Jika
sapa tak dibalas sapa,
maka
tak akan ada jembatan rasa.
Dua
insan hanya menjadi dua nama,
berpapasan
di jalan yang sama,
namun
tak pernah tahu ke mana hati hendak singgah dan bermuara.
Jika
kata hanya dijawab tidak,
maka
obrolan tak akan beranjak.
Percakapan
berhenti di ambang langkah,
tak
sempat tumbuh menjadi cerita,
tak
sempat bersemi menjadi cinta.
Jika
hari-hari tak saling mengingat,
maka
tak akan timbul niat untuk saling terikat.
Rindu
tak pernah menemukan alamat,
dan
waktu hanya menjadi deretan tanggal
yang
lewat tanpa meninggalkan jejak.
Jika
orang tua tak memberi restu,
maka
tiada kata bersatu.
Sebab
cinta bukan hanya milik dua hati,
tetapi
juga doa yang mengalir dari mereka
yang
membesarkan dengan kasih dan pengorbanan.
Jika
penghulu tak datang membawa buku nikah,
maka
ijab kabul terasa kurang berkah.
Saksi
boleh menyaksikan, tamu boleh berbahagia,
namun
ada ikatan suci yang perlu diteguhkan,
agar
cinta memiliki pijakan yang diridhai agama.
Jika
panitia tak bekerja,
maka
alamat resepsi akan berantakan.
Tamu
kebingungan mencari tujuan,
sedang
kebahagiaan yang hendak dibagikan
terselip
di antara kesibukan dan kekacauan.
Namun
di atas semua sebab dan upaya,
ada
Kuasa yang mengatur rahasia.
Jika
Tuhan tidak mengizinkan,
maka
tak akan ada pertemuan,
tak
akan ada pertunangan,
tak
akan ada pelaminan yang dipenuhi senyuman.
Karena
sejatinya,
sapa,
kata, rindu, restu, penghulu, dan panitia
hanyalah
jalan yang mempertemukan.
Sedangkan
yang menyatukan dua insan hingga ke pelaminan,
adalah
kehendak Tuhan yang bekerja dalam diam.
Semoga
menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warohmah penuh keberkahan hingga akhir
perjalanan.
Post a Comment