Pendampingan dalam Cengkeraman Pasar

 


Pasar kerap dipuja sebagai sistem paling rasional dalam mengatur kehidupan ekonomi. Ia bekerja melalui mekanisme yang tampak sederhana: permintaan bertemu penawaran, harga pun terbentuk. Dalam logika ini, manusia diasumsikan rasional dan adaptif. Negara cukup menjadi pengatur lalu lintas, selebihnya biarkan pasar bekerja.

 

Namun pengalaman mendampingi kelompok-kelompok ekonomi rakyat dan beberapa BUMDes membuat saya memahami satu hal penting: pasar tidak pernah benar-benar netral. Ia selalu datang bersama relasi kuasa, modal, dan akses yang timpang. Di ruang inilah janji kesejahteraan sering kali berubah menjadi ilusi.

 

Dalam pendampingan kelompok usaha desa, saya berhadapan dengan warga yang sebenarnya memiliki pengetahuan lokal, etos kerja, dan solidaritas yang kuat. Mereka diajak membentuk kelompok, menyusun rencana usaha, memperbaiki kemasan, hingga membuka akun di platform digital. Semua tahapan pendampingan berjalan sesuai modul. Laporan pun tampak meyakinkan.

 

Masalah mulai muncul ketika produk mereka benar-benar masuk pasar. Harga bahan baku dikendalikan pihak luar. Akses distribusi terbatas. Produk mereka harus bersaing dengan barang sejenis yang diproduksi massal oleh pemodal besar. Dalam situasi ini, pasar tidak memberi ruang belajar, melainkan langsung memberi vonis: kalah atau bertahan dengan margin yang nyaris tak manusiawi.

 

Pendamping sering kali berada pada posisi serba salah. Di satu sisi, kami dituntut menunjukkan keberhasilan program. Di sisi lain, realitas pasar memperlihatkan bahwa kegagalan kelompok usaha bukan semata soal kapasitas, melainkan soal struktur. Namun struktur jarang masuk dalam indikator keberhasilan.

 

Pengalaman serupa saya temui saat mendampingi BUMDes. Banyak BUMDes dibentuk dengan semangat besar: menjadi penggerak ekonomi desa, memperkuat kemandirian, dan menahan laju ketergantungan pada pihak luar. Namun ketika unit usaha mulai berjalan, BUMDes justru dihadapkan pada persaingan yang tidak seimbang. Modal terbatas, jaringan sempit, dan regulasi sering kali tidak berpihak.

 

Dalam beberapa kasus, BUMDes dipaksa “berpikir pasar” secara sempit: mengejar keuntungan cepat, meniru model usaha kota, atau mengikuti tren tanpa basis kebutuhan lokal. Ketika usaha tidak berkembang, yang dipersoalkan adalah manajemen BUMDes, bukan ekosistem pasar yang menekan dari berbagai arah.

 

Pendampingan, dalam situasi ini, perlahan kehilangan daya kritisnya. Ia lebih sering menjadi alat adaptasi, bukan alat pembebasan. Tugas pendamping bukan lagi mempertanyakan mengapa pasar begitu timpang, melainkan bagaimana warga bisa tetap bertahan di dalamnya. Pasar diperlakukan sebagai keniscayaan, bukan sebagai sistem yang bisa dan harus dikoreksi.

 

Saya juga menyaksikan bagaimana petani dampingan diarahkan menanam komoditas tertentu karena “harga pasar sedang bagus”. Data dan proyeksi dijadikan pegangan. Namun ketika panen tiba dan harga jatuh, pasar kembali berbicara dengan bahasa yang dingin. Risiko sepenuhnya ditanggung petani, sementara mata rantai distribusi tetap aman.

 

Dalam pengalaman-pengalaman itu, saya sampai pada satu kesimpulan getir: pendampingan sering kali bekerja di bawah cengkeraman pasar. Ia hadir untuk merapikan dampak, bukan mengubah sebab. Ia menenangkan kegelisahan rakyat, tetapi jarang diberi ruang untuk menggugat ketimpangan yang menjadi sumbernya.

 

Padahal, kesejahteraan yang berkelanjutan tidak lahir dari kemampuan rakyat beradaptasi tanpa batas. Ia hanya mungkin tumbuh jika masyarakat memiliki kontrol atas sumber daya dan proses ekonomi yang menentukan hidupnya. Pasar seharusnya menjadi alat, bukan penentu nasib. Negara seharusnya hadir bukan sekadar sebagai fasilitator, melainkan sebagai penjamin keadilan.

 

Jika pendampingan terus dibiarkan berjalan tanpa keberanian politik dan keberpihakan struktural, ia akan tetap menjadi kerja administratif yang rapi, namun miskin makna. Ia membantu rakyat bertahan, tetapi tidak pernah benar-benar membebaskan.

 

Pendampingan seharusnya berdiri di sisi yang lebih berani: berpihak pada rakyat, menggugat struktur pasar yang timpang, dan menempatkan manusia—bukan harga—sebagai pusat dari seluruh proses pembangunan.

 

Post a Comment

أحدث أقدم