Aktivis Viral, Masyarakat Tetap Tertinggal

 


Aktivisme hari ini sering diukur dari seberapa cepat ia menyebar.

Aksi direkam, dipotong rapi, lalu dibagikan.

Viral menjadi penanda keberhasilan,

sementara sunyi dianggap kegagalan.

 

Saya pernah ikut percaya pada logika itu.

Semakin ramai dukungan, saya kira, semakin dekat perubahan.

Namun di lapangan, masyarakat tidak pernah bertanya apakah perjuangan mereka viral.

Yang mereka tanyakan jauh lebih sederhana:

apakah hidup mereka benar-benar berubah, meski sedikit?

 

Di banyak tempat, persoalan tetap sama,

sementara wajah-wajah aktivis berganti isu dengan cepat.

Hari ini keadilan sosial,

besok lingkungan,

lusa demokrasi.

Semua penting,

tetapi jarang dituntaskan sampai akhir.

 

Media sosial bukan musuh.

Ia alat yang bisa memperluas suara yang selama ini terpinggirkan.

Masalah muncul ketika **viral menjadi tujuan**,

bukan lagi sarana.

 

Isu kemudian dipilih karena mudah dikemas.

Penderitaan direkam,

narasi disederhanakan,

lalu ditinggalkan demi isu lain yang lebih menjanjikan perhatian.

Masyarakat kembali sendiri,

menghadapi sistem yang sama,

tanpa pendampingan yang konsisten.

 

Aktivisme semacam ini menciptakan jarak baru.

Suara aktivis terdengar ke mana-mana,

sementara suara masyarakat justru tenggelam.

Atas nama advokasi,

kami berbicara mewakili,

namun lupa mengembalikan ruang bicara itu kepada pemiliknya.

 

Nama aktivis dikenal,

wajahnya beredar,

sementara masyarakat tetap anonim,

cukup disebut sebagai “warga terdampak” atau “korban kebijakan”.

Di titik ini, aktivisme berisiko berubah menjadi panggung,

bukan lagi ruang perjuangan bersama.

 

Menjadi aktivis, bagi saya hari ini,

bukan soal seberapa cepat merespons isu,

melainkan seberapa lama bersedia tinggal

saat sorotan meredup dan dukungan berkurang.

 

Perubahan sosial tidak pernah benar-benar viral.

Ia tumbuh pelan,

melewati konflik,

kelelahan,

dan kesabaran yang jarang menarik perhatian.

 

Jika aktivisme hari ini terasa jauh dari masyarakat,

barangkali masalahnya bukan kurangnya keberanian bersuara,

melainkan hilangnya kesediaan

untuk berjalan bersama lebih lama.

 

Karena ketika aktivis sibuk menjadi viral,

masyarakat bisa saja tetap tertinggal—

menunggu kehadiran yang tidak datang

bersama kamera dan slogan,

melainkan bersama komitmen yang setia.

 

Post a Comment

Previous Post Next Post