Balada Fasilitator 2

 



Konon, ukuran kewenangan seseorang di negeri ini dapat dilihat dari luas ruang kerjanya, empuk kursinya, banyaknya staf yang mondar-mandir di depan mejanya, serta panjang gelar yang tercantum di bawah namanya. Semakin besar ruangan, semakin tinggi kewibawaan. Semakin banyak bawahan, semakin kuat pengaruhnya. Setidaknya begitulah yang sering tampak di permukaan.

 

Namun ada satu makhluk birokrasi yang tampaknya luput dari rumus tersebut.

 

Namanya fasilitator.

 

Secara de jure, kewenangannya kadang hanya dibuktikan oleh secarik Surat Perintah Tugas yang merupakan turunan dari kontrak kerja yang telah ditandatangani. Tidak ada ruang kerja mewah yang melekat pada surat itu. Tidak ada kendaraan dinas yang ikut keluar bersama lembarannya. Bahkan terkadang ketebalan surat tugasnya kalah jauh dibandingkan tumpukan pekerjaan yang harus diselesaikannya.

 

Anehnya, di lapangan sering terjadi hal yang berbeda.

 

Ada kepala dinas yang memiliki ruangan luas, ada pejabat yang memiliki struktur lengkap, ada pegawai yang memiliki status tetap dan jaminan karier yang jelas. Tetapi ketika sebuah program mulai ditanya datanya, ditagih progresnya, dicari persoalannya, atau diminta jalan keluarnya, mendadak semua mata mengarah kepada orang yang hanya memegang secarik surat tugas tadi.

 

Mungkin karena dalam praktiknya, pembangunan tidak selalu berjalan berdasarkan siapa yang paling tinggi jabatannya, melainkan siapa yang paling memahami pekerjaan yang sedang dikerjakan.

 

Maka lahirlah ironi yang cukup unik.

 

Secara de facto, kewenangan seorang fasilitator sering kali terasa melampaui seorang kepala dinas. Bukan karena ia memiliki kuasa formal, melainkan karena ia memegang pengetahuan, data, dan pemahaman teknis yang menjadi urat nadi sebuah program. Terlebih ketika mitra kerjanya di lingkungan birokrasi kebetulan lebih terbiasa menerima hasil jadi daripada memahami proses. Mereka yang menunggu bahan siap, laporan siap, data siap, presentasi siap, bahkan kadang solusi pun diharapkan sudah siap sebelum persoalannya selesai dijelaskan.

 

Pada kondisi seperti itu, fasilitator berubah menjadi profesi serba guna. Menyusun konsep, mengumpulkan data, menjelaskan aturan, menenangkan masyarakat, mendampingi pemerintah daerah, hingga menjadi tempat bertanya bagi orang-orang yang secara struktur sebenarnya berada di atas dirinya.

 

Mungkin karena itulah keberadaan fasilitator tidak selalu diterima dengan perasaan yang sama oleh semua orang. Di banyak tempat mereka dianggap mitra, sahabat kerja, bahkan penyelamat ketika target mulai mengejar. Namun di tempat lain, tidak jarang ditemukan oknum pegawai yang tampak kurang berkenan dengan keberadaan fasilitator.

 

Apa sebabnya, sulit untuk dipastikan.

 

Apakah karena besaran honor yang terlihat lebih besar di atas kertas. Apakah karena secara de facto  kewenangan dan pengaruh fasilitator dalam sebuah program terkadang terasa lebih dominan sehingga dianggap menggerus peran yang seharusnya dimiliki oleh yang bersangkutan. Atau mungkin karena ada kegelisahan ketika seseorang yang hanya berbekal surat tugas justru lebih memahami pekerjaan daripada mereka yang telah lama memiliki kursi dan jabatan.

 

Yang jelas, ketidaksukaan itu sering kali tidak perlu diumumkan secara resmi. Ia terlihat dari cara menyambut yang dingin, dari bahasa tubuh yang enggan bersahabat, dari senyum yang terasa dipaksakan, atau dari kalimat-kalimat yang sesekali meluncur dengan nada merendahkan. Seolah-olah fasilitator hanyalah pelengkap yang kebetulan lewat, padahal pada saat yang sama sebagian pekerjaan yang menopang program justru berada di pundaknya.

 

Ironisnya, mereka yang terkadang paling sering mempertanyakan keberadaan fasilitator justru menjadi orang yang pertama mencarinya ketika data dibutuhkan, laporan harus diselesaikan, masyarakat mulai bertanya, atau pimpinan meminta penjelasan. Pada saat-saat seperti itu, sekat-sekat gengsi mendadak lenyap, dan fasilitator kembali menjadi orang yang dianggap paling memahami persoalan.

 

Barangkali begitulah nasib orang yang bekerja di antara kewenangan dan kebutuhan. Kehadirannya kadang dianggap mengganggu ketika semua berjalan baik-baik saja, tetapi menjadi sangat penting ketika keadaan mulai tidak baik-baik saja.

 

Ironisnya, semakin besar tanggung jawab yang dipikul, semakin kecil ruang yang sering kali diberikan kepadanya.

