Beberapa waktu lalu saya bertemu dengan seorang kenalan
lama saat sama-sama mengantar anak mengikuti tes masuk SMAN 2 Bandar Lampung
melalui jalur prestasi. Seperti kebanyakan orang tua lainnya, kami duduk
menunggu sambil berbincang tentang keluarga, pekerjaan, dan harapan untuk masa
depan anak-anak.
Di tengah obrolan, ia bercerita bahwa saat ini dirinya
dipercaya menjadi salah satu dewan komisaris di sebuah bank swasta di Lampung.
Saya tentu ikut senang mendengarnya. Jabatan tersebut bukanlah sesuatu yang
datang begitu saja. Sebelum berada di posisi sekarang, ia telah lama
berkecimpung sebagai pengusaha rental alat berat dan pengembang perumahan.
Namun di luar dugaan, ia justru mengatakan bahwa jabatan
yang kini disandang tidak senyaman yang dulu ia bayangkan.
Menurutnya, semakin tinggi posisi seseorang, semakin
banyak pula orang yang merasa memiliki kepentingan terhadap dirinya. Mobil
dinas ada, sekretaris ada, berbagai fasilitas tersedia. Tetapi ada satu hal
yang justru semakin sulit didapatkan: ketenangan.
"Sekarang saya lebih nyaman tampil seperti orang
biasa," katanya.
Ia mengaku lebih suka berpakaian sederhana, datang ke
suatu tempat tanpa banyak menarik perhatian, dan berusaha menjalani aktivitas
sehari-hari senormal mungkin. Bukan karena tidak mampu tampil mewah, tetapi
karena ia ingin hidup lebih tenang.
Lalu ia mengucapkan sebuah kalimat yang membuat saya
tersenyum sekaligus berpikir panjang.
"Lebih baik terlihat biasa-biasa saja, tapi tidak
ada yang mengganggu. Daripada terlihat necis, lalu dompet habis karena setiap
hari ada saja yang minta."
Kami tertawa. Namun saya tahu, kalimat itu lahir dari
pengalaman.
Di negeri ini, terkadang kesederhanaan bukan lagi sekadar
gaya hidup. Kesederhanaan menjadi cara untuk menjaga ketenangan. Sebab ada
orang yang terlalu cepat menilai isi dompet dari penampilan, terlalu cepat
menghitung kemampuan seseorang dari jabatan yang disandang, dan terlalu cepat
datang membawa berbagai kepentingan.
Ironisnya, sebagian bahkan datang dengan atribut yang
terdengar terhormat. Ada yang mengaku wartawan, aktivis, atau mewakili lembaga
tertentu. Tentu tidak semua demikian. Masih banyak wartawan dan aktivis yang
bekerja dengan integritas dan memperjuangkan kepentingan masyarakat. Namun
keberadaan segelintir oknum sering kali membuat orang merasa tidak nyaman.
Akibatnya, tidak sedikit orang yang berhasil justru
memilih menyembunyikan keberhasilannya. Mereka tidak lagi merasa perlu
menunjukkan apa yang dimiliki. Mereka sadar bahwa perhatian yang berlebihan
sering kali menghadirkan masalah yang tidak perlu.
Dalam perjalanan pulang, saya terus mengingat percakapan
itu. Saya menyadari bahwa selama ini banyak orang mengejar jabatan, kekayaan,
dan penghormatan karena mengira semua itu akan menghadirkan kebahagiaan yang
sempurna.
Padahal setelah semua itu berhasil diraih, yang sering
dicari justru sesuatu yang sangat sederhana: hidup yang tenang.
Mungkin itulah sebabnya sebagian orang yang benar-benar
berhasil justru tampil sederhana. Mereka telah memahami bahwa kemewahan tidak
selalu berbentuk kendaraan mahal, kantor megah, atau jabatan tinggi.
Kemewahan yang sesungguhnya adalah ketika seseorang masih
bisa menikmati hidup tanpa merasa menjadi sasaran berbagai kepentingan. Ketika
ia masih bisa berjalan dengan tenang, duduk dengan nyaman, dan diperlakukan
sebagai manusia, bukan sebagai peluang.
Dari pertemuan singkat itu saya belajar satu hal. Setelah
manusia memperoleh banyak hal dalam hidupnya, ternyata yang paling dirindukan
bukanlah kemewahan yang lebih besar.
Melainkan kesempatan untuk tetap menjadi orang biasa.
Karena ternyata, menjadi biasa itu mewah.
Post a Comment