Kita Bangun Mall, Kita Wariskan Banjir

 



Di meja-meja rapat, angka-angka disusun rapi, Pajak Hotel, Restoran, Hiburan, Reklame, Penerangan Jalan, hingga PBB P2, BPHTB, dan PBJT. Negara merapikannya melalui Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, sementara daerah melengkapinya dengan retribusi jasa umum, jasa usaha, dan perizinan. Semuanya tampak lengkap, seolah tidak ada yang terlewat.

 

Lampung pun bertumpu pada sektor yang kita kenal, perdagangan, industri pengolahan, serta pertanian dan perkebunan. Kopi, lada, singkong, dan sawit menjadi nadi ekonomi yang menghidupi angka-angka itu. Namun di balik kerapian itu, ada satu hal yang jarang kita hitung dengan sungguh-sungguh.

 

Ada sektor yang tidak menarik dibicarakan, namun justru menyentuh kebutuhan paling dasar manusia, Layanan Lumpur Tinja Terjadwal LLTT. Ia tidak gemerlap, tidak menjulang, dan tidak menghadirkan kebanggaan visual. Tapi di situlah ironi kita, yang paling penting justru yang paling sering kita abaikan.

 

Mari kita turunkan ia dari wacana menjadi angka. Semisal dari 300.000 kepala keluarga jadi jumlah Kepala Keluarga atau rumah tangga di satu kabupaten/kota, ambil 30 persen saja sebagai target, maka ada 90.000 KK. Dengan siklus layanan tiga tahunan, sekitar 30.000 layanan terjadi setiap tahun. Dengan tarif Rp300.000, potensi kotor mencapai Rp9 miliar. Setelah dikurangi biaya operasional 50 persen, tersisa Rp4,5 miliar PAD bersih per tahun. Jika cakupan naik menjadi 60 persen, angka itu bisa mendekati Rp9 miliar, belum termasuk sektor non rumah tangga yang bisa menambah hingga Rp1,8 miliar.

 

Lebih jauh lagi, LLTT tidak berhenti pada layanan. Lumpur yang diolah dapat menjadi pupuk untuk pertanian, membuka sumber pendapatan baru. Instalasi pengolahan pun bisa menjadi ruang edukasi publik, seperti yang terlihat di IPLT Sewon di Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, yang mengubah limbah menjadi pengetahuan dan nilai ekonomi.

 

Namun ada satu hal yang sering kita lupakan, bahkan sebelum bicara soal PAD. Tangki septik yang bocor dan tidak pernah disedot bukan sekadar masalah teknis, ia adalah ancaman nyata bagi kesehatan. Limbah yang meresap ke tanah dapat mencemari air, membawa bakteri seperti Escherichia coli, terutama jenis patogen seperti O157 H7, yang dapat mengontaminasi makanan dan air. Dampaknya tidak ringan, diare berdarah, kram perut hebat, muntah, dan pada kasus serius dapat berkembang menjadi Hemolytic Uremic Syndrome, gagal ginjal akut yang bisa berujung fatal. Di titik ini, kita tidak lagi bicara tentang layanan, tetapi tentang keselamatan.

 

Di titik ini, angka berbicara jujur. Maka tidak berlebihan jika dalam sebuah forum, muncul hitungan yang menunjukkan potensi hingga Rp20 miliar per tahun dari LLTT, tentu dengan syarat sistem berjalan, cakupan meningkat, dan pengelolaan dilakukan dengan serius.

 

Namun LLTT tidak akan hidup hanya dengan angka. Ia membutuhkan kehadiran negara yang nyata. Tangki septik kedap harus menjadi standar, pengelola minimal setingkat UPTD harus berdiri kuat, IPLT harus berfungsi, armada harus tersedia, dan manajemen harus rapi. Lebih dari itu, layanan ini harus terus diperkenalkan tanpa lelah kepada masyarakat.

 

Lalu kita kembali pada judul yang terasa sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan luka panjang, kita bangun mall, kita wariskan banjir. Kita kejar retribusi, kita hitung pajak dari setiap transaksi, tetapi pada saat yang sama kita menimbun daerah resapan air. Tanah yang seharusnya menyerap, kita tutup dengan beton. Air kehilangan jalan pulang. Dan ketika hujan datang, kita pura-pura terkejut melihat genangan yang terus berulang. Ini bukan bencana yang datang tiba-tiba, ini adalah hasil dari keputusan yang kita anggap sebagai pembangunan.

 

Yang megah tidak selalu membawa kebaikan. Sering kali justru ia menyisakan beban ekologis yang lebih mahal daripada pendapatan yang dihasilkan. Kita mendapatkan PAD hari ini, tetapi membayar dengan banjir yang datang berulang di hari esok.

 

Di sinilah LLTT menemukan maknanya yang lebih dalam. Ia bukan sekadar sumber PAD, tetapi cara kita menjaga kesehatan, melindungi lingkungan, dan memperbaiki hubungan kita dengan bumi. Ia mungkin tidak terlihat indah, tetapi justru menyelamatkan.

 

Barangkali selama ini kita terlalu sibuk mengejar yang terlihat, dan lupa merawat yang menentukan. Padahal, yang kotor bisa menyelamatkan, dan yang megah, jika tidak dikendalikan, bisa menenggelamkan.

 

Catatan di Hari Bumi, mungkin bukan soal seremoni atau janji. Tetapi tentang keberanian untuk mengubah arah. Karena bumi tidak pernah salah, ia hanya memantulkan kembali apa yang kita lakukan padanya.

Post a Comment

Previous Post Next Post