Daya tidak pernah hadir
sebagai peristiwa besar yang gemuruh. Ia tidak datang seperti pidato, tidak
pula seperti proyek. Daya tumbuh diam-diam, seperti akar yang bekerja di bawah
tanah—tak terlihat, tetapi menentukan apakah pohon akan tegak atau tumbang
ketika angin datang. Karena itu, merawat daya bukan perkara menambah sesuatu
yang baru, melainkan menjaga agar yang telah ada tidak rusak, tidak patah, dan
tidak kehilangan arah.
Dalam banyak forum,
pemberdayaan sering dibicarakan dengan bahasa yang rapi dan optimistis. Ia
hadir dalam bagan, target, dan indikator keberhasilan. Namun kehidupan berjalan
dengan cara yang jauh lebih sunyi. Di sana, pemberdayaan bukan konsep,
melainkan proses panjang yang kerap melelahkan. Ia lahir dari pergulatan batin
seseorang dengan dirinya sendiri, dari keluarga yang bertahan di tengah keterbatasan,
dan dari masyarakat yang mencoba tetap waras di tengah ketimpangan.
Pemberdayaan diri adalah
titik mula yang paling dasar, sekaligus paling sulit. Ia menuntut keberanian
untuk jujur pada diri sendiri—tentang kelemahan, tentang ketakutan, tentang
batas-batas yang sering disembunyikan di balik alasan. Daya di sini bukan
sekadar keterampilan atau pengetahuan, melainkan kesanggupan mengatur hidup
dengan sadar: bangun ketika harus bangun, menunda ketika harus menunda, dan
bertanggung jawab atas pilihan yang diambil. Saya belajar bahwa orang yang
benar-benar berdaya bukan yang paling banyak berbicara tentang perubahan,
melainkan yang paling tekun mengubah dirinya sendiri.
Namun manusia tidak
pernah hidup sebagai individu yang utuh sendirian. Daya yang tumbuh di dalam
diri segera diuji di ruang yang paling dekat: keluarga. Di sanalah nilai tidak
diajarkan lewat ceramah, melainkan lewat contoh. Cara orang tua bekerja,
bersikap, mengelola emosi, dan mengambil keputusan menjadi kurikulum hidup yang
paling menentukan. Pemberdayaan keluarga bukan semata soal ekonomi, tetapi soal
kemampuan merawat relasi—mendengarkan, bermusyawarah, dan berbagi tanggung
jawab. Keluarga yang berdaya tidak bebas dari masalah, tetapi memiliki daya
tahan untuk tidak saling meruntuhkan.
Dari keluarga, daya
bergerak ke ruang yang lebih luas: masyarakat. Di titik ini, daya diuji dalam
bentuk yang lebih kompleks. Ia berhadapan dengan perbedaan kepentingan,
ketimpangan kuasa, dan godaan untuk saling meniadakan. Pemberdayaan masyarakat
bukan sekadar kehadiran dalam rapat atau proyek pembangunan, melainkan
kesanggupan membangun kepercayaan dan keadilan. Masyarakat yang berdaya tidak
bergantung pada satu tokoh, satu program, atau satu musim anggaran. Ia bertumpu
pada etika bersama dan kepemimpinan yang menyebar.
Ketika daya tidak dirawat
sejak awal, ia sering mencari saluran yang keliru. Kita melihatnya pada
maraknya tawuran pelajar—anak-anak yang seharusnya sedang belajar mengenali
diri dan masa depan, justru terjebak dalam kekerasan sebagai cara cepat untuk
merasa berarti. Kita menyaksikan meningkatnya penggunaan obat terlarang, seolah
candu menjadi jalan pintas untuk lari dari tekanan yang tak pernah sempat
dibicarakan. Ini bukan semata kenakalan remaja, melainkan gejala daya yang kehilangan
ruang tumbuh.
