Keberpihakan atau Kepura-puraan



Kita sering menyaksikan kebijakan publik disusun dengan bahasa yang rapi dan data yang meyakinkan. Angka-angka tampil seolah netral, bebas kepentingan. Namun di balik itu, ada manusia yang hidupnya justru semakin terasing dari keputusan yang diambil atas nama mereka. Dalam banyak program pemberdayaan dan pendampingan masyarakat, kebijakan menjadi ramah terhadap laporan, tetapi asing bagi pengalaman hidup warga. Data tidak lagi menjadi alat membaca kenyataan, melainkan sarana membenarkan pilihan yang sudah ditetapkan sejak awal.

 

Di sinilah pembangunan mulai kehilangan wajah manusianya. Ia berjalan cepat, terukur, dan efisien, tetapi lupa bertanya: untuk siapa semua ini dilakukan? Jalan dibangun, tetapi ruang hidup menyempit. Program pemberdayaan dijalankan, tetapi ruang bicara warga dipersempit. Pendamping hadir membawa modul, bukan telinga. Proyek selesai tepat waktu, namun masyarakat tetap menjadi penonton di tanahnya sendiri.

 

Lebih ironis lagi, persoalan yang tak kunjung selesai sering menjadi sumber kenyamanan bagi sebagian pihak. Kemiskinan yang “didampingi”, ketimpangan yang “dikelola”, konflik yang “difasilitasi”—semuanya memberi peluang bagi mereka yang hidup dari status quo. Program berganti nama, pendekatan diklaim partisipatif, laporan disusun rapi, sementara akar masalah tetap utuh. Ketidakadilan yang dipelihara bukan kebetulan; ia adalah hasil dari pilihan kolektif yang menolak keberpihakan sejati.

 

Di tengah situasi ini, netralitas dipuji sebagai kebajikan. Pendamping diminta “tidak memihak”, fasilitator dituntut “menjaga jarak”. Padahal berdiri di tengah sering kali berarti membiarkan yang kuat tetap dominan. Dalam konteks pemberdayaan, netralitas bukanlah etika, melainkan kepura-puraan yang menghindari tanggung jawab moral. Ketidakadilan bukan abstraksi; ia hadir dalam wajah warga yang lelah mengikuti musyawarah tanpa keputusan, dalam janji program yang berulang, dalam harapan yang perlahan menipis.

 

Pemberdayaan yang sejati tidak lahir dari modul rapi atau indikator keberhasilan yang kaku, melainkan dari kesediaan untuk hadir di sisi masyarakat yang paling rentan. Berpihak berarti menempatkan perhatian, waktu, dan kesabaran pada mereka yang selama ini hanya dijadikan objek program. Mendengar sebelum merancang, berjalan bersama sebelum menilai, dan memberi ruang bagi warga untuk menentukan arah hidupnya sendiri. Tanpa keberpihakan itu, pendampingan hanya menjadi rutinitas administratif yang tampak partisipatif, tetapi hampa di kenyataan.

 

Barangkali, tugas kita hari ini bukan menyempurnakan istilah pemberdayaan, melainkan  jujur pada praktiknya. Di sisi mana kita berdiri ketika suara warga berbeda dengan rencana proyek? Ketika kepentingan masyarakat tidak sejalan dengan target program? Sebab dalam pemberdayaan, yang paling dibutuhkan bukan pendamping yang rapi berjarak, melainkan mereka yang bersedia hadir, bertahan, dan berpihak ketika keberpihakan terasa mahal. Di sanalah pemberdayaan menemukan maknanya—bukan sebagai proyek, tetapi sebagai ikhtiar memanusiakan manusia.

 

 

Post a Comment

أحدث أقدم