Pekon, Jangan Kau Remehkan

 



Bagi sebagian orang, kehidupan di pekon/Desa barangkali terlihat remeh-temeh. Hari-harinya dianggap monoton, tantangannya tidak seberapa, dan kinerjanya kerap dipandang kalah gesit dibandingkan kehidupan perkotaan. Kota identik dengan gedung tinggi, rapat berjam-jam, target pekerjaan, teknologi, dan segala macam kesibukan yang seolah menjadi ukuran kemajuan.


Sementara pekon, dalam pandangan yang terlanjur menyederhanakan, cukup diwakili oleh jalan kampung, kebun, sawah, dan rutinitas warga yang itu-itu saja. Padahal, jangan-jangan yang monoton itu bukan kehidupan di pekon, melainkan cara pandang kita sendiri yang terlalu sibuk mengukur kehidupan dengan angka, jabatan, dan gemerlap pencapaian. Kita lupa, tidak semua yang bernilai harus tampil di panggung, tidak semua yang bekerja harus terdengar gaduh, dan tidak semua kemajuan bisa diukur dari seberapa tinggi bangunan yang berhasil didirikan.


Di balik kehidupan pekon yang terlihat sederhana, ada tanggung jawab besar yang sering luput dari perhatian: menjaga adat istiadat, merawat kebudayaan, dan meneruskan nilai-nilai luhur yang menjadi bagian dari ruh kehidupan berbangsa.


Pekon bukan sekadar wilayah administratif yang memiliki kepala pekon, aparat, dan daftar program pembangunan. Pekon juga merupakan ruang tempat nilai-nilai diwariskan, tata krama dipelajari, identitas dijaga, dan hubungan antarmanusia dirawat melalui tradisi. Di sana, ada pengetahuan yang tidak selalu tertulis dalam buku, tetapi hidup dalam kebiasaan dan dipraktikkan dari generasi ke generasi. Ironisnya, sesuatu yang setiap hari berada begitu dekat dengan kehidupan kita justru sering dianggap biasa, sampai suatu ketika tradisi itu hilang dan kita baru sibuk bertanya: mengapa anak-anak sekarang tidak lagi mengenalnya?


Ambil contoh Betangguh atau Nangguh. Dalam tradisi masyarakat Lampung, kemampuan ini bukan sekadar perkara pandai berbicara di hadapan orang lain. Seorang lelaki dewasa di pekon idealnya memahami bagaimana menyampaikan maksud, membuka percakapan, menghormati lawan bicara, dan menempatkan diri dalam pergaulan adat. Bahasa yang digunakan tidak melulu bahasa sehari-hari, tetapi bisa sarat metafora, kiasan, kesantunan, dan aturan yang menuntut kepekaan.

 

Ada cara untuk menyampaikan maksud tanpa mempermalukan, ada etika untuk menyampaikan keberatan tanpa merendahkan, dan ada kehormatan yang dijaga melalui pilihan kata. Betapa menariknya, ketika dunia modern sibuk mengadakan pelatihan komunikasi, negosiasi, dan public speaking, di pekon kita sesungguhnya telah lama mengenal pendidikan komunikasi melalui tradisi. Bedanya, sertifikatnya mungkin tidak digantung di dinding, tetapi kemampuannya diuji langsung dalam kehidupan bermasyarakat. Tentu saja, tradisi ini perlu terus dipelajari dan disesuaikan dengan perkembangan zaman, bukan sekadar dibanggakan sebagai warisan masa lalu.


Kemudian ada Bedua, yang secara harfiah dapat dipahami sebagai kemampuan memimpin doa. Namun, maknanya dalam kehidupan sosial jauh lebih luas daripada sekadar melafalkan rangkaian kalimat berbahasa Arab di hadapan orang banyak.


Seorang lelaki dewasa di pekon diharapkan memiliki bekal keagamaan: mampu membaca Al-Qur'an, menjadi imam salat sesuai kemampuannya, memahami dasar-dasar agama, dan menjadikan nilai-nilai Islam sebagai pedoman dalam bertindak. Sebab, ilmu agama bukan hanya perkara fasih melafalkan ayat atau lancar menyampaikan nasihat, melainkan juga tentang kejujuran, tanggung jawab, keadilan, kepedulian, dan kemampuan menjaga hubungan baik dengan sesama.


Apa gunanya suara lantang ketika memimpin doa jika dalam kehidupan sehari-hari masih gemar mengingkari janji? Apa artinya pengetahuan agama jika tetangga dibiarkan kesusahan, hak orang lain diabaikan, dan perbedaan justru menjadi alasan untuk bermusuhan? Di sinilah nilai Bedua menemukan makna sosialnya: agama tidak berhenti di lisan, tetapi harus menjelma menjadi perilaku.


