyarakat semakin terkotak-kotak. Pengkritik
sering dicap sebagai pembenci pemerintah, bahkan penghianat bangsa. Sebaliknya,
mereka yang selalu membela pemerintah dianggap sebagai warga negara yang baik
dan benar.
Seolah-olah kecintaan kepada negara hanya dapat
dibuktikan dengan membela, bukan dengan mengingatkan.
Padahal seseorang yang mengkritik belum tentu membenci
negaranya. Justru sering kali kritik lahir karena masih adanya harapan agar
keadaan menjadi lebih baik. Sebab orang yang benar-benar tidak peduli biasanya
memilih diam.
Ironisnya, setelah lebih dari dua dekade reformasi
berjalan, kita menyaksikan paradoks yang menarik. Reformasi berhasil melahirkan
banyak orang yang pandai berbicara, berdebat, dan beretorika. Namun pada saat
yang sama, kita semakin sulit menemukan keteladanan.
Kita hidup di zaman ketika pidato lebih banyak daripada
tindakan.
Nasihat lebih mudah ditemukan daripada contoh.
Bahkan di ruang-ruang yang seharusnya menjadi rumah
demokrasi, publik pernah menyaksikan mikrofon dimatikan ketika suara yang
berbeda mulai terdengar terlalu nyaring. Mungkin itu hanya sebuah tindakan
kecil. Namun maknanya besar. Ia mengajarkan bahwa perbedaan lebih mudah
dibungkam daripada dijawab.
Padahal wakil rakyat seharusnya memberi contoh bagaimana
demokrasi dijalankan. Mereka dipilih bukan hanya untuk berbicara, tetapi juga
untuk mendengar. Jika perbedaan pendapat dianggap gangguan, maka dialog akan
mati. Jika kritik dianggap ancaman, maka demokrasi hanya akan menjadi seremoni
tanpa jiwa.
Yang lebih mengkhawatirkan, kebiasaan menghakimi cara
penyampaian kritik lambat laun menggeser budaya berpikir masyarakat. Kita
menjadi lebih cepat menilai siapa yang berbicara daripada apa yang dibicarakan.
Akibatnya, ruang publik dipenuhi perdebatan tentang sopan atau tidak sopan,
sementara persoalan yang sebenarnya membutuhkan perhatian bersama justru
terabaikan.
Padahal demokrasi yang sehat tidak dibangun oleh
keseragaman pendapat, melainkan oleh kemampuan mendengarkan pandangan yang
berbeda. Kritik seharusnya menjadi pintu masuk untuk mengevaluasi kebijakan,
bukan alasan untuk menyerang pribadi pengkritiknya. Sebab ketika substansi
kalah oleh sentimen, yang lahir bukan penyelesaian masalah, melainkan
pertengkaran yang berkepanjangan.
Jika keadaan ini terus dibiarkan, masyarakat akan
terbiasa melihat kritik sebagai ancaman, bukan sebagai bagian dari proses
perbaikan. Padahal sebuah bangsa hanya dapat berkembang apabila masih tersedia
ruang bagi orang-orang yang berani mengingatkan, dan tersedia pula kerendahan
hati bagi mereka yang bersedia mendengarkan. Demokrasi tidak mati ketika orang
berhenti setuju, tetapi ketika orang berhenti mau mendengar.
Mungkin karena itulah masyarakat semakin sulit
mempercayai kata-kata. Mereka terlalu sering melihat jurang antara ucapan dan
tindakan. Terlalu sering menyaksikan orang yang menuntut etika dari orang lain,
tetapi lupa menerapkannya pada dirinya sendiri.
Padahal sejarah menunjukkan bahwa perubahan besar tidak
lahir dari pidato semata, melainkan dari keteladanan.
Nabi Muhammad SAW tidak mengubah masyarakat Arab hanya
dengan ceramah. Sebelum mengajak orang lain jujur, beliau terlebih dahulu
dikenal sebagai pribadi yang terpercaya. Sebelum mengajarkan keadilan, beliau
mempraktikkan keadilan dalam kehidupannya. Sebelum mengajak orang lain
bersabar, beliau lebih dahulu menunjukkan kesabaran dalam menghadapi hinaan dan
penolakan.
Beliau tidak sekadar berbicara tentang nilai-nilai.
Beliau menjadikan dirinya contoh dari nilai-nilai itu sendiri.
Di sinilah pelajaran yang tampaknya mulai terlupakan.
Kita terlalu sibuk menilai bagaimana orang lain berbicara, tetapi kurang
memberi perhatian pada bagaimana diri kita bertindak. Kita gemar mengoreksi
ucapan orang lain, tetapi sering lupa memperbaiki perilaku sendiri.
Demokrasi membutuhkan kritik, sebagaimana tubuh
membutuhkan cermin. Kritik mungkin tidak selalu nyaman didengar, tetapi
tanpanya kita tidak akan tahu bagian mana yang perlu diperbaiki.
Karena itu, yang perlu dijawab dari sebuah kritik
pertama-tama adalah substansinya. Etika memang penting, tetapi substansi tidak
boleh dikorbankan karenanya. Sebab ketika kritik diadili berdasarkan siapa yang
menyampaikan dan bagaimana cara menyampaikannya, sementara isi pesannya
diabaikan, maka yang hilang bukan hanya kualitas dialog publik.
Yang perlahan hilang adalah ruh demokrasi itu sendiri.
Dan ketika demokrasi kehilangan ruhnya, yang tersisa
hanyalah keramaian orang berbicara tanpa kesediaan untuk saling mendengar.
Sebuah keadaan yang jauh dari cita-cita reformasi yang dahulu diperjuangkan
dengan begitu mahal. Sebab bangsa yang besar bukanlah bangsa yang berhasil
membungkam kritik, melainkan bangsa yang cukup dewasa untuk mendengarkannya.
Bahkan ketika kritik itu terdengar keras, tidak nyaman, dan menusuk, yang
semestinya diuji tetaplah isi pesannya, bukan sekadar cara penyampaiannya.
Sebab dalam demokrasi, kebenaran tidak ditentukan oleh kelembutan suara,
melainkan oleh kekuatan argumentasi yang menyertainya.
Post a Comment