Kemiskinan Bukan Takdir, Tapi Keputusan yang Diulang

 


Kita terlalu sering menyederhanakan kemiskinan. Ia direduksi menjadi soal malas bekerja, kurang bersyukur, atau sekadar nasib yang belum berpihak. Kalimat-kalimat semacam ini terdengar ringan, bahkan tampak bijak. Padahal, di balik kesederhanaannya, ada satu masalah serius: kita menolak melihat sistem yang bekerja diam-diam.

 

Kemiskinan bukan peristiwa tunggal. Ia adalah proses panjang. Ia tumbuh dari keputusan-keputusan yang diambil berulang kali—oleh negara, oleh pasar, oleh kebijakan, bahkan oleh cara kita memaknai keadilan. Ketika satu generasi miskin mewariskan kemiskinan kepada generasi berikutnya, itu bukan karena mereka gagal bermimpi, melainkan karena akses untuk bermimpi memang diputus sejak awal.

 

Di sinilah analisa sosial menjadi penting. Bukan untuk menyalahkan siapa pun secara serampangan, melainkan untuk membaca kenyataan secara utuh. Kita perlu berhenti memarahi buah yang jatuh, lalu mulai menengok akar yang rapuh. Pohon kemiskinan tumbuh di tanah yang tidak netral: ketimpangan akses pendidikan, kebijakan ekonomi yang lebih ramah modal daripada manusia, serta struktur sosial yang membatasi mobilitas orang kecil.

 

Namun kemiskinan tidak bertahan sendirian. Ia dijaga oleh relasi kuasa. Ada pihak-pihak yang diuntungkan dari murahnya tenaga kerja, dari ketergantungan ekonomi, dari bantuan sosial yang tidak pernah menyentuh akar masalah. Dalam situasi seperti ini, orang miskin bukan hanya kekurangan materi, tetapi juga kehilangan suara. Mereka hadir dalam statistik, tetapi absen dalam pengambilan keputusan.

 

Sejarah memperjelas keadaan ini. Banyak wilayah miskin hari ini adalah wilayah yang sejak lama dieksploitasi, dipinggirkan, atau dijadikan lumbung tanpa pernah diberi ruang menentukan arah hidupnya sendiri. Masalah tersebut tidak muncul tiba-tiba. Ia adalah akumulasi dari keputusan masa lalu yang tidak pernah dikoreksi, hanya diwariskan.

 

Yang membuat kemiskinan semakin sulit dipatahkan adalah pembenaran nilai. Ketika kemiskinan dianggap takdir, ketimpangan menemukan perlindungan paling kuatnya. Tafsir moral, adat, bahkan agama kerap—sadar atau tidak—ikut merapikan ketidakadilan agar tampak wajar. Orang miskin diajak sabar, tetapi jarang diajak berdaulat.

 

Padahal, kebijakan yang terlihat netral di atas kertas bisa sangat timpang di lapangan. Perempuan, masyarakat adat, dan kelompok rentan sering menanggung beban paling berat. Analisa sosial mengingatkan bahwa keadilan tidak cukup diukur dari niat baik, tetapi dari dampaknya bagi mereka yang paling lemah.

 

Kemiskinan juga tidak bisa diurai tanpa membedakan antara kebutuhan dan kepentingan. Banyak proyek pembangunan berdiri megah, tetapi meninggalkan rakyat di pinggir. Banyak program bantuan berjalan rutin, tetapi gagal mengubah struktur. Di titik inilah kemiskinan menjadi keputusan yang diulang—setiap kali kebijakan lebih memilih kenyamanan elit daripada keberdayaan rakyat.

 

Meski demikian, masyarakat tidak pernah sepenuhnya kehilangan daya. Di balik keterbatasan, selalu ada kekuatan: solidaritas, pengetahuan lokal, daya tahan, dan keberanian bertahan. Masalahnya bukan ketiadaan potensi, melainkan ketiadaan ruang. Ketika ruang itu ditutup, kemiskinan kembali diwariskan sebagai nasib.

 

Ukuran paling jujur dari sebuah kebijakan, pada akhirnya, bukanlah pertumbuhan angka, melainkan terjaganya martabat manusia. Apakah orang miskin memiliki pilihan? Apakah mereka punya suara? Apakah masa depan anak-anak mereka tidak lagi ditentukan oleh tempat kelahiran?

 

Jika kemiskinan terus berulang, maka kita patut jujur mengakuinya: ia bukan takdir yang turun dari langit, melainkan keputusan yang terus kita biarkan terjadi di bumi.

 

Penutup

 

Dalam keyakinan Islam, kemiskinan tidak pernah dimuliakan, dan ketidakadilan tidak pernah dibenarkan. Yang diperintahkan adalah keadilan, amanah, dan keberpihakan pada mereka yang dilemahkan. Al-Qur’an berulang kali mengingatkan agar harta tidak berputar di kalangan tertentu saja, dan agar manusia tidak menutup mata dari penderitaan di sekitarnya.

 

Kesabaran yang diajarkan agama bukan alasan untuk menerima ketimpangan, melainkan kekuatan untuk memperjuangkan perubahan. Tawakal selalu datang setelah ikhtiar, dan doa tidak pernah dimaksudkan untuk menggantikan tanggung jawab sosial. Iman, dalam pengertian ini, bukan sekadar keyakinan batin, tetapi keberanian moral untuk bertindak adil.

 

Maka jika kemiskinan terus diwariskan hari ini, yang patut kita renungkan bukan keimanan orang-orang yang hidup dalam kekurangan, melainkan sejauh mana keadilan sungguh kita hadirkan dalam kebijakan dan kehidupan bersama. Sebab iman yang hidup tidak diukur dari banyaknya nasihat, tetapi dari keberanian menolak kezaliman.

 

Karena dalam pandangan Islam, keadilan bukan sekadar nilai langit, melainkan tugas bumi. Ia tidak turun sebagai takdir, tetapi harus diperjuangkan oleh manusia yang mengaku beriman.

 

Post a Comment

أحدث أقدم