Air Mengalir, Emosi Menggelegar

 

 


Ada saat-saat ketika ruang publik dipenuhi nada yang meninggi, seolah-olah setiap persoalan harus segera menemukan ujungnya. Dalam suasana seperti itu, emosi kerap datang lebih dulu daripada penjelasan. Padahal urusan publik, seperti air yang mengalir, membutuhkan kejernihan agar tidak semakin keruh oleh prasangka.

 

Baru-baru ini, publik menyaksikan potongan video Eva Dwiana yang akrab disapa Bunda Eva, berbicara dengan nada tinggi. Kata “bohong” terdengar berulang, mengarah kepada Elroy Koyari yang duduk di sampingnya. Di ruang yang semestinya menjadi tempat bertukar pikiran, suasana mendadak berubah. Air persoalan belum sempat jernih, tetapi riaknya telah lebih dulu melebar ke mana-mana.

 

Padahal sebelumnya, Elroy mengingatkan hal yang barangkali sederhana, namun sering terlewat: bahwa air tidak mengenal batas administratif. Sungai mengalir melampaui garis kewenangan. Ia melewati desa, kota, bahkan sekat-sekat ego manusia. Maka pengelolaannya pun menuntut kebersamaan, bukan sekadar pembagian peran, tetapi juga kesediaan untuk saling memahami.

 

Saat ini, kita hidup di zaman yang serba cepat. Birokrasi kerap dianggap lamban, berbelit, bahkan menghambat. Padahal di balik lapisan aturan dan prosedur itu, ada upaya menjaga agar keputusan tidak tergesa, agar kebijakan tidak meleset dari pijakan. Birokrasi, dalam niat awalnya, adalah cara agar air tetap mengalir pada jalurnya, tidak meluap karena kelalaian.

 

Sebagai orang awam, saya memilih bertanya, bukan menilai. Apakah setiap kegelisahan perlu hadir dalam bentuk kemarahan di ruang terbuka? Apakah menunjuk dan melabeli adalah satu-satunya cara menyampaikan ketidakpuasan? Ataukah ada ruang yang lebih teduh untuk menyampaikan hal yang sama, tanpa harus meninggalkan luka di hadapan publik?

 

Lalu pertanyaan lainnya. Mengapa yang lebih dahulu sampai kepada masyarakat bukan gambaran utuh atau peta jalan tentang langkah penanganan dan pencegahan banjir di Bandar Lampung sebagaimana yang dijanjikan dalam visi misi? Bukankah kejelasan arah akan lebih mencerdaskan, sekaligus mengundang partisipasi, daripada sekadar potongan-potongan peristiwa yang datang setiap kali hujan turun? Dan jika keadaan memang mendesak, mungkinkah ada jalur yang lebih ringkas untuk ditempuh, misalnya melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana, agar langkah bisa bergerak lebih cepat tanpa harus tersendat oleh panjangnya proses?

 

Kita tentu tidak sedang mencari siapa yang benar dan siapa yang keliru. Karena dalam dunia birokrasi, kebenaran sering kali berlapis. Ia membutuhkan waktu, proses, dan ketelitian untuk memastikannya. Namun bahkan jika ada kekeliruan, selalu ada cara yang lebih berimbang untuk menyikapinya. Cara yang tidak hanya menyelesaikan masalah, tetapi juga menjaga martabat semua pihak.

 

Sebab kepemimpinan bukan hanya tentang hasil, melainkan juga tentang cara menempuhnya. Ia bukan tentang siapa yang paling didengar, tetapi siapa yang paling mampu mendengar. Bukan tentang suara yang paling keras, tetapi tentang hati yang paling jernih. Layaknya air yang jernih tidak perlu berisik untuk menunjukkan kedalamannya.

 

Barangkali, yang lebih kita butuhkan hari ini bukan sekadar reaksi, tetapi refleksi. Jika ada dugaan maladministrasi, maka ruang yang tepat adalah ruang penilaian yang objektif. Di sanalah Ombudsman Republik Indonesia hadir, bukan untuk memperkeruh, melainkan untuk menjernihkan, melalui pemeriksaan dan rekomendasi yang bisa dipertanggungjawabkan.

 

Dan yang tak kalah penting, setiap forum seperti Focus Group Discussion semestinya tidak berhenti pada seremoni. Yang perlu sampai ke masyarakat adalah kejelasan tentang apa yang direkomendasikan. Dari sanalah publik bisa ikut menilai, mengingat, bahkan mengawasi sejauh mana arah itu benar-benar dijalankan di Bandar Lampung tercinta. Karena partisipasi tidak tumbuh dari kegaduhan, tetapi dari kejelasan yang bisa dipercaya.

 

Air akan selalu menemukan jalannya. Ia bisa tenang, bisa pula meluap. Namun manusia diberi akal dan nurani untuk memilih: menjadi aliran yang menenangkan, atau gelombang yang menggelegar tanpa arah.

 

Dan di situlah barangkali makna kepemimpinan diuji, bukan pada seberapa keras suara terdengar, tetapi pada seberapa jernih hati tetap terjaga, Wallahu A'lam Bish Shawab.

Post a Comment

Previous Post Next Post