Konon, ukuran kewenangan seseorang di negeri ini dapat
dilihat dari luas ruang kerjanya, empuk kursinya, banyaknya staf yang
mondar-mandir di depan mejanya, serta panjang gelar yang tercantum di bawah
namanya. Semakin besar ruangan, semakin tinggi kewibawaan. Semakin banyak
bawahan, semakin kuat pengaruhnya. Setidaknya begitulah yang sering tampak di
permukaan.
Namun ada satu makhluk birokrasi yang tampaknya luput
dari rumus tersebut.
Namanya fasilitator.
Secara de jure, kewenangannya kadang hanya dibuktikan
oleh secarik Surat Perintah Tugas yang merupakan turunan dari kontrak kerja
yang telah ditandatangani. Tidak ada ruang kerja mewah yang melekat pada surat
itu. Tidak ada kendaraan dinas yang ikut keluar bersama lembarannya. Bahkan
terkadang ketebalan surat tugasnya kalah jauh dibandingkan tumpukan pekerjaan
yang harus diselesaikannya.
Anehnya, di lapangan sering terjadi hal yang berbeda.
Ada kepala dinas yang memiliki ruangan luas, ada pejabat
yang memiliki struktur lengkap, ada pegawai yang memiliki status tetap dan
jaminan karier yang jelas. Tetapi ketika sebuah program mulai ditanya datanya,
ditagih progresnya, dicari persoalannya, atau diminta jalan keluarnya, mendadak
semua mata mengarah kepada orang yang hanya memegang secarik surat tugas tadi.
Mungkin karena dalam praktiknya, pembangunan tidak selalu
berjalan berdasarkan siapa yang paling tinggi jabatannya, melainkan siapa yang
paling memahami pekerjaan yang sedang dikerjakan.
Maka lahirlah ironi yang cukup unik.
Secara de facto, kewenangan seorang fasilitator sering
kali terasa melampaui seorang kepala dinas. Bukan karena ia memiliki kuasa formal,
melainkan karena ia memegang pengetahuan, data, dan pemahaman teknis yang
menjadi urat nadi sebuah program. Terlebih ketika mitra kerjanya di lingkungan
birokrasi kebetulan lebih terbiasa menerima hasil jadi daripada memahami
proses. Mereka yang menunggu bahan siap, laporan siap, data siap, presentasi
siap, bahkan kadang solusi pun diharapkan sudah siap sebelum persoalannya
selesai dijelaskan.
Pada kondisi seperti itu, fasilitator berubah menjadi
profesi serba guna. Menyusun konsep, mengumpulkan data, menjelaskan aturan,
menenangkan masyarakat, mendampingi pemerintah daerah, hingga menjadi tempat
bertanya bagi orang-orang yang secara struktur sebenarnya berada di atas
dirinya.
Mungkin karena itulah keberadaan fasilitator tidak selalu
diterima dengan perasaan yang sama oleh semua orang. Di banyak tempat mereka
dianggap mitra, sahabat kerja, bahkan penyelamat ketika target mulai mengejar.
Namun di tempat lain, tidak jarang ditemukan oknum pegawai yang tampak kurang
berkenan dengan keberadaan fasilitator.
Apa sebabnya, sulit untuk dipastikan.
Apakah karena besaran honor yang terlihat lebih besar di
atas kertas. Apakah karena secara de facto kewenangan dan pengaruh
fasilitator dalam sebuah program terkadang terasa lebih dominan sehingga
dianggap menggerus peran yang seharusnya dimiliki oleh yang bersangkutan. Atau
mungkin karena ada kegelisahan ketika seseorang yang hanya berbekal surat tugas
justru lebih memahami pekerjaan daripada mereka yang telah lama memiliki kursi
dan jabatan.
Yang jelas, ketidaksukaan itu sering kali tidak perlu
diumumkan secara resmi. Ia terlihat dari cara menyambut yang dingin, dari
bahasa tubuh yang enggan bersahabat, dari senyum yang terasa dipaksakan, atau
dari kalimat-kalimat yang sesekali meluncur dengan nada merendahkan.
Seolah-olah fasilitator hanyalah pelengkap yang kebetulan lewat, padahal pada
saat yang sama sebagian pekerjaan yang menopang program justru berada di
pundaknya.
Ironisnya, mereka yang terkadang paling sering
mempertanyakan keberadaan fasilitator justru menjadi orang yang pertama
mencarinya ketika data dibutuhkan, laporan harus diselesaikan, masyarakat mulai
bertanya, atau pimpinan meminta penjelasan. Pada saat-saat seperti itu,
sekat-sekat gengsi mendadak lenyap, dan fasilitator kembali menjadi orang yang
dianggap paling memahami persoalan.
Barangkali begitulah nasib orang yang bekerja di antara
kewenangan dan kebutuhan. Kehadirannya kadang dianggap mengganggu ketika semua
berjalan baik-baik saja, tetapi menjadi sangat penting ketika keadaan mulai
tidak baik-baik saja.
Ironisnya, semakin besar tanggung jawab yang dipikul,
semakin kecil ruang yang sering kali diberikan kepadanya.
