Setiap kali berbicara tentang kemajuan bangsa, kita
hampir selalu sepakat bahwa sumber daya manusia unggul adalah kuncinya. Jalan
bisa dibangun, gedung bisa didirikan, teknologi bisa dibeli, tetapi manusia
yang jujur, cerdas, berkarakter, dan bertanggung jawab tidak bisa dibangun
secara instan. Ia membutuhkan waktu, keteladanan, dan kehadiran.
Karena itu, saya sering bertanya dalam hati: jika SDM
unggul begitu penting bagi masa depan Indonesia, sudahkah kita memberi ruang
yang cukup bagi mereka yang menjadi sekolah pertama bagi anak-anak, yaitu orang
tua?
Indonesia memiliki banyak hari libur nasional. Semua
memiliki makna dan sejarah yang patut dihormati. Namun di tengah banyaknya hari
yang kita peringati, belum banyak ruang yang secara khusus mengingatkan bahwa
mendampingi pendidikan anak juga merupakan bagian penting dari pembangunan
bangsa.
Padahal ada hari-hari yang bagi seorang anak jauh lebih
besar daripada tanggal merah di kalender. Hari pertama masuk sekolah. Hari
mengikuti tes masuk sekolah impian. Hari ujian. Hari perlombaan. Hari wisuda.
Hari sidang skripsi. Hari ketika masa depan terasa begitu dekat sekaligus
menegangkan.
Pada saat-saat seperti itu, sering kali yang dibutuhkan
anak bukan tambahan rumus atau teori. Mereka hanya ingin tahu bahwa ada
seseorang yang percaya kepada mereka. Dan orang itu biasanya adalah ayah atau
ibunya.
Sayangnya, tidak semua orang tua memiliki keleluasaan
untuk hadir. Banyak yang harus meminta izin terlebih dahulu kepada tempat
mereka bekerja. Ada yang harus menukar jadwal. Ada yang terpaksa mengubur
keinginan mendampingi anak karena kewajiban pekerjaan yang tidak bisa
ditinggalkan. Tentu tidak ada yang salah dengan aturan dan disiplin kerja.
Namun di sinilah kita perlu merenung bersama: apakah pembangunan manusia cukup
hanya dilakukan di ruang kelas, sementara ruang bagi keluarga untuk terlibat
masih sangat terbatas?
Beberapa waktu lalu publik menaruh perhatian pada momen
ketika Anies Baswedan mengantarkan anaknya ke sekolah. Terlepas dari siapa
sosoknya, yang menyentuh sesungguhnya adalah pesan sederhana di balik peristiwa
itu: pendidikan bukan hanya urusan sekolah, tetapi juga urusan kehadiran.
Sebab ada hal-hal yang tidak tercatat dalam rapor, tetapi
membekas sepanjang hidup. Seorang anak mungkin lupa soal ujian yang pernah
dikerjakannya. Namun ia tidak akan lupa bahwa ayahnya rela meluangkan waktu
untuk mengantarnya mengikuti tes masuk sekolah. Ia tidak akan lupa bahwa ibunya
menunggu berjam-jam di luar ruang ujian sambil memanjatkan doa.
Para ahli pendidikan dan psikologi telah lama
mengingatkan bahwa keterlibatan orang tua merupakan salah satu faktor penting
dalam pembentukan karakter anak. Tidak semua kenakalan remaja lahir karena
kurangnya pendampingan keluarga, tetapi banyak penelitian menunjukkan bahwa minimnya
perhatian dan keterlibatan orang tua dapat meningkatkan berbagai risiko
perilaku pada anak dan remaja.
Jika demikian, maka kehadiran orang tua sesungguhnya
bukan hanya investasi bagi prestasi akademik, tetapi juga investasi bagi
integritas. Karakter dibentuk jauh sebelum seseorang menjadi pejabat,
pengusaha, atau pemimpin. Ia tumbuh dari kebiasaan kecil, dari nasihat yang
berulang, dari keteladanan yang dilihat setiap hari.
Barangkali karena itu kita juga perlu menyadari bahwa
persoalan bangsa tidak selalu dimulai dari ruang kekuasaan. Korupsi, kolusi,
dan nepotisme tentu dipengaruhi banyak faktor, mulai dari sistem hingga
pengawasan. Namun pelaku-pelakunya pernah menjadi anak-anak yang sedang belajar
tentang kejujuran, amanah, dan tanggung jawab. Pendidikan karakter yang kuat di
rumah mungkin tidak menjamin seseorang menjadi sempurna, tetapi ia memberi
fondasi yang lebih kokoh ketika kelak menghadapi godaan kekuasaan.
Karena itu, mungkin sudah saatnya negara, kementerian,
lembaga, dan dunia kerja memberi perhatian lebih pada keterlibatan orang tua
dalam pendidikan anak. Bukan dengan menambah hari libur baru, melainkan dengan
menghadirkan kebijakan yang lebih ramah dan lebih manusiawi bagi orang tua yang
ingin mendampingi anaknya pada momen-momen penting pendidikan.
Sebab jika kita sungguh-sungguh ingin melahirkan SDM
unggul, maka perhatian kita tidak boleh berhenti pada kurikulum, gedung
sekolah, atau angka statistik pendidikan. Kita juga perlu memberi ruang bagi
kehadiran ayah dan ibu.
Karena masa depan bangsa tidak selalu lahir dari ruang
rapat dan pidato yang panjang. Kadang ia lahir dari seorang ayah yang menunggu
di teras sekolah, dari seorang ibu yang menggenggam tangan anaknya sebelum
ujian, dan dari kebijakan yang memahami bahwa mendampingi anak menjemput
cita-cita juga merupakan bagian dari membangun Indonesia.
Libur nasional memang ada banyak. Tetapi ruang untuk
bersama-sama menyiapkan masa depan bangsa, rasanya masih perlu diperbanyak.
Post a Comment