Proyek Bernama Pemberdayaan, Hasilnya Ketergantungan



Setiap tahun, kata pemberdayaan  terdengar begitu akrab di telinga publik. Program diluncurkan, anggaran digelontorkan, dan laporan keberhasilan disusun rapi. Namun di banyak kampung, cerita yang terdengar justru berbeda. Bantuan datang bergantian, sementara kemandirian tak kunjung terlihat. Yang tumbuh bukan daya, melainkan kebiasaan menunggu.

 

Masalahnya bukan semata pada niat, tetapi pada cara kebijakan memandang masyarakat. Dalam praktik, warga masih sering ditempatkan sebagai penerima, bukan penentu. Program dirancang jauh dari ruang hidup mereka, lalu diturunkan sebagai paket jadi. Partisipasi pun kerap berhenti pada kehadiran di musyawarah, bukan keterlibatan dalam keputusan.

 

Dalam logika kebijakan, pemberdayaan sering disederhanakan menjadi proyek. Ada target, indikator, dan tenggat waktu. Hal-hal yang tak mudah diukur—seperti kesadaran, keberanian mengambil keputusan, dan rasa percaya diri—sering kali terpinggirkan. Akibatnya, yang tumbuh adalah kepatuhan pada prosedur, bukan kekuatan sosial.

 

Tahapan pemberdayaan seharusnya berjalan manusiawi. Dimulai dari penyadaran—mengajak masyarakat mengingat bahwa mereka pernah mampu. Dilanjutkan dengan penguatan kapasitas—bukan sekadar pelatihan singkat, tetapi proses pendampingan yang sabar. Hingga akhirnya pendayaan—memberi ruang bagi masyarakat untuk mengambil keputusan, termasuk hak untuk berbeda dan belajar dari kesalahan sendiri. Ketika tahapan ini dipadatkan demi mengejar jadwal dan serapan anggaran, pemberdayaan kehilangan maknanya.

 

Persoalan lain muncul dari cara kerja yang sektoral. Setiap lembaga datang dengan program dan caranya sendiri. Masyarakat pun menjadi sasaran berbagai intervensi yang tumpang tindih. Ketika satu program selesai, program lain datang menggantikan. Yang bertahan justru pola ketergantungan.

 

Tak jarang, keberhasilan pemberdayaan diukur dari rapinya laporan dan habisnya anggaran. Program dinyatakan sukses, sementara masyarakat kembali ke titik awal. Di sini, pemberdayaan berubah menjadi rutinitas birokrasi—berjalan, selesai, lalu pergi.

 

Padahal, pemberdayaan menuntut keberanian untuk melepaskan kendali. Negara seharusnya hadir sebagai penjamin akses dan keadilan, bukan pengatur detail kehidupan warga. Tanpa keberanian ini, pemberdayaan akan terus berputar di tempat: semakin banyak program, semakin tipis daya.

 

Pendampingan pun sering terjebak pada target. Pendamping didorong mengejar angka, bukan menjaga proses. Masyarakat diarahkan agar sesuai indikator, bukan didorong agar tumbuh dengan kesadarannya sendiri.

 

Dalam kerangka nilai, ini soal amanah. Kebijakan publik seharusnya melayani, bukan mengendalikan. Ketika masyarakat terus diperlakukan sebagai objek, yang terkikis bukan hanya efektivitas program, tetapi juga martabat warga.

 

Sudah saatnya cara pandang ini diubah. Dari proyek jangka pendek menuju proses jangka panjang. Dari kontrol menuju kepercayaan. Dari keseragaman menuju pengakuan konteks lokal. Tanpa perubahan itu, kita hanya akan terus mengulang cerita lama: proyek bernama pemberdayaan, hasilnya ketergantungan.

 

Sebab keberhasilan sejati pemberdayaan bukan diukur dari seberapa sering negara hadir, melainkan seberapa jauh masyarakat mampu berjalan tanpa harus terus menunggu.

 

Post a Comment

أحدث أقدم