Konon, di negeri yang kaya program ini, ada satu jenis
manusia yang keberadaannya sering dibutuhkan tetapi jarang dianggap penting.
Namanya fasilitator. Siang hari ia mengejar progres, malam hari ia menyusun
laporan. Ketika masyarakat bertanya, ia harus menjawab. Ketika target
terlambat, ia harus mencari jalan keluar. Ketika penilaian kinerja tiba, ia
harus memastikan nilainya cukup baik agar masih dianggap layak hidup pada tahun
berikutnya. Sementara itu kontrak yang ia pegang sering kali lebih pendek
daripada daftar tugas yang harus diselesaikannya. Maka jangan heran bila banyak
fasilitator hidup dalam ironi; bekerja seperti pegawai tetap, dituntut seperti
pejabat, tetapi masa depannya ditentukan oleh selembar evaluasi yang dapat berubah
sewaktu-waktu.
Mereka berusaha menyenangkan semua pihak sekaligus,
sesuatu yang bahkan mungkin tidak mampu dilakukan para filsuf sejak zaman
dahulu. Masyarakat harus senang, pemerintah daerah harus senang, atasan harus
senang, auditor harus senang, sistem aplikasi harus senang, dan angka-angka
progres juga harus senang. Akibatnya, banyak fasilitator yang lebih hafal
jadwal pelaporan dibandingkan jadwal makan mereka sendiri. Ada yang berangkat
saat anak masih tidur dan pulang ketika anak sudah tidur kembali. Ada yang
lebih sering mendengar keluhan masyarakat daripada cerita keluarganya sendiri.
Namun semua itu dijalani dengan keyakinan sederhana bahwa pengabdian masih
memiliki tempat di negeri ini, meskipun tempatnya kadang hanya di catatan kaki
laporan.
Sayangnya, pengabdian sering kalah cepat dibandingkan
pergantian kekuasaan. Setiap rezim baru datang membawa semangat baru, istilah
baru, slogan baru, dan tentu saja model baru. Yang kemarin disebut
pemberdayaan, hari ini disebut pendampingan. Yang kemarin dianggap berhasil,
hari ini dianggap perlu disesuaikan. Yang kemarin dipuji dalam seminar, hari
ini perlahan disimpan di gudang arsip. Seolah-olah setiap pergantian
kepemimpinan harus disertai keyakinan bahwa matahari baru pertama kali terbit
di langit republik ini. Padahal masyarakat di bawah sering kali masih
menghadapi persoalan yang sama, jalan yang sama, kemiskinan yang sama, dan
kebutuhan yang sama.
Yang lebih menarik, kadang yang berubah bukan hanya nama
programnya. Orang-orangnya pun ikut berubah. Sebagian berganti posisi, sebagian
berganti seragam, sebagian lagi berganti warna pandangan sesuai arah angin
kekuasaan. Sementara fasilitator yang selama bertahun-tahun berada di lapangan
hanya bisa menyaksikan dari kejauhan. Mereka yang dahulu diminta berlari kini
diminta minggir. Mereka yang dahulu disebut ujung tombak kini perlahan dianggap
perlengkapan lama. Mereka yang bertahun-tahun menjaga denyut program tiba-tiba
diberitahu bahwa usia mereka sudah lewat, bahwa zaman sudah berubah, atau bahwa
ada kebutuhan baru yang mengharuskan mereka pergi.
Kadang sulit menolak kesan bahwa sebagian program berubah
menjadi arena yang lebih sibuk mengurus siapa yang akan masuk daripada apa yang
akan dicapai. Seolah-olah keberhasilan bukan lagi diukur dari seberapa kuat
masyarakat diberdayakan, melainkan dari seberapa banyak kursi yang berhasil
dibagikan. Yang berjibaku di lapangan bertahun-tahun perlahan tersisih,
sementara yang baru datang kadang langsung mendapat tempat terhormat. Tentu
tidak semuanya demikian, tetapi masyarakat yang setiap hari melihat kenyataan
sering kali memiliki cara sendiri untuk menarik kesimpulan.
Yang paling menyedihkan bukanlah kehilangan pekerjaan itu
sendiri. Yang paling menyedihkan adalah cara sebagian orang kehilangan
pekerjaan setelah mengabdikan usia produktifnya. Setelah bertahun-tahun menjadi
jembatan antara negara dan rakyat, setelah ribuan rapat, ribuan perjalanan, dan
ribuan persoalan berhasil mereka bantu selesaikan, mereka pergi tanpa upacara.
Tidak ada masa purnabakti. Tidak ada penghargaan atas pengabdian panjang.
Bahkan ucapan terima kasih pun kadang terasa terlalu mahal untuk diberikan.
Seolah-olah seluruh pengabdian yang pernah mereka lakukan menguap begitu saja
bersama berakhirnya kontrak.
Barangkali inilah satu-satunya profesi yang dituntut
mencintai pekerjaannya secara total tetapi tidak boleh terlalu berharap
dicintai kembali oleh sistem. Ketika dibutuhkan mereka dicari sampai ke
pelosok. Ketika tidak dibutuhkan mereka dilepas begitu saja. Ketika program
berhasil, keberhasilan itu milik banyak pihak. Tetapi ketika ada masalah,
fasilitator sering menjadi alamat pertama yang dituju. Mereka seperti jembatan
yang setiap hari dilewati banyak orang, namun baru disadari keberadaannya
ketika mulai retak.
Padahal idealnya kerja-kerja pemberdayaan dijauhkan dari
aroma politik praktis. Sebab kemiskinan tidak memilih partai. Keterbelakangan
tidak memilih warna bendera. Ketimpangan tidak bertanya siapa yang menang
pemilu. Masyarakat membutuhkan pendamping yang bekerja karena kompetensi,
pengalaman, dan dedikasi, bukan karena kedekatan dengan kekuasaan yang sifatnya
sementara. Program boleh berganti nama, menteri boleh berganti, kepala daerah
boleh berganti, tetapi semangat mendampingi masyarakat seharusnya tidak ikut
berganti setiap lima tahun sekali.
Karena pada akhirnya, yang dibutuhkan masyarakat bukanlah
pendamping yang paling dekat dengan pusat kekuasaan, melainkan pendamping yang
paling dekat dengan denyut kehidupan rakyat. Mereka yang telah menjiwai
pekerjaan ini seharusnya diberi kesempatan untuk terus melanjutkan
pengabdiannya sepanjang masih memenuhi syarat dan masih mampu bekerja dengan
baik. Sebab membangun kepercayaan masyarakat membutuhkan waktu yang panjang,
sementara menghancurkannya hanya membutuhkan satu keputusan administratif yang
ditandatangani dalam hitungan menit.
Mungkin itulah sebabnya balada fasilitator selalu
terdengar sendu. Ia bukan kisah tentang gaji besar atau jabatan tinggi. Ia
adalah kisah tentang orang-orang yang menghabiskan sebagian hidupnya untuk memastikan
program sampai kepada masyarakat, lalu suatu hari menyadari bahwa negara yang
mereka layani begitu lama bahkan tidak sempat mengucapkan, "Terima kasih,
engkau telah bekerja dengan baik." Dan dalam kesunyian itulah mereka
belajar memahami satu kenyataan yang pahit: bahwa di negeri ini, kadang yang
paling mudah dilupakan justru mereka yang paling lama mengabdi.
Post a Comment