Dari sisi penghasilan, banyak orang melihat honor
fasilitator dan beranggapan bahwa hidup mereka baik-baik saja. Memang benar,
dalam banyak kasus honor fasilitator berada di atas rata-rata sebagian pegawai
pada umumnya. Namun angka sering kali gagal bercerita tentang risiko, tekanan,
dan beban yang menyertainya. Terlebih setelah berbagai pembiayaan harus
menyesuaikan standar APBD yang jauh berbeda dengan masa-masa ketika program-program
pembangunan masih mengacu pada standar lembaga donor dan pembiayaan
internasional.
Yang terlihat hanya nominalnya.
Yang tidak terlihat adalah perjalanan panjang ke
lapangan, target yang tidak mengenal hari libur, tuntutan administrasi yang
terus bertambah, tekanan dari berbagai pihak, serta posisi mereka yang sering
kali berdiri paling depan ketika masalah muncul tetapi menjadi orang paling
belakang ketika keberhasilan dibagikan.
Banyak orang lupa bahwa honor yang diterima fasilitator
sesungguhnya bukan hanya dibayar untuk waktu yang mereka habiskan, melainkan
juga untuk risiko yang mereka tanggung. Dari atas ditekan target program, dari
samping berhadapan dengan ego dan kepentingan banyak pihak, dari bawah
menghadapi harapan masyarakat yang ingin segala sesuatu segera selesai.
Sementara ketika keadaan tidak berjalan sesuai rencana, nama fasilitator sering
kali menjadi salah satu yang pertama disebut.
Mungkin karena itulah banyak fasilitator memahami satu
kenyataan pahit sejak awal: bahwa penghargaan dan pengakuan adalah dua hal yang
berbeda.
Penghargaan bisa dihitung dengan angka.
Tetapi pengakuan sering kali bahkan tidak sempat
dituliskan.
Di banyak tempat, penempatan fasilitator masih menjadi
cerita tersendiri. Tidak semua, tentu saja. Masih ada instansi yang
memperlakukan mereka secara layak dan manusiawi. Namun tidak sedikit pula yang
menempatkan fasilitator layaknya pegawai kelas tiga. Jika beruntung, mereka
mendapat ruang kecil dengan fasilitas seadanya. Jika tidak, mereka harus berbagi
ruang kosong yang sudah lama tidak digunakan. Ada yang berada di pojok ruang
rapat, ada yang dekat tangga, ada yang bersebelahan dengan gudang arsip, bahkan
ada yang harus bekerja di sudut-sudut yang tidak pernah dipilih pegawai lain
untuk ditempati.
Seolah keberadaannya penting untuk bekerja, tetapi tidak
cukup penting untuk diberi tempat yang layak.
Padahal pada saat yang sama, ketika rapat besar dimulai,
ketika evaluasi program dilaksanakan, ketika pimpinan membutuhkan data, angka,
analisis, dan penjelasan, nama pertama yang dicari sering kali adalah
fasilitator. Hasil kerjanya yang dipresentasikan pertama kali. Datanya yang
dijadikan rujukan. Temuannya yang menjadi bahan pengambilan keputusan.
Sayangnya, setelah semua selesai dibacakan, tidak jarang
nama fasilitator menghilang dari lembar penghargaan, dari sambutan, bahkan dari
cerita keberhasilan yang kemudian beredar. Keringatnya dipakai sebagai bahan
laporan, tetapi namanya tertinggal di halaman yang tidak sempat dicetak.
Barangkali inilah satu-satunya profesi yang bisa duduk di
dekat kamar mandi pada pagi hari, tetapi menjadi narasumber utama pada siang
harinya. Yang mejanya bisa berada di pojok kantor, namun pekerjaannya berada di
tengah-tengah seluruh urusan. Yang namanya sering terlupakan dalam laporan
keberhasilan, tetapi menjadi nama pertama yang dicari ketika masalah mulai
bermunculan.
Dan mungkin di situlah letak balada seorang fasilitator.
Bahwa ukuran seseorang tidak selalu ditentukan oleh luas
ruang kerjanya, panjang jabatannya, atau tebal kewenangannya di atas kertas.
Sebab dalam banyak program pembangunan, ada orang-orang yang namanya jarang
disebut, ruang kerjanya sering terlupakan, tetapi jejak kerjanya diam-diam
menopang keberhasilan banyak orang.
Mereka hanya memegang secarik surat tugas.
Namun sering kali memikul beban yang jauh lebih berat
daripada mereka yang memegang setumpuk kewenangan.
Mereka bukan kepala dinas. Bukan pejabat struktural.
Bahkan kadang bukan siapa-siapa dalam bagan organisasi.
Tetapi ketika program harus tetap berjalan, masyarakat
harus tetap dilayani, dan target harus tetap dicapai, merekalah yang diam-diam
diminta memastikan semuanya baik-baik saja.
Mereka adalah fasilitator.
Orang-orang yang sering ditempatkan di ruang paling
belakang, tetapi memikul sebagian beban terbesar di barisan paling depan.
Post a Comment