Ada pula Bediker atau Bedikir, yang dalam bentuk tertentu dikenal melalui pembacaan Barzanji dengan iringan rebana. Namun, jika dipahami lebih luas, tradisi ini memperlihatkan kemampuan masyarakat dalam mengolah vokal, irama, dan musik sebagai bagian dari ekspresi budaya serta kehidupan bersama. Ada latihan, kekompakan, penghayatan, dan proses belajar yang tidak selalu disadari sebagai pendidikan. Orang-orang berkumpul, menyelaraskan suara, menjaga tempo, dan menghidupkan suasana melalui kesenian yang diwariskan.


Di tengah kehidupan modern yang menyediakan berbagai panggung hiburan, pekon memiliki panggungnya sendiri, dengan nilai kebersamaan yang tidak selalu bisa dibeli melalui tiket pertunjukan. Tradisi seperti ini tentu bukan alasan untuk menutup diri dari kesenian lain. Justru sebaliknya, ia menjadi modal budaya yang bisa dikembangkan, diperkenalkan kepada generasi muda, dan dipertemukan dengan kreativitas zaman sekarang tanpa kehilangan akar identitasnya.


Karena itu, sudah waktunya kita berhenti mempertentangkan pekon dan kota seolah-olah keduanya sedang berlomba menentukan siapa yang lebih maju. Kota memiliki keunggulan dalam teknologi, akses informasi, pendidikan, dan berbagai inovasi. Pekon memiliki kekayaan dalam kedekatan sosial, pengetahuan lokal, adat istiadat, serta praktik kebudayaan yang menjadi bagian dari identitas masyarakat. Keduanya tentu memiliki persoalan dan kekurangannya masing-masing.


Pekon tidak boleh menjadikan adat sebagai alasan untuk menolak perubahan, sementara kota jangan sampai menganggap tradisi sebagai peninggalan usang yang tidak lagi relevan. Kemajuan infrastruktur perlu berjalan bersama kemajuan kebudayaan. Kecakapan digital perlu berdampingan dengan etika berkomunikasi. Kecerdasan intelektual perlu bertemu dengan kematangan moral. Dan pembangunan ekonomi perlu tetap memberi ruang bagi identitas serta martabat masyarakat.


Pada akhirnya, kejayaan bangsa dan negara tidak hanya ditentukan oleh mereka yang bekerja di balik meja kantor, memimpin perusahaan, merancang kebijakan, atau membangun gedung-gedung tinggi. Ada pula mereka di pekon yang menjaga bahasa, mengajarkan tata krama, memimpin doa, melantunkan Barzanji, memainkan rebana, dan memastikan anak-anaknya mengenal akar kebudayaan sendiri.


Mungkin pekerjaan mereka tidak selalu tercatat dalam laporan kinerja, tidak masuk dalam presentasi pembangunan, bahkan jarang mendapatkan tepuk tangan. Namun, ketika tradisi itu tetap hidup, sesungguhnya ada mata rantai kebudayaan yang berhasil dipertahankan. Tentu, menjaga adat bukan berarti membekukan semua kebiasaan lama; tradisi juga perlu ditimbang, dirawat, dan dikembangkan agar tetap selaras dengan nilai kemanusiaan dan perkembangan zaman.


Pekon tidak perlu menjadi kota untuk dianggap maju, sebagaimana kota tidak perlu kehilangan akar budayanya untuk disebut modern. Yang kita perlukan adalah kesediaan untuk saling belajar, saling menghormati, dan saling menguatkan. Sebab, bangsa yang besar bukan bangsa yang hanya pandai berlari menuju masa depan, melainkan bangsa yang tahu dari mana ia berasal, nilai apa yang patut dijaga, dan warisan apa yang harus diserahkan kepada generasi berikutnya.


Dan jika masih ada yang menganggap kehidupan di pekon itu remeh-temeh, barangkali ia perlu sesekali pulang, duduk bersama para tetua adat, mendengarkan petuah dalam Betangguh, menyimak doa dalam Bedua, dan merasakan kebersamaan dalam Bediker. Siapa tahu, dari sana ia menemukan sesuatu yang tidak selalu diajarkan di ruang-ruang modern: bahwa kemajuan bukan sekadar tentang seberapa jauh kita melangkah, tetapi juga tentang seberapa kuat kita menjaga nilai-nilai yang membuat kita tetap menjadi sebuah bangsa.


Jangan remehkan pekon. Di sanalah akar kebudayaan tumbuh, dan dari akar itulah sebuah bangsa berdiri.

Post a Comment

Previous Post Next Post