Pemberdayaan yang Mengingatkan, Bukan Menggantikan



Ada satu kesalahan yang terus diulang dalam banyak praktik pemberdayaan: kita terlalu sibuk ingin mengubah, sampai lupa bahwa yang paling dibutuhkan sering kali hanyalah diingatkan. Program datang dengan desain rapi, indikator jelas, dan tenggat waktu yang ketat, seolah kehidupan manusia bisa disusun ulang seperti tabel logframe. Padahal, masyarakat bukan halaman kosong. Mereka adalah naskah panjang yang sebagian halamannya dilipat, dikoyak, atau sengaja diabaikan.

 

Pemberdayaan yang bermakna tidak dimulai dari memberi, melainkan dari mengembalikan—mengembalikan ingatan bahwa mereka pernah mampu, pernah bertahan, dan pernah mengatur hidup dengan caranya sendiri. Kesadaran semacam ini tidak tumbuh dari ceramah atau pelatihan, tetapi dari pengakuan. Dari keberanian pendamping untuk duduk sejajar, mendengar lebih lama, dan menahan diri untuk tidak buru-buru menyimpulkan. Di titik inilah martabat manusia dipulihkan: ketika ia tidak lagi diposisikan sebagai masalah yang harus diperbaiki, melainkan sebagai subjek yang sedang mengingat kembali dayanya sendiri.

 

Namun ingatan saja tidak cukup. Banyak komunitas mengingat kemampuannya dalam kondisi yang rapuh—terkikis oleh kemiskinan struktural, kebijakan yang menjauh, dan pengalaman gagal yang berulang. Maka pemberdayaan berlanjut sebagai proses penguatan. Bukan penguatan instan, bukan pula paket keterampilan siap pakai, melainkan pendampingan yang sabar dan konsisten. Menegakkan kembali kepercayaan diri, memperbaiki relasi sosial yang retak, dan memperluas kemampuan berpikir serta bertindak. Penguatan semacam ini tidak cocok dengan pendekatan kejar target, sebab yang sedang dibangun bukan sekadar keterampilan, tetapi keberanian untuk mencoba lagi tanpa rasa takut dipermalukan.

 

Ketika kesadaran mulai tumbuh dan kapasitas mulai menguat, pemberdayaan diuji pada satu hal yang paling menentukan: apakah masyarakat benar-benar diberi ruang untuk memilih. Di sinilah banyak program tersandung. Pendayaan sering kali berhenti pada simbol—rapat partisipatif, tanda tangan daftar hadir—tanpa benar-benar menyerahkan keputusan. Padahal esensi pendayaan justru terletak pada keberanian memberi ruang bagi masyarakat untuk menentukan arah hidupnya sendiri, termasuk memilih jalan yang tidak selalu sejalan dengan rencana pendamping. Bahkan termasuk hak untuk salah. Sebab belajar tanpa risiko hanyalah simulasi, bukan kehidupan.

 

Di titik penentuan inilah pemberdayaan harus berani menuju satu tahap yang kerap ditakuti: kemandirian. Bukan kemandirian yang ditinggalkan begitu saja, tetapi kemandirian yang dijaga jaraknya. Pendamping mundur selangkah, bukan karena tidak peduli, melainkan karena percaya. Sayangnya, tidak sedikit program yang justru memelihara ketergantungan secara halus—karena keberhasilan sering diukur dari keberlanjutan proyek, bukan dari kemampuan masyarakat berjalan tanpa penyangga. Di titik ini, pemberdayaan berubah menjadi relasi yang timpang: rapi dalam laporan, rapuh dalam kehidupan.

 

Dengan demikian, pemberdayaan bukan soal metode, apalagi sekadar tahapan. Ia adalah soal etika. Soal keberpihakan yang jujur dan kerendahan hati untuk tidak merasa paling tahu. Dalam napas religius, pemberdayaan adalah ikhtiar memuliakan manusia sebagaimana ia diciptakan: berdaya, bermartabat, dan bertanggung jawab atas pilihannya sendiri. Jika tidak, kita hanya akan terus mengganti ketergantungan lama dengan ketergantungan baru—lalu menyebutnya keberhasilan.

 

Post a Comment

أحدث أقدم