Pendampingan Tidak Bisa Hanya dari Teori



Dalam manajemen, sering dikatakan: semakin tinggi jabatan, kemampuan mengelola meningkat, sementara keterampilan teknis menurun. Sebaliknya, yang berada di level bawah biasanya kuat teknis, tapi terbatas dalam mengatur. Rumus ini masuk akal di organisasi formal, tapi tidak selalu berlaku di pendampingan.

 

Pendampingan hidup di lapangan, bukan di atas kertas. Teori membantu, tapi tidak cukup. Pendampingan mirip belajar naik sepeda: tidak bisa mahir hanya dengan membaca buku atau menonton video. Sepeda hanya bisa dikayuh, jatuh, bangkit, dan mencoba lagi. Praktik yang nyata, bukan instruksi dari pinggir jalan, yang mengajari.

 

Masalahnya, masih ada pendamping yang lebih sibuk memberi arahan daripada menemani proses. Mereka cepat menasihati, tetapi jarang merasakan langsung tantangan di lapangan. Padahal kemampuan manajerial yang matang lahir dari pengalaman teknis yang panjang. Pendamping yang baik tahu kapan harus memimpin, kapan menemani, dan kapan memberi ruang agar dampingan belajar sendiri. Semua itu datang dari jam terbang, bukan jabatan.

 

Jam terbang membentuk kepekaan. Pendamping berpengalaman lebih sabar, tidak tergesa-gesa, dan paham bahwa proses pendampingan tidak selalu cepat atau rapi. Pendampingan yang dijalankan hanya dari teori hanya menghasilkan ketergantungan, bukan kemandirian. Dampingan menunggu arahan, bukan belajar mengambil keputusan.

 

Pendampingan yang sehat menuntut keberanian untuk turun ke lapangan, ikut mengayuh, merasakan beratnya jalan, bahkan jatuh dan bangkit bersama. Pendamping yang dipercaya bukan yang paling fasih menjelaskan, tapi yang mau menemani proses dari dekat. Pendampingan, seperti sepeda, tidak bisa dikuasai dari teori—ia hanya bisa dipelajari dengan terus mengayuh.

 

Post a Comment

Previous Post Next Post