Di negeri ini, kita mudah terharu oleh
apa yang mengepul di atas meja. Nasi hangat, lauk sederhana, anak-anak yang
tersenyum karena perutnya tak lagi kosong. Kita menyebutnya program makan
bergizi gratis, lalu menyematkan harapan besar di atasnya—bahwa dari dapur-dapur
yang menyala itu akan lahir generasi yang lebih kuat, lebih cerdas, dan lebih
siap menatap masa depan. Kita merayakan angka-angka perbaikan gizi, menuliskan
optimisme tentang bonus demografi, dan percaya bahwa kecukupan nutrisi adalah
jalan sunyi menuju Indonesia yang lebih bermartabat.
Namun di bawah lantai rumah-rumah kita,
di balik dinding kamar mandi yang tak pernah masuk panggung perayaan, ada ruang
lain yang menentukan nasib yang sama. Ruang itu sunyi, gelap, dan jarang kita
bicarakan: septic tank yang menyimpan limbah kehidupan sehari-hari. Di sanalah
kebijakan bernama Layanan Lumpur Tinja Terjadwal bekerja tanpa tepuk tangan. Ia
tidak menghadirkan foto yang indah. Ia datang dalam bentuk truk penyedot tinja,
bau yang menyengat, dan jadwal pengurasan yang sering kita tunda. Tetapi justru
di situlah kesehatan publik dijaga agar tidak runtuh pelan-pelan.
Kita sering lupa bahwa gizi yang baik
bisa tak berdaya jika air yang diminum tercemar. Bahwa sepiring makanan bergizi
bisa kalah oleh bakteri yang merembes dari septic tank yang tak pernah dikuras.
Kita bersemangat memberi asupan terbaik bagi anak-anak, tetapi lalai memastikan
lingkungan tempat mereka tumbuh benar-benar sehat. Padahal, pembangunan manusia
tak hanya soal apa yang masuk ke tubuh, melainkan juga tentang bagaimana kita
mengelola apa yang keluar darinya.
Dapur dan septic tank sesungguhnya
sedang berbicara tentang hal yang sama: martabat. Dapur yang menyala adalah
simbol kehadiran negara dalam urusan paling dasar—mengenyangkan yang lapar,
menguatkan yang lemah. Sementara layanan lumpur tinja terjadwal adalah simbol
tanggung jawab—bahwa kita tidak membiarkan limbah mencemari tanah dan air yang
menjadi sumber kehidupan. Yang satu memberi harapan di atas meja, yang lain
menjaga harapan itu tetap bersih di bawah tanah.
Sering kali kita lebih mencintai
kebijakan yang tampak heroik, yang mudah difoto dan dibagikan. Kita bangga pada
program yang bisa dirayakan di ruang publik. Tetapi pembangunan yang sejati
justru diuji oleh kesetiaan pada hal-hal yang tak terlihat. Mengurus sanitasi
bukan perkara populer, namun ia adalah fondasi. Tanpa sanitasi yang baik,
penyakit mudah menyelinap, diare dan infeksi menggerogoti tubuh, dan manfaat
gizi perlahan terhapus.
Di sinilah konsistensi diuji. Jangan
sampai kita membangun dapur megah di atas tanah yang tercemar. Jangan sampai
kita sibuk menyuapi generasi dengan menu terbaik, tetapi membiarkan mereka
minum dari sumur yang terkontaminasi. Negara yang sungguh-sungguh membangun
masa depan tidak boleh memilih antara yang tampak dan yang tersembunyi. Ia
harus hadir di ruang makan sekaligus di ruang sanitasi. Ia harus memastikan apa
yang masuk ke tubuh menumbuhkan kekuatan, dan apa yang keluar dari tubuh
dikelola dengan tanggung jawab.
Sebab masa depan tidak hanya dibentuk
oleh kepulan asap dapur, tetapi juga oleh disiplin menjaga kebersihan di bawah
tanah. Antara sendok dan septic tank, antara piring dan pipa pembuangan, kita
sedang belajar satu pelajaran penting: membangun manusia berarti merawatnya
dari hulu hingga hilir. Dari meja makan sampai ke dasar bumi tempat limbah
disimpan, dari yang terlihat hingga yang sengaja kita abaikan.
Dan mungkin di sanalah peradaban
diuji—bukan hanya pada seberapa banyak kita memberi makan, tetapi pada seberapa
sungguh kita menjaga agar kehidupan tetap bersih, sehat, dan bermartabat.
Post a Comment