 

Dari sisi penghasilan, banyak orang melihat honor fasilitator dan beranggapan bahwa hidup mereka baik-baik saja. Memang benar, dalam banyak kasus honor fasilitator berada di atas rata-rata sebagian pegawai pada umumnya. Namun angka sering kali gagal bercerita tentang risiko, tekanan, dan beban yang menyertainya. Terlebih setelah berbagai pembiayaan harus menyesuaikan standar APBD yang jauh berbeda dengan masa-masa ketika program-program pembangunan masih mengacu pada standar lembaga donor dan pembiayaan internasional.

 

Yang terlihat hanya nominalnya.

 

Yang tidak terlihat adalah perjalanan panjang ke lapangan, target yang tidak mengenal hari libur, tuntutan administrasi yang terus bertambah, tekanan dari berbagai pihak, serta posisi mereka yang sering kali berdiri paling depan ketika masalah muncul tetapi menjadi orang paling belakang ketika keberhasilan dibagikan.

 

Banyak orang lupa bahwa honor yang diterima fasilitator sesungguhnya bukan hanya dibayar untuk waktu yang mereka habiskan, melainkan juga untuk risiko yang mereka tanggung. Dari atas ditekan target program, dari samping berhadapan dengan ego dan kepentingan banyak pihak, dari bawah menghadapi harapan masyarakat yang ingin segala sesuatu segera selesai. Sementara ketika keadaan tidak berjalan sesuai rencana, nama fasilitator sering kali menjadi salah satu yang pertama disebut.

 

Mungkin karena itulah banyak fasilitator memahami satu kenyataan pahit sejak awal: bahwa penghargaan dan pengakuan adalah dua hal yang berbeda.

 

Penghargaan bisa dihitung dengan angka.

 

Tetapi pengakuan sering kali bahkan tidak sempat dituliskan.

 

Di banyak tempat, penempatan fasilitator masih menjadi cerita tersendiri. Tidak semua, tentu saja. Masih ada instansi yang memperlakukan mereka secara layak dan manusiawi. Namun tidak sedikit pula yang menempatkan fasilitator layaknya pegawai kelas tiga. Jika beruntung, mereka mendapat ruang kecil dengan fasilitas seadanya. Jika tidak, mereka harus berbagi ruang kosong yang sudah lama tidak digunakan. Ada yang berada di pojok ruang rapat, ada yang dekat tangga, ada yang bersebelahan dengan gudang arsip, bahkan ada yang harus bekerja di sudut-sudut yang tidak pernah dipilih pegawai lain untuk ditempati.

 

Seolah keberadaannya penting untuk bekerja, tetapi tidak cukup penting untuk diberi tempat yang layak.

 

Padahal pada saat yang sama, ketika rapat besar dimulai, ketika evaluasi program dilaksanakan, ketika pimpinan membutuhkan data, angka, analisis, dan penjelasan, nama pertama yang dicari sering kali adalah fasilitator. Hasil kerjanya yang dipresentasikan pertama kali. Datanya yang dijadikan rujukan. Temuannya yang menjadi bahan pengambilan keputusan.

 

Sayangnya, setelah semua selesai dibacakan, tidak jarang nama fasilitator menghilang dari lembar penghargaan, dari sambutan, bahkan dari cerita keberhasilan yang kemudian beredar. Keringatnya dipakai sebagai bahan laporan, tetapi namanya tertinggal di halaman yang tidak sempat dicetak.

 

Barangkali inilah satu-satunya profesi yang bisa duduk di dekat kamar mandi pada pagi hari, tetapi menjadi narasumber utama pada siang harinya. Yang mejanya bisa berada di pojok kantor, namun pekerjaannya berada di tengah-tengah seluruh urusan. Yang namanya sering terlupakan dalam laporan keberhasilan, tetapi menjadi nama pertama yang dicari ketika masalah mulai bermunculan.

 

Dan mungkin di situlah letak balada seorang fasilitator.

 

Bahwa ukuran seseorang tidak selalu ditentukan oleh luas ruang kerjanya, panjang jabatannya, atau tebal kewenangannya di atas kertas. Sebab dalam banyak program pembangunan, ada orang-orang yang namanya jarang disebut, ruang kerjanya sering terlupakan, tetapi jejak kerjanya diam-diam menopang keberhasilan banyak orang.

 

Mereka hanya memegang secarik surat tugas.

 

Namun sering kali memikul beban yang jauh lebih berat daripada mereka yang memegang setumpuk kewenangan.

 

Mereka bukan kepala dinas. Bukan pejabat struktural. Bahkan kadang bukan siapa-siapa dalam bagan organisasi.

 

Tetapi ketika program harus tetap berjalan, masyarakat harus tetap dilayani, dan target harus tetap dicapai, merekalah yang diam-diam diminta memastikan semuanya baik-baik saja.

 

Mereka adalah fasilitator.

 

Orang-orang yang sering ditempatkan di ruang paling belakang, tetapi memikul sebagian beban terbesar di barisan paling depan.

Post a Comment

Previous Post Next Post