Yang Tak Tercatat, Tapi Bekerja



Saya belajar tentang energi masyarakat bukan dari buku panduan, melainkan dari desa-desa yang saya datangi. Dari balai yang sepi, dari tikar yang digelar tanpa kepastian, dari rapat yang lebih sering dimulai dengan diam daripada kata-kata. Di sanalah saya pertama kali memahami bahwa yang paling menentukan dalam pendampingan justru sering kali tidak pernah tercatat.


Di sebuah desa, saya pernah datang membawa rencana. Jadwal rapi, tujuan jelas, dan keyakinan bahwa semuanya bisa dijalankan asal disepakati bersama. Namun pertemuan pertama berjalan datar. Warga hadir, duduk, mendengar, lalu pulang. Tidak ada penolakan, tetapi juga tidak ada kehidupan. Saya mencatat kehadiran mereka, tetapi gagal membaca apa yang tidak hadir.


Baru setelah beberapa waktu tinggal dan mendengar, saya menyadari bahwa desa itu tidak kekurangan ide. Mereka hanya lelah. Terlalu sering didatangi, terlalu sering dijanjikan, dan terlalu sering ditinggalkan. Energi mereka tidak hilang. Ia hanya menepi, menunggu untuk tidak kembali dikecewakan.


Saya mulai belajar untuk hadir tanpa tergesa ingin memperbaiki. Duduk di teras rumah, ikut mendengar cerita tentang sawah yang tak lagi seproduktif dulu, tentang anak-anak yang memilih pergi, tentang masa ketika kerja bakti masih terasa ringan. Di sela cerita-cerita itu, selalu ada kalimat yang pelan tapi tegas: dulu kita bisa. Di situlah saya menemukan energi itu—kecil, tetapi bertahan.


Di desa lain, energi itu saya temukan pada orang-orang yang jarang bicara. Mereka datang lebih awal, pulang paling akhir, dan tidak pernah mencatat namanya sebagai pengurus. Mereka tidak mengklaim apa pun, tetapi tetap tinggal ketika yang lain pergi. Dari mereka saya belajar bahwa energi masyarakat sering bersemayam pada mereka yang tidak merasa perlu disebut tahu.


Saya juga belajar membaca energi dari suasana. Dari tawa yang muncul tanpa diminta. Dari perdebatan yang berlangsung tanpa saling meninggalkan. Dari cara orang mulai menyebut kegiatan itu sebagai *punya kita*, bukan lagi *program mereka*. Saat kata *kita* mulai digunakan dengan hati-hati, saya tahu sesuatu sedang bekerja.


Energi masyarakat tidak pernah datang dalam bentuk ledakan semangat. Ia tumbuh pelan, sering kali nyaris tak terlihat. Ia menguat bukan karena pidato atau poster, melainkan karena pengalaman kecil yang adil. Keputusan yang dibicarakan bersama. Janji yang ditepati. Peran yang dibagi tanpa merasa lebih penting.


Saya juga melihat bagaimana energi itu bisa hilang. Bukan karena konflik, melainkan karena ketidakjujuran yang dibiarkan. Karena proses yang tertutup. Karena satu dua orang merasa lebih berhak menentukan arah. Energi tidak pergi dengan marah. Ia pergi dengan diam.


Di desa, saya belajar bahwa tugas pendamping bukanlah menyalakan api, melainkan menjaga bara. Tidak terlalu meniup, tidak pula membiarkannya mati. Cukup memberi ruang, cukup memberi waktu, dan cukup rendah hati untuk tidak selalu berada di depan.


Energi masyarakat memang tidak abadi. Ia bisa melemah, bahkan padam. Namun selama orang-orang masih mau duduk bersama, masih berani saling bicara, dan masih menyebut sesuatu sebagai milik bersama, energi itu akan tetap bekerja. Tanpa laporan, tanpa angka, tanpa tepuk tangan.


Dan mungkin, di situlah letak kekuatannya: yang tak tercatat, tapi bekerja




Post a Comment

أحدث أقدم