Di tingkat yang lebih
tinggi, kerusakan daya itu menjelma dalam praktik korupsi yang seolah tak
pernah benar-benar selesai. Korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum, melainkan
kegagalan batin yang panjang. Ia lahir dari daya yang tidak dibiasakan jujur
sejak kecil, dari keluarga yang gagal menanamkan rasa cukup, dan dari
masyarakat yang lebih sibuk mengagungkan hasil daripada proses. Ketika jabatan
tak lagi dipahami sebagai amanah, ia berubah menjadi alat untuk membalas rasa
kurang yang lama dipendam.
Ironi terbesar terletak
pada kenyataan bahwa semua itu terjadi di negeri yang kaya sumber daya alam.
Tanahnya subur, lautnya luas, hutannya rimbun, dan perut buminya menyimpan
kekayaan yang nyaris tak habis diceritakan. Namun kelimpahan itu sering kali berdiri
bersebelahan dengan kemiskinan, konflik, dan kerusakan lingkungan. Bukan karena
alam pelit memberi, melainkan karena manusia gagal merawat daya kelola—daya
pikir, daya etika, dan daya tanggung jawab.
Tambang menghasilkan
angka, tetapi tidak selalu menghadirkan keadilan. Sawah yang luas tidak
otomatis menjamin kedaulatan pangan. Laut yang kaya justru meninggalkan nelayan
yang terpinggirkan. Di sini, persoalannya bukan pada kekurangan sumber daya,
melainkan pada rapuhnya daya manusia dalam mengelola amanah. Kekayaan yang
tidak dibarengi dengan daya moral hanya akan mempercepat kerusakan.
Islam memandang persoalan
ini dengan terang. Perubahan, kata Al-Qur’an, tidak akan datang dari luar
selama yang di dalam tidak dibenahi. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah
keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri
(QS. Ar-Ra’d: 11). Ayat ini menempatkan daya batin sebagai kunci sejarah.
Kekerasan, candu, dan korupsi bukan takdir, melainkan konsekuensi dari daya
yang dibiarkan tumbuh tanpa arah.
Keluarga, dalam Islam,
adalah benteng pertama perawatan daya. Wahai orang-orang yang beriman, jagalah
dirimu dan keluargamu dari api neraka (QS. At-Tahrim: 6). Ini bukan sekadar perintah
moral, tetapi panggilan tanggung jawab. Ketika keluarga abai, nilai kehilangan
rumahnya. Anak-anak pun belajar dari jalanan, dari layar, atau dari kekerasan.
Pengelolaan kekayaan dan
kekuasaan pun dipagari oleh amanah. Dan janganlah kamu memakan harta di antara
kamu dengan jalan yang batil (QS. Al-Baqarah:
188). Alam sendiri diposisikan sebagai titipan: Dia menciptakan kamu dari bumi dan
menjadikan kamu pemakmurnya (QS. Hud: 61). Memakmurkan berarti merawat, bukan
menguras. Mengelola berarti menjaga, bukan menguasai.
Nabi Muhammad SAW
mengingatkan bahwa setiap manusia adalah pemimpin dan akan dimintai
pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Diri, keluarga, dan masyarakat
terikat dalam satu rantai amanah yang tak terpisahkan. Tidak ada yang
sepenuhnya bebas daari tanggung jawab, sekecil apa pun perannya.
Karena itu, merawat daya
adalah pekerjaan panjang yang menuntut kesabaran dan kesetiaan. Ia tidak selalu
tampak heroik. Ia hadir dalam percakapan sederhana di rumah, dalam keputusan
kecil yang jujur, dalam keberanian menolak jalan pintas. Dari sanalah daya
tumbuh—perlahan, tetapi berakar.
Di titik itulah
pemberdayaan menemukan maknanya yang paling jujur: bukan membuat manusia
sekadar mampu bertahan, melainkan membuat mereka tetap berdiri dengan martabat.
Tegak di hadapan diri, setia pada keluarga, dan bertanggung jawab pada
masyarakat. Tanpa perawatan daya yang sungguh-sungguh, kita hanya akan terus
mengulang paradoks lama: negeri yang kaya karunia, tetapi miskin keberkahan.
Post a Comment