Pernahkah Anda bertemu seseorang yang kehadirannya terasa melelahkan—bukan karena ia jahat, melainkan karena segala hal selalu harus berpusat pada dirinya? Ia tampak bercahaya di luar, penuh keyakinan dan pesona, namun rapuh di dalam. Ia keras mempertahankan citra, seolah runtuh adalah aib terbesar yang tak boleh terjadi.
Bisa jadi, Anda tidak sedang berhadapan dengan pribadi yang sekadar sulit. Bisa jadi, ia sedang bergulat dengan Narcissistic Personality Disorder (NPD)—sebuah gangguan kepribadian yang membuat seseorang merasa dirinya lebih penting, lebih layak, dan lebih unggul dibandingkan orang lain.
Pribadi dengan kecenderungan narsistik umumnya menunjukkan pola perilaku yang menguras emosi orang di sekitarnya. Mereka sangat mementingkan diri sendiri, gemar berfantasi tentang kesuksesan, kekuasaan, kecerdasan, dan keistimewaan diri. Mereka meyakini dirinya unggul dan hanya mau bergaul dengan orang yang dianggap setara. Pujian menjadi kebutuhan, bukan sekadar apresiasi—sebab di sanalah harga diri mereka bertumpu. Ketika keinginan tak terpenuhi, amarah mudah muncul. Empati rendah, manipulasi terasa wajar, dan pencapaian orang lain kerap dipandang dengan iri atau direndahkan. Kesombongan pun hadir sebagai pelindung, bukan sebagai kekuatan.
Tidak berhenti sampai di situ, pribadi narsistik juga sangat sensitif terhadap kritik, penolakan, dan kegagalan. Mereka menghindari situasi apa pun yang berpotensi membuatnya tampak kalah, kecil, atau tidak unggul. Kritik terasa seperti ancaman, bukan masukan. Kegagalan dipersepsi sebagai kehancuran identitas.
Sering kali, narsistik disalahpahami sebagai rasa percaya diri. Padahal, keduanya bertolak belakang. Pada pengidap NPD, rasa percaya diri tidak pernah benar-benar kokoh. Ia rapuh dan sepenuhnya bergantung pada pengakuan eksternal. Prestasi dijadikan alat pembuktian, bukan ruang syukur. Dominasi dipakai sebagai tameng, bukan ekspresi kekuatan sejati. Sikap narsistik lahir dari ketakutan akan kalah, sementara percaya diri tumbuh dari penerimaan diri.
Hingga kini, penyebab pasti gangguan kepribadian narsistik belum sepenuhnya diketahui. Namun, berbagai faktor diyakini berperan: faktor neurobiologis yang berkaitan dengan struktur dan fungsi otak; riwayat keluarga dengan gangguan kepribadian serupa; pola asuh yang tidak seimbang—terlalu menuntut atau justru terlalu memanjakan; pengalaman masa kanak-kanak yang dipenuhi pujian berlebihan atau kritik ekstrem; serta trauma emosional seperti penelantaran dan kekerasan. Tidak jarang, ego yang membesar adalah benteng pertahanan anak yang tumbuh tanpa rasa aman.
Dalam ekspresinya, narsistik tidak selalu tampil sama. Ada yang tampak mencolok dan dominan—arogan, kompetitif, gemar mengintimidasi, dan terang-terangan merendahkan orang lain. Ada pula yang terselubung: tampak pendiam dan rendah hati, namun menyimpan keyakinan bahwa dirinya lebih unggul dan kerap memosisikan diri sebagai korban karena merasa dunia gagal mengenali potensinya. Ada narsistik yang bersifat antisosial—manipulatif, pendendam, dan tak memiliki rasa bersalah saat memanfaatkan orang lain. Ada pula yang tampak prososial: gemar berbuat baik, namun tujuannya bukan empati, melainkan pengakuan dan validasi. Pada tipe terakhir ini, kebaikan sering kali berubah menjadi panggung.
Penanganan NPD bukan perkara mudah, namun bukan pula mustahil. Psikoterapi menjadi pendekatan utama, seperti terapi perilaku kognitif, terapi perilaku dialektika, terapi metakognitif, serta terapi pasangan atau keluarga. Obat-obatan dapat diberikan untuk membantu mengelola gejala seperti depresi, kecemasan, atau gangguan emosi lainnya, meski tidak menyembuhkan NPD secara langsung. Semua penanganan medis harus berada di bawah pengawasan profesional.
Lalu, bagaimana menghadapi orang dengan gangguan narsistik? Langkah pertama adalah mengenali mereka apa adanya. Pesona bisa menipu, maka perhatikan bagaimana mereka memperlakukan orang lain saat tidak menjadi pusat perhatian. Langkah berikutnya adalah berhenti menjadikan mereka pusat dunia. Kebutuhan dan perasaan Anda juga penting. Menjaga diri bukanlah egois; itu adalah bentuk kewarasan. Pada saat tertentu, Anda perlu berani membela diri—menyampaikan dampak perilaku mereka dengan tenang dan jelas, meski harus siap bahwa mereka mungkin tidak memahami atau tidak peduli. Dan yang terpenting, tetapkan batasan yang tegas. Batasan bukan bentuk permusuhan, melainkan perlindungan diri.
Di balik keangkuhan narsistik, sering tersembunyi jiwa yang ketakutan. Namun memahami luka seseorang tidak berarti membenarkan perilakunya. Empati tidak pernah mengharuskan kita kehilangan diri sendiri.
Sebab kesehatan jiwa bukan hanya tentang memahami orang lain,
melainkan tentang tetap utuh saat berhadapan dengan mereka.
Referensi:
Good
Therapy. Diakses pada 2020. How to Deal with a Narcissist.
Healthline.
Diakses pada 2020. Tips for Dealing with a Narcissistic Personality.
Help
Guide. Diakses pada 2020. Narcissistic Personality Disorder.
Sumber
: https://hellosehat.com/mental/mental-lainnya/narsistik/
Siloam-At-Home:
https://wa.me/628111950181

.png)
Post a Comment