Kita sering membersihkan yang tampak, tetapi menunda yang tersembunyi.
Halaman disapu, pagar dicat, ruang tamu
ditata agar enak dipandang. Namun di bawah lantai rumah kita, ada ruang sunyi
yang jarang disentuh kesadaran—septik tank yang bekerja diam-diam, menyimpan
sisa kehidupan sehari-hari.
Di situlah sesungguhnya peradaban diuji.
Layanan Lumpur Tinja Terjadwal (LLTT)
bukan sekadar program teknis. Ia adalah ikhtiar menjaga martabat lingkungan. Ia
adalah pengingat bahwa kebersihan bukan hanya soal yang terlihat dan tercium,
melainkan juga yang tersembunyi dan sering kita abaikan. Bahwa kesehatan bukan
sekadar berobat ketika sakit, tetapi disiplin mencegah sebelum masalah datang.
Namun sebuah program tidak cukup hanya
ada. Ia harus dipahami. Ia harus diterima. Ia harus dihadirkan dengan bahasa
yang membumi dan pendekatan yang menyentuh nurani.
Di sinilah komunikasi menjadi kunci.
LLTT perlu diberi wajah yang
bersahabat—nama yang mudah diingat, slogan yang sederhana, identitas visual
yang rapi. Mobil layanan yang bersih dan profesional bukan hanya simbol teknis,
tetapi pesan bahwa negara hadir menjaga hal-hal yang sering kita lupakan.
Ruang-ruang dialog pun perlu dihidupkan.
Balai desa, musyawarah RT, pengajian, pertemuan PKK—semua adalah panggung
kesadaran. Bukan sekadar angka yang dipaparkan, melainkan kisah yang dibagikan.
Tentang air sumur yang harus tetap jernih. Tentang anak-anak yang berhak tumbuh
sehat. Tentang tanah yang tidak layak diwariskan dalam keadaan tercemar.
Peluncuran program tidak cukup berhenti
pada seremoni. Ia harus menjadi gerakan bersama. Ketika pemimpin memberi
contoh, pesan yang lahir bukan sekadar simbolik, melainkan etis: bahwa sanitasi
adalah tanggung jawab kolektif.
Momentum komunikasi juga perlu cerdas
membaca waktu. Dan salah satu waktu terbaik itu adalah hari raya.
Hari raya adalah peristiwa sosial yang
mempertemukan banyak orang dalam suasana hangat. Ada arus mudik dan arus balik.
Ada pertemuan keluarga dan silaturahmi. Di saat itulah kesadaran tentang
kebersihan lahir dan batin sedang berada dalam suasana yang tepat untuk
disentuh.
Di pelabuhan, ketika kapal bersandar dan
ribuan penumpang turun membawa rindu, pesan tentang LLTT dapat hadir melalui
baliho, videotron, atau informasi ramah yang tidak menggurui. Di terminal,
ketika orang menunggu keberangkatan, video edukasi singkat bisa diputar
berulang—mengingatkan bahwa rumah yang bersih bukan hanya yang tampak rapi,
tetapi juga yang terawat sistem sanitasinya.
Di pusat keramaian, pasar musiman, dan
alun-alun kota, stan informasi sederhana bisa menjadi ruang dialog. Bukan
sekadar membagikan brosur, tetapi membuka percakapan.
Dan jangan lupakan rest area.
Rest area adalah ruang jeda di tengah
perjalanan panjang. Orang berhenti, beristirahat, menggunakan fasilitas
sanitasi umum. Di sanalah kesadaran bisa tumbuh dengan cara yang sangat alami.
Banner sederhana bertuliskan, “Sudahkah Septik Tank Rumah Anda Disedot
Terjadwal?” dapat menjadi refleksi kecil di antara secangkir kopi dan langkah
yang lelah.
Rest area mengajarkan bahwa perjalanan
panjang membutuhkan tempat berhenti. Demikian pula perubahan perilaku
membutuhkan momen untuk merenung.
Momentum hari raya bukan hanya
perpindahan manusia dari satu kota ke kota lain. Ia adalah perpindahan
kesadaran. Ketika nilai kebersihan batin dirayakan, pesan tentang kebersihan
lingkungan akan lebih mudah diterima.
Pada akhirnya, LLTT bukan tentang lumpur
tinja semata. Ia tentang air yang tetap jernih. Tentang tanah yang tidak
menyimpan kelalaian kita. Tentang generasi yang tumbuh tanpa beban pencemaran
yang kita wariskan.
Kita boleh membangun jalan yang panjang
dan gedung yang tinggi. Namun peradaban yang sejati dimulai dari kesadaran
menjaga yang tak terlihat.
Menjadwalkan lumpur tinja sesungguhnya
adalah menjadwalkan kepedulian.
Dan kepedulian yang dirawat bersama akan
menjadi warisan paling bersih yang dapat kita tinggalkan.
Post a Comment