Penghapus Pensil Tiga Juta

 



 

Di saat masyarakat sedang berjibaku dengan kebutuhan hidup yang semakin mahal, publik Lampung Barat justru dibuat terheran-heran oleh sebuah benda yang selama ini dianggap paling sederhana di dalam kotak pensil: penghapus. Berdasarkan pemberitaan HeloIndonesia.com (16 Juni 2026), muncul data pengadaan sembilan penghapus pensil dengan nilai sekitar Rp30 juta atau lebih dari Rp3 juta per buah. Angka yang membuat banyak orang bertanya-tanya, apakah penghapus tersebut hanya berfungsi menghapus tulisan, atau memiliki kemampuan lain yang belum pernah dikenal dalam dunia pendidikan dan perkantoran.

 

Untungnya, pihak dinas terkait telah menjelaskan bahwa kemungkinan besar terjadi kesalahan input data. Dan mudah-mudahan memang demikian. Namun persoalannya sesungguhnya bukan terletak pada mahal atau murahnya penghapus tersebut, melainkan bagaimana angka yang begitu janggal bisa lolos dan tampil dalam sistem yang dapat diakses publik. Sebab uang negara tidak mengenal istilah "sekadar salah ketik". Setiap angka yang muncul membawa konsekuensi pertanggungjawaban karena berasal dari uang rakyat yang dikumpulkan dengan susah payah dari pajak, retribusi, dan berbagai sumber penerimaan lainnya.

 

Karena itu, persoalan ini tidak cukup hanya dijawab dengan dugaan adanya kesalahan administrasi. Inspektorat perlu melakukan pemeriksaan untuk memastikan duduk persoalannya. DPRD juga semestinya menggunakan fungsi pengawasannya dengan memanggil dinas yang bersangkutan guna meminta penjelasan secara terbuka. Bukan untuk mencari kesalahan, bukan pula untuk memperkeruh suasana, melainkan untuk memastikan kepada masyarakat apakah benar ini hanya kekeliruan input data atau terdapat persoalan lain yang perlu diperbaiki. Sebab ketika lembaga pengawas memilih diam, ruang kosong itu akan segera diisi oleh berbagai tafsir dan spekulasi yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

 

Di banyak negara yang budaya akuntabilitasnya sudah mapan, seorang pimpinan kerap tampil paling depan ketika terjadi kesalahan di bawah tanggung jawabnya. Mereka meminta maaf kepada publik, bahkan tidak jarang bersedia melepaskan jabatan meskipun kesalahan teknis dilakukan oleh bawahannya. Bukan karena mereka yang mengetik atau memasukkan data, tetapi karena mereka memahami bahwa jabatan bukan sekadar hak untuk memerintah, melainkan kewajiban untuk bertanggung jawab.

 

Pada akhirnya, bisa jadi semua ini memang hanya salah input dan akan selesai setelah dilakukan klarifikasi. Namun ada satu hal yang jauh lebih penting daripada harga sembilan penghapus pensil tersebut, yakni kepercayaan masyarakat. Sebab penghapus memang dibuat untuk menghapus tulisan yang salah, tetapi dalam pengelolaan pemerintahan jangan sampai yang ikut terhapus adalah akal sehat, rasa tanggung jawab, dan kepercayaan rakyat terhadap lembaga yang mereka biayai dengan uang mereka sendiri.

 

Sumber: HeloIndonesia.com, 16 Juni 2026, "Pengadaan 9 Penghapus Pensil Pemkab Lambar Rp30 Juta".

Post a Comment

أحدث أقدم